Washington — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pernyataan kontroversial dengan menyalahkan kebijakan imigrasi Prancis sebagai akar dari kerusuhan mahasiswa yang pecah di berbagai kota. Pernyataan itu ia sampaikan di tengah eskalasi protes terbesar sejak gerakan mahasiswa dimulai pertengahan September lalu, sementara pemerintahan Presiden Emmanuel Macron justru berhadapan dengan tuntutan soal pendidikan.
Menurut Trump, gelombang protes yang berujung kekerasan itu bukanlah soal sekolah atau krisis guru, melainkan akibat dari kebijakan perbatasan yang longgar. Ia bahkan mengklaim bahwa Islam ingin "menguasai" negara tersebut. Pernyataan ini langsung menuai kritik, mengingat para demonstran sejak awal menegaskan bahwa tuntutan mereka murni soal anggaran pendidikan dan kekurangan tenaga pengajar.
Aksi Massa Terbesar Sejak Gerakan Dimulai
Pada Selasa, Prancis mencatat hari demonstrasi terbesar sejak gerakan protes mahasiswa dimulai. Kementerian Dalam Negeri mencatat sekitar 266.000 orang turun ke jalan di seluruh negeri, dengan 56.000 orang berpartisipasi dalam unjuk rasa di Paris. Kota-kota besar lain seperti Marseille, Strasbourg, Nantes, dan Lyon juga menjadi saksi aksi serupa. Sementara itu, pihak penyelenggara menegaskan bahwa jumlah peserta mencapai 450.000 orang.
| Indikator | Data Resmi | Data Penyelenggara |
|---|---|---|
| Jumlah peserta | 266.000 | 450.000 |
| Paris | 56.000 | - |
| Penangkapan | 488 orang | - |
| Siswa terluka (3 minggu) | ~215 orang | - |
Di sejumlah lokasi, termasuk Paris, aksi berubah menjadi vandalisme dan bentrokan antara demonstran dengan aparat kepolisian. Polisi menggunakan gas air mata dan tongkat untuk membubarkan kerumunan. Pihak berwenang Prancis mencatat total 488 orang ditangkap sepanjang hari itu.
Kekerasan Aparat Jadi Sorotan
Guru, orang tua, dan kelompok hak asasi manusia menuduh polisi menggunakan kekuatan berlebihan. Sepanjang tiga pekan terakhir, sekitar 215 siswa mengalami luka-luka, termasuk seorang remaja berusia 15 tahun. Insiden-insiden ini memperkeruh situasi dan memicu solidaritas yang semakin luas di kalangan warga.
"Kami berjuang untuk sekolah yang layak, bukan untuk agenda politik siapa pun. Tuntutan kami jelas: dana pendidikan dan guru yang cukup," ujar seorang perwakilan guru yang ikut berdemonstrasi di Paris.
Sentimen ini justru berbanding terbalik dengan narasi yang dibangun Trump, yang menggeser fokus dari persoalan pendidikan ke isu imigrasi. Bagi banyak analis, pernyataan tersebut lebih merupakan strategi politik domestik ketimbang pembacaan situasi Prancis yang akurat.
Respons Terhadap Pernyataan Trump
Pernyataan Trump muncul di saat pemerintah Macron sedang berada di bawah tekanan untuk menambah anggaran pendidikan. Sejauh ini, neither pihak Élysée maupun Kementerian Pendidikan Prancis memberikan komentar resmi terkait ucapan Presiden AS tersebut. Namun, para pengamat politik menilai bahwa intervensi semacam ini hanya akan menambah ketegangan diplomatik.
Situasi di Prancis sendiri masih belum mereda. Ribuan guru, siswa, dan orang tua kembali dijadwalkan menggelar aksi lanjutan dalam beberapa hari ke depan, sementara kekhawatiran atas potensi bentrokan susulan terus mengemuka.
Comments (0)