Laporan terbaru yang disusun untuk para anggota parlemen Amerika Serikat mengungkap angka kerugian yang selama ini tampak kabur di balik narasi resmi Pentagon. Setidaknya 81 pesawat tempur, helikopter, dan drone Amerika Serikat mengalami kerusakan hingga hilang total sejak Washington dan Israel memulai kampanye militer terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Angka ini menjadi salah satu pengakuan kerugian paling terbuka sejak konflik tersebut pecah.
Temuan itu dirilis oleh Congressional Research Service (CRS), lembaga riset independen yang bertugas memberi analisis kepada Kongres AS. Dalam dokumennya, CRS memperkirakan nilai kerugian materiil tersebut mencapai US$3,3 miliar atau sekitar Rp50 triliun bila dihitung dengan kurs saat ini. Jumlah yang tidak main-main, mengingat sebagian besar aset yang rusak termasuk generasi terbaru dengan teknologi paling sensitif.
Sumber Data dan Kontroversi Transparansi
Menariknya, CRS mengakui bahwa angka dalam laporan tersebut tidak berasal dari basis data resmi militer, melainkan disusun dari kumpulan laporan berita, pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM), serta keterangan pejabat War Department. Artinya, angka sebenarnya bisa jadi lebih besar dari yang tercatat.
Situasi ini memunculkan kritik tajam dari internal Kongres. Sebelumnya, para legislator telah mempersoalkan keengganan Pentagon memberikan daftar lengkap kehilangan pesawat dalam konflik tersebut. Ada kekhawatiran bahwa pemerintah sengaja membatasi transparansi agar opini publik tidak bergeser akibat ruginya aset tempur canggih yang ditumpangkan pembayar pajak.
| Jenis Aset | Jumlah Terdampak | Status |
|---|---|---|
| Total seluruh pesawat | 81 unit | Hilang atau rusak |
| F-35A Lightning II | 1 unit | Rusak akibat tembakan Iran, 19 Maret |
| F-15E Strike Eagle | 12 unit | Rusak dalam operasi tempur |
| Estimasi nilai kerugian | US$3,3 miliar | Perkiraan CRS |
Pesawat Siluman pun Tak Luput
Yang membuat laporan ini mengguncang adalah identitas sebagian korban. Di antara 81 aset itu terdapat satu unit F-35A Lightning II, pesawat tempur siluman termahal dalam sejarah Angkatan Udara AS, yang dilaporkan rusak akhir tembakan pertahanan udara Iran pada 19 Maret. Selain itu, 12 pesawat tempur F-15E Strike Eagle juga tercatat mengalami kerusakan.
Kehilangan F-35 secara khusus menjadi pukulan simbolis. Pesawat tersebut selama ini dipasarkan sebagai simbol superioritas teknologi Barat yang nyaris tak tertandingi. Kenyataan bahwa sistem pertahanan Iran mampu menyentuhnya mengubah persepsi tentang kesulitan menembus pertahanan udara negara itu.
"Angka ini mengonfirmasi bahwa perang udara di atas wilayah Iran jauh lebih mahal dan berbahaya daripada yang selama ini dipresentasikan dalam briefing resmi," ujar seorang analis pertahanan yang mengikuti perkembangan konflik tersebut.
Ekonomi Perang yang Menumpuk
Biaya US$3,3 miliar baru mencakup kerugian materiil langsung. Belum termasuk biaya operasional harian, ganti rugi logistik, kontrak perbaikan darurat, hingga potensi klaim asuransi dan dukungan sekutu. Bila konflik berkepanjangan, beban anggaran pertahanan AS berpotensi membengkak di tengah tekanan fiskal domestik.
Pertanyaan besarnya kini bergeser: sampai kapan kerugian semacam ini bisa ditoleransi, dan apakah publik Amerika Serikat benar-benar mendapat gambaran utuh tentang biaya perang yang mereka danai?
Comments (0)