Oct 10, 2026
entertainment

Tiga Dekade Ungu: Ketika Enda dan Kawan-Kawan Berpamitan di Panggung Terakhir

Jakarta, sebuah sore yang mungkin tidak akan pernah dilupakan. Di sebuah ruangan konferensi yang dipenuhi lampu sorot dan lensa kamera, seorang pria mengenakan kemeja abu-abu berdiri dengan microfon d...

Tiga Dekade Ungu: Ketika Enda dan Kawan-Kawan Berpamitan di Panggung Terakhir

Jakarta, sebuah sore yang mungkin tidak akan pernah dilupakan. Di sebuah ruangan konferensi yang dipenuhi lampu sorot dan lensa kamera, seorang pria mengenakan kemeja abu-abu berdiri dengan microfon di tangan. Namanya Enda, gitaris sekaligus salah satu pendiri Ungu. Wajahnya tenang, tetapi ada sesuatu di matanya yang sulit dijelaskan—campuran antara haru, syukur, dan mungkin sedikit rasa kehilangan. Di depannya, puluhan jurnalis menunggu. Di hatinya, tiga dekade kenangan berdesakan.

"Ini bukan keputusan yang mudah," ujarnya pelan, suaranya nyaris bergetar. "Tapi setiap perjalanan punya tujuan akhir. Dan kami ingin mengakhirinya dengan cara yang indah."

Konferensi pers bertajuk Antam presents 30 Tahun Berkarya Ungu Waktu Yang Dinanti Final Chapter itu memang bukan sekadar pengumuman konser. Ia adalah semacam upacara perpisahan bagi sebuah band yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup jutaan orang Indonesia. Bagi Enda, ini adalah momen untuk menengok ke belakang—ke masa ketika ia dan kawan-kawannya masih bermain di panggung-panggung kecil, jauh dari sorotan lampu besar.

Dari Kafe Kecil ke Panggung Nasional

Mengisahkan awal mula Ungu, Enda tidak bisa menahan senyum. Ia bercerita tentang bagaimana band ini lahir dari sebuah komunitas musik di Jakarta Selatan, dari alat-alat sederhana dan mimpi yang bahkan tidak pernah mereka bayangkan akan sebesar sekarang. "Kami dulu hanya ingin lagu kami didengar," tuturnya. "Tidak pernah terpikir bisa bertahan selama ini."

Di balik layar, perjalanan itu tidak selalu mulus. Ada masa-masa ketika mereka harus berjuang keras, ketika album tidak terjual sesuai harapan, ketika personel datang dan pergi. Namun ada satu hal yang selalu bertahan: keyakinan bahwa musik mereka punya tempat di hati pendengar. Lagu-lagu seperti "Demi Waktu", "Kekasih Gelapku", atau "Cinta Dalam Hati" bukan sekadar hits—mereka menjadi semacam soundtrack bagi generasi yang tumbuh bersama Ungu.

"Setiap lagu yang kami tulis adalah potongan dari hidup kami. Dan ketika orang lain bisa merasakannya, itu adalah hadiah terbesar."

Enda menyebut momen-momen ketika penggemar datang kepadanya dengan air mata, bercerita bahwa lagu Ungu menemani mereka melewati masa-masa sulit. "Itu yang membuat semuanya berarti," katanya. "Bukan trofi, bukan penghargaan, tapi tahu bahwa karyamu menyentuh seseorang."

Sebuah Perpisahan yang Penuh Syukur

Keputusan untuk mengakhiri perjalanan sebagai band, menurut Enda, bukan karena konflik atau kelelahan. Justru sebaliknya. Mereka ingin berhenti saat masih bisa tersenyum, saat masih bisa tampil dengan bangga, dan saat masih bisa memberikan yang terbaik. "Kami tidak ingin menjadi band yang terus tampil tapi kehilangan jiwanya," ujarnya jujur.

Konser Final Chapter yang akan digelar nanti dirancang bukan sebagai momen berkabung, melainkan perayaan. Enda berjanji akan membawa penonton kembali ke setiap babak perjalanan Ungu—dari lagu-lagu awal yang mentah hingga karya-karya terakhir yang lebih matang. "Kami ingin semua orang yang pernah menyukai Ungu datang dan merayakan bersama," katanya.

Ada nada haru ketika ia menyebut nama-nama personel yang pernah bersama Ungu. Ia juga menyempatkan diri berterima kasih kepada keluarga, tim manajemen, dan tentu saja para penggemar yang setia. "Kalian adalah alasan kami bertahan selama ini," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Warisan yang Akan Terus Bernyanyi

Meski Ungu akan berhenti, Enda yakin musik mereka tidak akan pernah benar-benar pergi. Lagu-lagu yang telah lahir akan terus diputar, dinyanyikan di karaoke, atau menjadi pengingat bagi seseorang tentang masa mudanya. "Musik itu abadi," katanya. "Kami mungkin berhenti, tapi lagu-lagu kami akan tetap hidup."

Ia juga berharap perjalanan Ungu bisa menjadi inspirasi bagi musisi muda. Bahwa kesuksesan tidak datang dalam semalam, bahwa persahabatan dan kerja sama adalah kunci, dan bahwa mengakhiri sesuatu dengan baik adalah bagian dari kedewasaan. "Jangan takut bermimpi," pesannya. "Dan jangan takut untuk berpamitan ketika waktunya tiba."

Di penghujung konferensi, Enda meletakkan microfon di meja. Ia tersenyum, melambaikan tangan, dan berjalan keluar ruangan. Langkahnya mantap, meski ada sedikit beban di pundaknya—beban kenangan, cinta, dan rasa terima kasih yang tak terhingga. Tiga puluh tahun bukan waktu yang singkat. Dan bagi Enda, itu adalah perjalanan yang luar biasa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User