Di sudut ruang pamer Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, seorang perempuan paruh baya berdiri terpaku di depan sebuah kanvas besar. Lukisan itu mengisahkan anak-anak yang berlarian di ladang hijau di bawah langit senja. Perlahan, tangannya naik menyeka sudut mata yang mulai berkaca-kaca. "Saya teringat masa kecil saya di kampung, ketika hidup terasa damai dan sederhana," ujarnya pelan, nyaris berbisik. Momen mengharukan seperti itu bukan pemandangan langka di pameran Art for Peace and a Better Future Collaboration, hasil kolaborasi SBY Art Community yang berlangsung di TIM hingga 30 Agustus 2026.
Mengusung tema perdamaian dan harapan akan masa depan yang lebih baik, pameran ini memajang puluhan karya lukis dari para seniman lintas generasi. Ada sentuhan seniman muda yang penuh energi dan keberanian bereksperimen, ada pula goresan para maestro yang telah puluhan tahun menekuni dunia kanvas. Semua karya itu berkumpul dalam satu atap, dihimpun oleh SBY Art Community, komunitas yang digagas mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bagi para pengunjung, pameran ini bukan sekadar pesta visual, melainkan undangan untuk merenung: bahwa damai bisa dimulai dari hal-hal kecil, bahkan dari seurat warna di atas kanvas.
Ketika Kuas Menjadi Bahasa Perdamaian
Di tengah keramaian galeri, sosok yang paling ditunggu para pengunjung jelaslah sosok mantan presiden itu. Ia berkeliling ruangan dengan langkah santai, berhenti di depan beberapa karya, lalu berbincang hangat dengan para seniman yang hadir. Baginya, melukis bukanlah urusan prestise, melainkan cara sederhana untuk berdialog dengan diri sendiri dan dengan dunia.
"Setiap goresan kuas adalah doa saya. Lewat lukisan, saya ingin mengajak banyak orang untuk percaya bahwa damai itu mungkin, dan masa depan yang lebih baik adalah tanggung jawab kita bersama,"
Ucapnya tenang, namun menyentuh setiap pendengar yang hadir di ruangan itu. Perjalanan sang mantan pemimpin bangsa di dunia lukis memang bukan hal baru. Di sela kesibukan yang padat, ia konsisten melukis dan menjadikan kanvas sebagai ruang refleksi pribadi. Ia kerap menghabiskan malam di ruang kerjanya, mencampur warna sambil merenungkan peristiwa yang pernah ia saksikan di berbagai belahan dunia. Karya-karyanya kerap mengisahkan alam, kehidupan, dan harapan akan hari esok. Di pameran ini, lukisan-lukisannya berdiri berdampingan dengan karya para seniman tanpa jarak, seolah menyampaikan pesan bahwa di dalam seni, semua orang berdiri setara.
Di Balik Layar: Perjuangan di Balik Setiap Kanvas
Di balik layar, pameran ini menyimpan kisah-kisah perjuangan yang jarang terdengar. Salah satunya milik seorang seniman muda asal Yogyakarta yang telah delapan tahun berjuang di dunia seni. Ia pernah menjual lukisannya di pinggir jalan hanya untuk bertahan hidup, hingga akhirnya karyanya kali ini dipajang di galeri ternama ibu kota.
"Dulu saya hampir menyerah. Mimpi saya saat itu cuma satu: karya saya dilihat orang. Hari ini air mata saya jatuh, bukan karena sedih, tetapi karena bersyukur,"
Kisah serupa dihidupkan oleh para peserta lainnya. Ada yang melukis di sela pekerjaan sebagai guru, ada pula ibu rumah tangga yang menemukan kembali jati dirinya lewat kuas setelah bertahun-tahun mengurung mimpinya di lemari. Seorang peserta lain mengisahkan betapa kuas menjadi teman terdekatnya ketika hidup terasa berat, tempat ia menaruh semua cerita yang tak sanggup ia ucapkan dengan kata-kata. Bagi mereka, pameran ini adalah panggung untuk bangkit, bukti nyata bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai dan bermimpi lagi.
Mimpi Sederhana tentang Masa Depan yang Lebih Baik
Pengunjung yang datang tak sekadar menikmati lukisan. Beberapa di antara mereka berhenti lama di depan karya, membaca deskripsi yang tersedia, lalu terdiam dalam refleksi. Seorang pelajar yang datang bersama gurunya mengaku mendapatkan inspirasi baru setelah menyaksikan pameran ini. "Saya jadi percaya bahwa seni bisa mengubah cara pandang seseorang. Ternyata pesan damai bisa disampaikan tanpa suara, cukup dengan warna," katanya dengan mata berbinar. Ia berharap suatu hari nanti bisa melukis seperti para seniman di ruangan itu, lalu menyebarkan pesan yang sama kepada teman-temannya.
Hingga 30 Agustus 2026, pameran ini terbuka bagi masyarakat umum di kawasan TIM, Jakarta. Penyelenggara berharap semakin banyak orang datang, menyerap pesan dari setiap kanvas, lalu membawanya pulang ke rumah masing-masing. Sebab pada akhirnya, perdamaian tidak lahir dari pidato-pidato besar, melainkan dari hati-hati kecil yang dipersatukan, termasuk oleh goresan kuas yang sederhana namun sarat makna.
Comments (0)