Upaya pencarian terhadap korban insiden kapal cepat (speed boat) yang mengalami mati mesin di perairan Manta Point, Nusa Penida, Bali, memasuki babak baru. Memasuki hari ketiga operasi, tim SAR gabungan mengerahkan kekuatan penuh baik dari lini laut maupun udara. Namun, bentangan laut selatan Bali yang luas dan dinamis masih menyisakan teka-teki mengenai keberadaan korban.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar (Basarnas Bali), I Nyoman Sidakarya, menjelaskan bahwa operasi penyisiran sejak pagi hari difokuskan pada titik koordinat terakhir korban dilaporkan hilang beserta area perkiraan hanyutnya kapal.
“Pencarian hari ini sudah dilakukan dengan mengerahkan unsur laut dan udara, namun hasilnya masih nihil. Belum ditemukan tanda-tanda keberadaan korban,” ujar I Nyoman Sidakarya saat memberikan pembaruan operasi SAR.
Kronologi Hilangnya Speed Boat di Manta Point
Peristiwa nahas ini bermula ketika kapal cepat tersebut mengalami kendala teknis berupa mati mesin di sekitar perairan Manta Point pada akhir pekan lalu. Laporan marabahaya pertama kali diterima oleh petugas siaga Basarnas Denpasar pada Sabtu malam sekitar pukul 20.20 WITA, sementara insiden mesin mati diperkirakan terjadi sejak pukul 19.00 WITA.
Merespons situasi darurat tersebut, Tim Rescue Basarnas Denpasar bersama personel Polairud Polda Bali bergegas meluncur menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) 02 Denpasar. Namun, kondisi gelap dan arus laut yang deras membuat kapal cepat tersebut sudah tidak lagi terlihat di lokasi awal saat tim penolong tiba.
Pengerahan Armada Laut dan Udara Skala Penuh
Mengingat luasnya area pencarian dan potensi korban terbawa arus lebih jauh ke perairan lepas, Basarnas Denpasar memutuskan untuk meningkatkan intensitas operasi dengan melibatkan alutsista utama. Jalur penyisiran dirancang secara terkoordinasi melintasi berbagai sektor potensial.
Berikut adalah unsur armada utama yang dikerahkan dalam misi kemanusiaan ini:
- KN SAR Arjuna 229: Kapal penyelamat milik Basarnas yang membawa 20 personel terlatih dan bertolak dari Pelabuhan Benoa untuk menyisir perairan selatan.
- Helikopter Bell 412: Armada udara milik SGi Air Bali dengan dukungan Finns Search and Rescue untuk melakukan pemantauan visual dari ketinggian.
- RIB 02 Denpasar: Perahu cepat taktis yang difokuskan menyisir perairan dangkal dan tebing karang di sekitar Manta Point.
- Personel Gabungan: Sinergi antara rescuer Basarnas, Ditpolairud Polda Bali, serta potensi SAR lokal.
Penyisiran lewat udara dinilai sangat krusial mengingat topografi perairan Nusa Penida dikelilingi oleh tebing karang terjal dan arus bawah laut yang sangat kuat. Helikopter Bell 412 yang membawa tim pemantau udara, termasuk Kepala Seksi Operasi dan Siaga SAR, terbang menyisir rute-rute strategis dari udara guna memperbesar peluang deteksi visual.
Meski operasi di hari ketiga belum membuahkan hasil, tim gabungan memastikan pencarian akan terus dilanjutkan dengan memperluas radius pemantauan sesuai pemodelan arah arus dan angin laut.
Comments (0)