Aug 25, 2026
entertainment

Ummi Quary Menunaikan Umrah: Momen Haru di Tanah Suci

Di sudut kamar hotel yang hanya berjarak beberapa langkah dari Masjidil Haram, Ummi Quary duduk bersimpuh. Jari-jarinya menggenggam sajadah kecil yang dibawanya dari rumah, kain yang sama yang setia m...

Ummi Quary Menunaikan Umrah: Momen Haru di Tanah Suci

Di sudut kamar hotel yang hanya berjarak beberapa langkah dari Masjidil Haram, Ummi Quary duduk bersimpuh. Jari-jarinya menggenggam sajadah kecil yang dibawanya dari rumah, kain yang sama yang setia menemaninya setiap kali ia berdoa di keheningan malam. Air matanya jatuh perlahan, bukan karena lelah, melainkan karena haru yang tak tertahankan. Perjalanan panjang yang selama ini hanya ia simpan dalam mimpi, akhirnya menjadi nyata: ia berdiri di tanah yang selama ini hanya ia kenal dari cerita dan doa.

Kabar kehadiran Ummi Quary di Tanah Suci itu terlihat dari unggahan pribadinya yang dibagikan melalui akun Instagram @ummi_quary. Dalam foto sederhana itu, ia tampak mengenakan ihram putih bersih, wajahnya teduh, matanya menyimpan kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bagi banyak orang yang mengikuti perjalanan hidupnya, momen ini bukan sekadar perjalanan ibadah biasa. Ini adalah puncak dari sebuah perjuangan yang panjang, diiringi doa yang tidak pernah putus.

Perjalanan yang Dimulai dari Doa Sederhana

Ummi Quary mengisahkan bahwa keinginan untuk beribadah ke Tanah Suci sebenarnya sudah tumbuh sejak lama, jauh sebelum langkahnya benar-benar menginjak bumi Mekah. Setiap kali mendengar azan berkumandang, setiap kali membaca kisah para kekasih Allah, ia selalu berbisik dalam hati, "Suatu saat nanti." Namun hidup tidak selalu berjalan lurus. Ada masa-masa ketika impian itu terasa begitu jauh, tenggelam oleh kesibukan sehari-hari dan ujian yang datang silih berganti.

Yang membuat perjalanan ini begitu menyentuh adalah bagaimana ia tetap teguh berdoa di tengah segala keterbatasan. Ia tidak pernah mengeluh panjang lebar, tidak pernah menuntut. Ia hanya berpegang pada keyakinan sederhana: bahwa Allah Maha Mendengar, dan tidak ada doa yang sia-sia. "Saya hanya ingin pulang ke rumah-Nya," begitu kira-kira pesan yang ia sampaikan kepada orang-orang terdekatnya sebelum berangkat.

"Semua perjuangan dan air mata di masa lalu terasa terbayar lunas ketika saya melihat Ka'bah untuk pertama kalinya. Saya tidak bisa berkata-kata, hanya bisa menangis."

Air Mata di Bawah Langit Mekah

Momen paling mengharukan dalam perjalanan Ummi Quary terjadi ketika ia pertama kali melangkahkan kaki ke pelataran Masjidil Haram. Di bawah langit yang mulai memerah oleh senja, ia melihat Ka'bah berdiri megah di hadapannya. Dalam sekejap, semua rasa lelah perjalanan, semua penantian bertahun-tahun, luruh menjadi isak tangis yang tak terbendung. Ia berlutut, menempelkan dahinya ke lantai, dan berbisik syukur berulang-ulang.

Di balik layar momen itu, ada kisah-kisah kecil yang jarang terlihat. Ummi Quary menghabiskan waktu berjam-jam di Masjid Nabawi, duduk di antara tiang-tiang tua, mengirimkan doa untuk keluarga dan orang-orang yang pernah berjasa dalam hidupnya. Ia mengaku bahwa ia menangis bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk setiap orang yang pernah mendoakannya dari kejauhan. Baginya, umrah adalah hadiah yang harus ia bagikan, bukan disimpan sendirian.

Pulang dengan Hati yang Baru

Kini, setelah menuntaskan rangkaian ibadahnya, Ummi Quary kembali ke tanah air dengan sesuatu yang lebih berharga daripada oleh-oleh apa pun: ketenangan. Ia mengisahkan bahwa perjalanan ini mengubah cara pandangnya terhadap banyak hal. Hal-hal yang dulu terasa berat kini terasa ringan. Kemarahan yang dulu mudah muncul kini berubah menjadi keikhlasan. "Pulang dari Tanah Suci, saya belajar bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya adalah kebahagiaan yang sederhana," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Kisah Ummi Quary adalah pengingat bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk bangkit dan memaknai hidup. Ada yang menemukan kekuatan dalam karier, ada yang menemukannya dalam keluarga, dan ada pula yang menemukannya dalam perjalanan menuju rumah Allah. Tidak ada yang lebih besar dari yang lain, selama setiap langkah dijalani dengan hati yang tulus.

Melalui unggahannya yang sederhana itu, Ummi Quary seolah ingin berbagi satu pesan: bahwa mimpi, sekecil apa pun, layak untuk diperjuangkan. Bahwa air mata tidak selamanya berarti kesedihan — kadang ia adalah bahasa syukur yang paling jujur. Dan bahwa di ujung setiap doa yang tidak pernah menyerah, selalu ada jawaban yang datang pada waktu yang tepat. Perjalanan umrahnya mungkin telah usai, tetapi kisah yang ia bawa pulang akan terus hidup, menginspirasi siapa pun yang membaca dan merasakan ketulusannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User