Malam itu, selembar foto hitam putih tergeletak di atas meja kayu di salah satu sudut rumah keluarga. Wajah seorang lelaki terpatri kaku di balik bingkai yang mulai pudar — sosok kakek buyut yang namanya kini kembali disebut, bukan karena kejayaan, melainkan karena bab sejarah kelam yang melekat erat padanya. Bagi keluarga Ha Young, foto itu bukan sekadar peninggalan. Ia adalah pengingat sunyi bahwa masa lalu tak pernah benar-benar pergi.
Kabar yang menerpa keluarga besar Ha Young belakangan mengguncang ketenangan yang selama ini mereka jaga. Aset serta warisan yang diwariskan turun-temurun dari kakek buyutnya terancam disita pemerintah Korea Selatan. Alasannya bukan perkara pidana biasa, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam: catatan sejarah yang menempatkan leluhur mereka sebagai tokoh kolaborator pro-Jepang semasa penjajahan.
Jejak Leluhur yang Membayangi
Kisah ini berakar pada periode kelam ketika Semenanjung Korea berada di bawah kekuasaan kolonial Jepang. Di masa itu, sebagian tokoh Korea memilih berpihak kepada penjajah — menduduki jabatan, memperoleh kekayaan, dan menikmati berbagai fasilitas yang tak terjangkau rakyat biasa. Pilihan politik mereka saat itu melahirkan luka kolektif yang diwariskan lintas generasi hingga hari ini.
Kakek buyut Ha Young termasuk dalam daftar panjang tokoh yang dinilai berkolaborasi dengan rezim penjajah. Dari posisi itu, ia mengumpulkan harta yang kelak menjadi fondasi kekayaan keluarga selama beberapa generasi. Kini, justru fondasi itulah yang goyah — karena negara menilai kekayaan tersebut bersumber dari kerja sama dengan penjajah, bukan dari perjuangan yang suci.
Payung Hukum yang Membuka Luka Lama
Pemerintah Korea Selatan sesungguhnya telah lama menyiapkan instrumen hukum untuk menuntaskan persoalan ini. Melalui undang-undang khusus tentang perampasan properti para kolaborator pro-Jepang, negara berhak menyita aset yang terbukti diperoleh leluhur melalui kolaborasi. Penelusuran dilakukan secara cermat: mulai dari arsip kolonial, catatan kepemilikan tanah, hingga silsilah para pewaris yang masih hidup.
Proses itulah yang kini menyentuh keluarga Ha Young. Bila penyelidikan menegaskan bahwa aset tersebut memang warisan langsung dari aktivitas pro-Jepang, negara dapat mengambil alihnya. Bagi pemerintah, langkah ini adalah bentuk keadilan historis — pengakuan bahwa penderitaan rakyat yang dijajah tidak boleh berakhir tanpa penyelesaian. Namun bagi keluarga yang mewarisi, langkah itu terasa seperti pengadilan ulang atas dosa yang tak pernah mereka perbuat.
Beban yang Diwariskan Tanpa Diminta
Di balik layar, keluarga-keluarga seperti milik Ha Young menjalani kehidupan dengan beban ganda. Di satu sisi, mereka mencoba hidup normal — bekerja, membesarkan anak, menjaga tradisi keluarga. Di sisi lain, nama leluhur senantiasa menghantui, siap muncul kembali setiap kali negara membuka lembaran sejarah lama.
"Kami tidak memilih untuk dilahirkan dalam silsilah ini," ungkap seorang kerabat keluarga yang enggan disebutkan identitasnya, suaranya bergetar menahan emosi. "Yang kami warisi bukan hanya tanah dan rumah, tapi juga rasa malu yang tak pernah kami minta. Setiap kali isu ini muncul, kami merasa diadili ulang oleh sejarah."
Kata-kata itu mengisahkan dilema yang dihadapi banyak keturunan kolaborator di Korea. Mereka lahir puluhan tahun setelah penjajahan berakhir, tak pernah menyentuh kekayaan tersebut secara langsung, namun harus menanggung konsekuensi moral dan hukum dari pilihan yang diambil leluhur mereka lebih dari setengah abad silam.
Hingga kini, Ha Young dan keluarganya belum mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka memilih diam, menunggu proses hukum berjalan, sambil berharap ada ruang bagi penyelesaian yang lebih manusiawi. Namun satu hal pasti: apa pun keputusan akhirnya, keluarga ini harus kembali menghadapi babak sejarah yang selama ini mereka rawat dengan hati-hati.
Kisah keluarga Ha Young menjadi pengingat bahwa sejarah tak pernah benar-benar selesai. Ia mengendap dalam silsilah, menyusup ke dinding-dinding rumah tua, dan kini hadir kembali menuntut jawaban. Di antara timbangan keadilan historis dan harapan sebuah keluarga untuk hidup damai, Korea Selatan sekali lagi diuji: bagaimana menutup luka lama tanpa melukai mereka yang tak bersalah.
Comments (0)