Dua dekade telah berlalu sejak peristiwa kelam 11 September 2001 dan pecahnya perang di Timur Tengah, namun dampak mematikan dari paparan racun masih terus menghantui ribuan orang. Joslin Joseph, seorang veteran Korps Marinir Amerika Serikat, melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah yang dinilai gagal memberikan perlindungan serta penanganan memadai bagi para responden pertama tragedi 9/11 dan veteran militer yang terpapar zat beracun.
Isu ini kembali menjadi sorotan hangat di Washington seiring meningkatnya angka kematian akibat penyakit pernapasan kronis dan kanker langka yang dialami para penyintas debu Ground Zero serta lubang pembakaran sampah militer terbuka atau burn pits.
Kronologi Krisis Paparan Toksik dari Masa ke Masa
Krisis kesehatan ini bukanlah insiden yang terjadi dalam semalam, melainkan akumulasi dari pengabaian standar keselamatan selama bertahun-tahun di zona bencana dan medan perang. Berikut adalah rangkaian waktu yang menyoroti meluasnya krisis ini:
- September 2001 (Tragedi World Trade Center): Runtuhnya menara kembar melepaskan ratusan ton debu beracun yang mengandung asbes, timbal, dan partikel berbahaya. Para petugas pemadam kebakaran, polisi, dan relawan bekerja berbulan-bulan di Ground Zero tanpa perlindungan respirator yang memadai.
- 2001–2021 (Operasi Militer di Irak dan Afghanistan): Militer AS mengoperasikan ratusan burn pits untuk memusnahkan berbagai limbah, mulai dari plastik, amunisi, limbah medis, hingga bangkai kendaraan menggunakan bahan bakar jet, memaparkan asap beracun kepada ratusan ribu prajurit setiap hari.
- Agustus 2022 (Pengesahan PACT Act): Pemerintah AS akhirnya mengesahkan undang-undang Promise to Address Comprehensive Toxics (PACT) Act untuk memperluas akses layanan kesehatan bagi veteran yang terkena dampak racun.
- Masa Kini: Kendati regulasi telah ada, para veteran dan responden pertama masih mengeluhkan lambatnya birokrasi, penolakan klaim medis, dan minimnya riset mendalam untuk pengobatan jangka panjang.
Kritik Pedas Veteran terhadap Lambannya Respons Negara
Joslin Joseph menegaskan bahwa negara memiliki utang moral yang besar kepada mereka yang telah mempertaruhkan nyawa di garis depan. Menurutnya, respons negara selama bertahun-tahun terkesan abai dan lamban dalam mengakui hubungan kausal antara zat kimia berbahaya dengan penyakit terminal yang menyerang para penyintas.
"Pemerintah telah gagal melindungi mereka yang siap berkorban. Dari reruntuhan Ground Zero hingga asap hitam di Timur Tengah, kita tidak boleh lagi berpaling dari krisis kesehatan nyata yang dihadapi para pahlawan kita," tegas Joslin Joseph dalam seruannya.
Dampak dari paparan zat beracun ini sangat luas dan mencakup berbagai gangguan kesehatan serius, di antaranya:
- Kanker Langka: Lonjakan kasus glioblastoma, leukemia, dan kanker sistem pernapasan pada usia yang relatif muda.
- Penyakit Paru Kronis: Bronkiolitis konstriktif, asma akut, serta penurunan fungsi paru-paru permanen.
- Gangguan Autoimun: Pelemahan sistem kekebalan tubuh yang memicu berbagai penyakit komplikasi lanjutan.
Kini, publik mendesak adanya reformasi menyeluruh dalam sistem kompensasi dan pengobatan. Penanganan dampak jangka panjang dari paparan racun dinilai bukan sekadar urusan santunan finansial, melainkan bentuk tanggung jawab fundamental negara terhadap hak hidup warganya yang telah mengabdi.
Comments (0)