Di sudut dapur berukuran tak lebih dari tiga kali empat meter itu, aroma gula merah yang dipanaskan perlahan memenuhi seluruh ruangan. Uap tipis mengepul dari panci tanah liat, membawa wangi khas yang membangkitkan ingatan akan masa kecil. Di depan tungku, seorang perempuan paruh baya terus mengaduk dengan sabar, matanya sesekali menatap bola-bola tepung beras yang mengapung satu per satu di permukaan kuah cokelat keemasan.
Namanya tidak perlu disebut panjang. Ia cukup dikenal tetangga sebagai Mbok yang selalu menyediakan jenang grendul setiap kali bulan purnama tiba. "Dulu ibu saya bilang, jenang ini bukan cuma makanan," ujarnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh gemericik air mendidih. "Ini doa yang dibungkus tepung. Setiap bola yang kami bentuk, ada harapan supaya keluarga kami tetap bulat, enggak terpecah."
Membentuk Bola-Bola Kesederhanaan
Jenang grendul memang terlihat bersahaja. Tidak ada hiasan warna-warni, tidak ada topping mewah. Hanya bola-bola kecil dari adonan tepung beras ketan yang direbus dalam kuah gula merah dan daun pandan. Namun di balik kesederhanaannya, ada proses yang menuntut kesabaran. Tepung tidak boleh langsung disiram air panas sekaligus; ia harus dituang sedikit demi sedikit sambil diuleni dengan ujung jari, hingga adonan terasa kenyal namun tidak lengket.
"Kalau terlalu banyak air, adonannya lembek. Kalau kurang, nanti keras di dalam," tutur Mbok, memperagakan gerakan tangannya yang sudah akrab dengan ritual itu sejak puluhan tahun silam. "Rasanya sudah di tangan, bukan di resep."
Setelah adonan siap, ia menggulungnya menjadi gulungan panjang di atas tampah yang ditaburi sedikit tepung. Lalu, dengan gerakan cepat, potongan-potongan kecil diputar di antara kedua telapak tangan sampai membentuk butiran bulat sebesar kelereng. Butiran-butiran itulah yang disebut grendul, yang dalam bahasa Jawa berarti bergulir atau bundar.
"Setiap bola harus dibentuk dengan tangan, bukan mesin. Karena dari tangan, ada rasa yang ikut masuk ke dalamnya. Itu yang membuat jenang ini berbeda."
Kuah Gula Merah yang Mengisahkan Waktu
Yang membuat jenang grendul istimewa justru kuahnya. Gula merah berbentuk silinder diparut halus, lalu direbus bersama air dan selembar daun pandan yang disimpul. Api harus kecil, karena gula merah mudah gosong. Sementara itu, aroma pandan berpadu dengan manisnya gula, menciptakan wangi yang mengisahkan kehangatan rumah tradisional Jawa.
Bola-bola grendul kemudian dimasukkan ke dalam kuah yang telah disaring. Mereka mengapung, menari pelan di antara gelembung-gelembung kecil. Proses ini tidak boleh lama, hanya sekitar sepuluh menit, agar grendul tetap kenyal dan tidak lembek. Sesaat sebelum diangkat, sesendok kecil tepung kanji dilarutkan untuk mengentalkan kuah, membuatnya sedikit kental namun tetap bening kecokelatan.
"Dulu, jenang ini sering dibuat waktu panen tiba. Sebagai ucapan syukur," kenangnya, mata menerawang ke arah jendela dapur yang berbingkai kayu tua. "Sekarang zaman sudah berubah. Anak-anak saya lebih suka jajan di luar. Tapi saya tetap masak, siapa tahu mereka kangen."
Perjuangan Mempertahankan Rasa yang Nyaris Hilang
Jenang grendul mungkin bukan lagi hidangan yang akrab di meja keluarga modern. Banyak generasi muda lebih mengenal dessert kekinian dengan rasa manis yang lebih tajam. Mereka jarang menyentuh jenang yang manisnya lembut dan aromanya bersahaja. Kondisi itu membuat para penjaga resep tradisional seperti Mbok berjuang sendirian.
"Pernah saya bawa ke acara kampung. Anak-anak muda pada tanya, ini apa? Ada yang bilang aneh, ada yang bilang enak," ujarnya sambil tersenyum getir. "Tapi yang bikin saya sedih waktu ada yang bilang, makanan ini kuno. Padahal ini bukan soal kuno atau modern. Ini soal kenangan."
Meski begitu, ia tidak menyerah. Setiap bulan, ia tetap membuat jenang grendul, kadang dibagikan ke tetangga, kadang dijual kecil-kecilan di warung dekat pasar. Air matanya sempat menetes ketika seorang mahasiswa dari kota datang jauh-jauh hanya untuk mencicipi dan minta diajari cara membuatnya. "Katanya mau bikin tugas soal kuliner tradisional. Saya senang bukan main," kenangnya, suara bergetar. "Berarti masih ada yang peduli."
Di tengah derasnya arus makanan instan, jenang grendul adalah pengingat bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipercepat. Prosesnya sederhana, tetapi penuh makna: menunggu air mendidih, membentuk bola-bola dengan tangan, dan menyajikannya hangat-hangat. Semua itu adalah perjalanan yang mengajarkan kesabaran dan rasa syukur.
Sore itu, ia menuang jenang grendul ke dalam mangkuk kecil. Uapnya masih mengepul. Dengan hati-hati, ia menyerahkan mangkuk itu kepada saya, tangannya yang keriput tampak hangat memegang tepi keramik. "Coba dulu. Kalau sudah dingin, rasanya beda. Ini harus dinikmati selagi hangat," ujarnya, tersenyum. Di dalam mangkuk, bola-bola grendul berkilau dalam kuah gula merah, seperti mutiara sederhana yang menyimpan sejuta cerita. Satu suapan, dan manisnya bukan hanya di lidah, tetapi juga di hati — sebuah momen mengharukan yang mengingatkan saya bahwa warisan terbaik tidak selalu megah; kadang ia hanya berupa semangkuk jenang hangat dari dapur tua.
Comments (0)