Oct 10, 2026
Hukum

Warga Perbatasan Gaza Terbelah Sikapi Pemilu Israel Pasca 7 Oktober

Beritaseputar.com — Tiga tahun berlalu sejak serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, namun luka yang ditinggalkan masih terasa sangat dalam bagi

Warga Perbatasan Gaza Terbelah Sikapi Pemilu Israel Pasca 7 Oktober

Beritaseputar.com — Tiga tahun berlalu sejak serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, namun luka yang ditinggalkan masih terasa sangat dalam bagi warga yang tinggal di kawasan Gaza Envelope, wilayah Israel yang berbatasan langsung dengan Jalur Gaza. Kini, menjelang pemilihan umum, komunitas yang pernah menjadi sasaran pertama serangan itu justru terbelah tajam dalam menentukan siapa yang layak memimpin Israel. Pengalaman traumatis yang sama ternyata melahirkan kesimpulan politik yang saling bertolak belakang, bahkan di antara tetangga yang tinggal di kibbutz yang sama.

Malam Kelam yang Tak Terlupakan di Kibbutz Mefalsim

Michal Koren Kariv, seorang pembuat film berusia 50 tahun dari Kibbutz Mefalsim, mengingat pagi nahas itu dengan detail yang menyakitkan. Ketika Hamas melancarkan serangan mematikan ke komunitas-komunitas di Israel selatan, keluarganya tetap terkunci di dalam rumah sementara militan bersenjata mendekati kawasan mereka. Selama berjam-jam mereka bertahan di ruang perlindungan tanpa listrik, tanpa informasi, dan tanpa kepastian apakah mereka akan selamat.

"Saya tidak lagi percaya apa pun. Sungguh tidak ada apa pun yang bisa saya percayai lagi," ujarnya dengan nada getir, menggambarkan bagaimana pengalaman itu mengubah hubungannya dengan negara secara fundamental.

Ketika keluarga itu akhirnya bisa keluar, Koren Kariv menyaksikan kehancuran yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya. Baginya, pemilu mendatang bukan soal ideologi atau ekonomi, melainkan soal satu hal utama: akuntabilitas. Ia menuntut dibentuknya komisi penyelidikan negara untuk mengungkap mengapa 7 Oktober bisa terjadi dan siapa yang bertanggung jawab atas kegagalan keamanan terbesar dalam sejarah Israel modern.

Peta Politik yang Terbelah di Gaza Envelope

Yang membuat situasi ini menarik secara politik adalah kenyataan bahwa warga Gaza Envelope — yang paling merasakan dampak langsung serangan — tidak berbicara dengan satu suara. Sebagian menuntut pergantian kepemimpinan dan pertanggungjawaban penuh atas kelalaian yang menyebabkan ratusan warga sipil tewas. Sebagian lain justru bergeser ke kanan yang lebih keras, meyakini bahwa hanya pendekatan militer yang lebih agresif dan kepemimpinan yang lebih tegas bisa mencegah terulangnya tragedi serupa.

Perpecahan ini mencerminkan luka yang lebih dalam di tubuh masyarakat Israel. Bagi banyak warga, pemilu kali ini bukan sekadar rutinitas demokrasi, melainkan referendum atas arah negara setelah salah satu momen paling traumatis dalam sejarahnya. Berikut dinamika yang berkembang di lapangan:

  • Kelompok pertama menuntut pembentukan komisi penyelidikan negara (state commission of inquiry) untuk mengusut tuntas kegagalan intelijen dan militer pada 7 Oktober.
  • Kelompok kedua menginginkan kepemimpinan yang lebih keras dan menolak kompromi apa pun dengan pihak yang dianggap bertanggung jawab atas serangan.
  • Kelompok ketiga masih diliputi ketidakpercayaan mendalam terhadap institusi negara, memilih untuk apatis atau menarik diri dari proses politik.

Akuntabilitas versus Pendekatan Lebih Keras

Bagi Koren Kariv dan warga yang sepaham dengannya, pemilu adalah kesempatan untuk menuntut pertanggungjawaban. Mereka menilai bahwa tanpa penyelidikan resmi yang transparan, negara tidak akan pernah belajar dari kesalahannya dan korban-korban 7 Oktober tidak akan pernah mendapatkan keadilan. Tuntutan ini juga menyiratkan sikap kritis terhadap pemerintahan yang berkuasa saat serangan terjadi.

Namun di sisi lain jalan, banyak warga Gaza Envelope yang justru mengalihkan dukungan ke kubu kanan yang lebih garis keras. Mereka berargumen bahwa akuntabilitas saja tidak cukup untuk menjamin keamanan. Yang dibutuhkan, kata mereka, adalah kekuatan militer yang lebih besar, kebijakan yang lebih tegas terhadap Hamas, dan kepemimpinan yang tidak ragu mengambil tindakan drastis demi melindungi komunitas perbatasan.

"Kami tidak ingin lagi hanya mendengar janji. Kami ingin melihat tindakan nyata yang membuat kami merasa aman tinggal di sini," ujar salah seorang warga yang enggan disebut namanya.

Perpecahan ini menjadi potret menarik tentang bagaimana trauma kolektif dapat melahirkan respons politik yang berbeda-beda. Warga yang sama-sama kehilangan rasa aman, sama-sama kehilangan tetangga dan kerabat, namun menarik kesimpulan yang saling bertentangan tentang masa depan Israel. Pemilu mendatang akan menjadi ujian apakah masyarakat Gaza Envelope mampu menemukan titik temu, atau justru semakin terbelah oleh luka yang belum sembuh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User