Sep 20, 2026
Nasional

Wamenko Hanif Tegaskan Penutupan SPPG Tanpa SLHS Tetap Berjalan

Langkah tegas dalam menjaga kualitas pangan nasional terus digelorakan oleh pemerintah. Di tengah masifnya pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPP

Wamenko Hanif Tegaskan Penutupan SPPG Tanpa SLHS Tetap Berjalan

Langkah tegas dalam menjaga kualitas pangan nasional terus digelorakan oleh pemerintah. Di tengah masifnya pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah, isu keamanan dan higiene bahan makanan menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Tanpa standar kebersihan yang jelas, program pemenuhan gizi justru berisiko memicu masalah kesehatan baru bagi masyarakat penerima manfaat.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan (Wamenko Pangan) Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa proses penyaringan hingga penutupan SPPG yang tidak memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) akan terus berjalan tanpa kompromi. Kebijakan ini diambil demi memastikan seluruh makanan yang diproduksi dan didistribusikan benar-benar memenuhi standar kesehatan tertinggi.

Komitmen Tanpa Kompromi demi Keamanan Pangan

Pemerintah menyadari bahwa keberhasilan program gizi tidak hanya diukur dari kuantitas porsi yang dibagikan, melainkan juga standar higiene dapur dan pengolahannya. Wamenko Hanif menyampaikan bahwa ketatnya pengawasan ini dilakukan untuk melindungi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah yang menjadi sasaran utama distribusi gizi nasional.

"Kami tidak akan mengorbankan kualitas dan kebersihan pangan. Penutupan SPPG yang belum mengantongi SLHS adalah bentuk perlindungan nyata. Penyaringan terus berjalan ketat agar seluruh dapur produksi memenuhi kaidah sanitasi standar nasional," tegas Hanif Faisol Nurofiq.

Penegasan ini sekaligus menjadi peringatan penting bagi pengelola dapur umum dan SPPG di seluruh wilayah Indonesia. Fasilitas yang belum mematuhi regulasi diminta segera mengurus sertifikasi sanitasi dari Dinas Kesehatan setempat sebelum diizinkan beroperasi kembali secara penuh.

Syarat Mutlak Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS)

Untuk mendapatkan SLHS, sebuah unit SPPG harus melewati serangkaian inspeksi ketat. Pengujian mencakup pemeriksaan sumber air bersih, kebersihan area memasak, kelayakan tempat penyimpanan bahan baku, hingga kesehatan para penjamu makanan. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi risiko kontaminasi bakteri atau zat berbahaya saat proses produksi berlangsung.

Berikut adalah gambaran evaluasi kesiapan dapur produksi berdasarkan pemenuhan standar regulasi sanitasi:

Kriteria Evaluasi SPPG Berlisensi (Lolos SLHS) SPPG Non-SLHS (Terdampak Penyaringan)
Status Operasional Beroperasi Penuh & Terverifikasi Dihentikan Sementara / Ditutup
Uji Sanitasi Air & Alat Memenuhi Standar Kemenkes Belum Diuji / Tidak Memenuhi Standar
Pemeriksaan Pekerja Rutin & Bersertifikat Higiene Belum Terdaftar / Tanpa Pelatihan
Tingkat Risiko Kontaminasi Sangat Rendah (Terdistribusi Aman) Tinggi (Berpotensi Keracunan)

Mendorong Sinergi Kementerian dan Pemerintah Daerah

Prosedur penyaringan ketat ini melibatkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Kesehatan, Badan Gizi Nasional (BGN), serta Dinas Kesehatan di tingkat kabupaten dan kota. Pemerintah daerah diimbau untuk aktif mendampingi para pengelola SPPG agar dapat mempercepat proses sertifikasi tanpa mengurangi ketatnya kriteria inspeksi.

Wamenko Hanif menambahkan bahwa penyaringan ini tidak bermaksud untuk menghambat distribusi makanan bergizi, melainkan sebuah bentuk langkah preventif menyeluruh. Pengawasan ketat di awal dipercaya jauh lebih baik daripada harus menangani kasus luar biasa keracunan makanan di kemudian hari.

Dengan berjalannya tindakan tegas ini, masyarakat diharapkan semakin yakin akan kualitas serta mutu program pemenuhan gizi nasional yang sedang digulirkan secara masif oleh pemerintah saat ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User