Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi isyarat kuat bahwa Washington akan mempertahankan pendekatan tekanan ekonomi terhadap Iran alih-alih melancarkan ofensif militer besar-besaran, meski Teheran terus menantang posisi Amerika Serikat. Dalam wawancara singkat dengan Axios pada Minggu, Trump tidak mengeluarkan ancaman militer baru, sebuah perubahan sikap yang kontras dengan kondisi seminggu lalu ketika ia berada di ambang memerintahkan kembalinya operasi tempur skala besar di kawasan Teluk.
Dari Ambang Perang ke Siasat Low-Key
Perubahan strategi ini datang hanya dalam tempo satu pekan. Berikut kronologi pergeseran sikap Washington dan perkembangan di lapangan:
- Tujuh hari lalu: Trump dikabarkan sangat dekat dengan keputusan untuk memerintahkan operasi militer besar terhadap Iran menyusul ketegangan memuncak di kawasan vital perdagangan global.
- Awal pekan ini: Mediator dari Qatar dan Pakistan diyakini bakal mengumumkan kesepakatan lintas Selat Hormuz pada hari Rabu, namun harapan tersebut pudar seiring munculnya tuntutan baru dari pihak Teheran.
- Hari Sabtu: Mohammad Bagher Zolghadr, kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengeluarkan daftar tuntutan tambahan untuk membuka kembali Selat Hormuz, di luar kesepakatan yang telah dirundingkan dengan Oman dan Washington.
- Hari Minggu: Dalam percakapan telepon dengan Axios, Trump menyatakan, "We are low-keying it," menegaskan bahwa Washington hanya setengah bernegosiasi dan lebih memilih mengamati keruntuhan ekonomi Iran dari kejauhan.
Kesepakatan Selat Hormuz Terhambat Tuntutan Baru
Perselisihan terkini berpusat pada nasib Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling vital dunia. Kesepakatan yang telah dirundingkan antara Iran, Oman, dan Amerika Serikat kini tertahan setelah Teheran memperkenalkan persyaratan baru di luar naskah yang telah disusun.
Sebagai bagian dari rancangan kesepakatan sebelumnya, Iran akan diberikan kendali parsial atas lalu lintas di selat tersebut — sebuah konsesi besar yang tidak pernah dimiliki Teheran sebelum perang pecah. Namun, pada hari Sabtu, Zolghadr secara resmi menambahkan persyaratan bahwa Amerika Serikat harus menjanjikan untuk "tidak pernah mengancam atau menghina Iran dalam bahasa apa pun" serta "mengakhiri perang terhadap Iran dan sekutunya secara permanen" agar selat dapat dibuka kembali.
Dalam kondisi tersebut, sumber resmi AS menyebut adanya perpecahan internal yang semakin meluas dalam rezim Iran. Kubu yang dipimpin Presiden Masoud Pezeshkian dikabarkan sangat khawatir akan kolaps ekonomi total dan secara aktif mendorong penyelesaian melalui diplomasi dengan Washington. Sebaliknya, kubu yang dipimpin Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Ahmad Vahidi menolak segala bentuk konsesi dan mempertegas posisi keras menentang Amerika.
Trump Andalkan Blokade dan Keruntuhan Ekonomi Iran
Dalam pernyataannya kepada Axios, Trump secara gamblang menekankan bahwa strategi Washington saat ini adalah membiarkan tekanan finansial bekerja sendiri. Ia menyoroti kondisi ekonomi Iran yang mengalami inflasi besar-besaran dan kekurangan dana serius untuk membayar pasukannya.
- Blokade naval AS telah memperburuk krisis ekonomi rezim Iran hingga ke titik di mana negara tersebut tidak lagi memiliki uang untuk membiayai militer, menurut Trump.
- Harga minyak dunia turun ke level sedikit di atas US$75 per barel, sebuah perkembangan yang mengurangi dampak kenaikan harga terhadap konsumen Amerika dan memberi Washington ruang napas lebih lama.
- Trump menggambarkan dinamika geopolitik ini sebagai permainan strategis jangka panjang: "Itu akan berhasil. Itu selalu berhasil. Ini seperti permainan catur."
Dengan tidak adanya ancaman militer baru dari Gedung Putih, pasar energi global dan pengamat internasional kini memfokuskan perhatian pada apakah tekanan ekonomi yang melumpuhkan tersebut cukup untuk membawa Teheran kembali ke meja perundingan tanpa terjadi perlawanan bersenjata skala besar. Trump tampak yakin bahwa penderitaan ekonomi Iran akan memaksa rezim di sana untuk akhirnya menyerah, meski prosesnya membutuhkan kesabaran dan tidak menutup kemungkinan adanya langkah militer di masa depan jika situasi memburuk.
[SOCIAL_TWEET]: Trump "low-keying it" dengan Iran: tekanan ekonomi menggantikan ancaman militer. Harga minyak turun ke $75/barel, sementara inflasi Iran meledak. Apakah strategi ini berhasil? #Trump #Iran #Diplomasi [SOCIAL_TG]: 🇺🇸 Trump pilih tekanan ekonomi ketimbang serangan militer ke Iran. Dalam wawancara Axios, ia sebut "We are low-keying it" sambil andalkan blokade naval dan inflasi Iran yang melonjak. Kesepakatan Selat Hormuz tertahan akibat tuntutan baru dari Teheran. Detail selengkapnya di Beritaseputar.com.
Comments (0)