Sep 19, 2026
Hukum

Tim Gabungan Berjibaku Padamkan Karhutla di Pegunungan Jawa Timur

Sahabat Beritaseputar, musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda kawasan pegunungan di Jawa Timur. Hingga Minggu, 13 September 2026, kep

Tim Gabungan Berjibaku Padamkan Karhutla di Pegunungan Jawa Timur

Sahabat Beritaseputar, musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda kawasan pegunungan di Jawa Timur. Hingga Minggu, 13 September 2026, kepulan asap pekat masih terlihat membumbung di sejumlah titik strategis. Tim gabungan yang terdiri dari berbagai unsur penanggulangan bencana kini harus bergerak cepat menembus medan ekstrem demi memadamkan amukan si jago merah yang terus meluas.

Pemandangan vegetasi hijau yang biasanya menyegarkan mata di kawasan pegunungan kini berulang kali berganti menjadi hamparan abu. Udara kering khas musim kemarau dipadu dengan vegetasi yang mudah terbakar membuat kobaran api cepat menyebar. Para petugas di lapangan harus bertarung tidak hanya melawan kobaran api, tetapi juga melawan kelelahan fisik dan risiko ancaman keselamatan diri yang sangat tinggi.

Titik Api Membara di Kawasan Gunung Bromo

Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menjadi salah satu lokasi yang paling mendapat sorotan dalam peristiwa karhutla kali ini. Berdasarkan pantauan lapangan, kepulan asap tebal masih mengepul di sekitar Gunung Kursi dan area Jemplang, Kabupaten Probolinggo. Peristiwa penyeberangan api ini berawal dari titik pertama yang terdeteksi beberapa hari sebelumnya.

Api pertama kali diketahui memutus vegetasi di kawasan Savana Pengol pada Kamis, 10 September 2026. Karena embusan angin yang cukup kencang, kobaran api dengan cepat menjalar dan meluas hingga mencapai kawasan Gunung Kursi. Kendati sempat mereda, pada Sabtu, 12 September 2026, titik api kembali bermunculan dan memicu kepulan asap baru yang mengancam ekosistem sekitar.

Tantangan Medan Terjal dan Cuaca Ekstrem

Upaya penanganan karhutla di kawasan pegunungan bukanlah perkara mudah. Tim gabungan yang diterjunkan ke lokasi harus berhadapan dengan bentang alam yang sangat menantang. Akses darat menuju titik api sangat terbatas, memaksa personel berjalan kaki berjam-jam sambil membawa peralatan pemadaman.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menegaskan bahwa seluruh personel terus berupaya maksimal dengan tetap memperhitungkan faktor risiko di lapangan.

“Tim gabungan terus melakukan penanganan dengan menyesuaikan kondisi medan, cuaca, akses menuju lokasi, dan keselamatan personel,” ujar Berton dalam keterangan resminya.

Keselamatan tim pemadam di lapangan tetap menjadi prioritas utama di tengah ancaman medan curam yang sewaktu-waktu dapat memutus jalur evakuasi. Selain kemiringan tebing yang terjal, fenomena angin kencang yang berubah arah secara mendadak serta tebalnya kabut pegunungan kerap membatasi jarak pandang para petugas saat melakukan pemadaman langsung.

Data Perkembangan dan Strategi Penanganan Karhutla

Untuk memberikan gambaran lebih jelas mengenai situasi penanganan bencana di Jawa Timur, berikut adalah ringkasan kondisi dan strategi operasi tim gabungan di lapangan:

Lokasi Terdampak Waktu Awal Terjadi Kendala Utama Operasional Fokus Strategi Tim
Savana Pengol & Gunung Kursi 10 September 2026 Angin kencang, vegetasi kering Pemadaman darat & isolasi jalur api
Kawasan Jemplang (Probolinggo) 12 September 2026 Medan terjal, kabut tebal Pembasahan (wetting) & observasi udara

Strategi Hibrida: Gabungan Pemadaman Darat dan Udara

Guna memutus rantai penyebaran api yang kian meluas, strategi pemadaman dilakukan secara menyeluruh. Di jalur darat, tim gabungan yang terdiri dari BNPB, BPBD, personel TNI/Polri, petugas taman nasional, dan relawan lokal fokus melakukan penyekatan agar api tidak merambat ke area hutan permukiman atau kawasan wisata inti.

Metode pembasahan (wetting) pada sisa-sisa bara api terus dilakukan untuk mencegah timbulnya titik api baru akibat fenomena re-ignite. Sementara itu, untuk menjangkau lokasi-lokasi tebing curam yang tidak memungkinkan dijangkau oleh personel darat, pihak berwenang mengoptimalkan observasi udara guna memetakan koordinat titik panas (hotspot) secara akurat.

Pemerintah mengimbau kepada masyarakat luas dan para wisatawan untuk tetap waspada, mematuhi arahan petugas, serta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu timbulnya percikan api di area hutan dan lahan kering.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User