Suasana di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mendadak riuh dan dipadati massa aksi. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi gerakan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan gedung rektorat. Mereka menyuarakan keresahan mendalam atas berbagai kebijakan kampus yang dinilai kian membelenggu kebebasan akademik dan merugikan mahasiswa.
Tak tanggung-tanggung, dalam aksi demonstrasi yang berlangsung dinamis tersebut, massa menyuarakan delapan poin tuntutan krusial. Puncak dari tuntutan tersebut adalah desakan agar Rektor UINSA, Prof. Akh. Muzakki, segera meletakkan jabatannya atau dicopot dari posisi pimpinan tertinggi kampus Islam negeri tersebut.
Gelombang Protes dan Poin-Poin Tuntutan Mahasiswa
Aksi turun ke jalan ini dipicu oleh akumulasi kekecewaan para mahasiswa terhadap tata kelola birokrasi kampus belakangan ini. Mahasiswa menilai pihak rektorat kerap mengeluarkan kebijakan sepihak tanpa membuka ruang dialog yang substantif bersama perwakilan mahasiswa.
"Kami turun ke jalan bukan tanpa alasan. Kampus yang seharusnya menjadi ruang merdeka untuk belajar dan berekspresi justru semakin mengekang kami. Rektor dinilai gagal mendengar suara akar rumput, sehingga kami menuntut Prof. Muzakki untuk mundur dari jabatannya," seru salah satu koordinator aksi di atas mobil komando.
Adapun beberapa poin penting dari delapan tuntutan yang disuarakan mahasiswa meliputi:
- Desakan Pencopotan Rektor: Menuntut Rektor UINSA Prof. Akh. Muzakki mundur karena dinilai gagal membawa perbaikan dan aspirasi warga kampus.
- Penghapusan Aturan Jam Malam: Meminta pencabutan pembatasan jam malam kampus yang dinilai membatasi ruang aktivitas organisasi, riset, dan kreativitas mahasiswa.
- Pengusutan Kasus di Lingkup Kopertais: Menuntut transparansi dan penyelesaian tuntas dugaan maladministrasi serta isu sensitif di lingkungan Kopertais Wilayah IV.
- Transparansi Finansial dan UKT: Mendesak evaluasi penyesuaian Uang Kuliah Tunggal (UKT) serta kejelasan alokasi anggaran fasilitas penunjang perkuliahan.
- Jaminan Kebebasan Berekspresi: Menghentikan segala bentuk intimidasi birokrasi terhadap aktivisme mahasiswa di dalam kampus.
Sorotan Tajam Kebijakan Jam Malam dan Isu Kopertais
Dua isu yang paling menyulut emosi massa adalah kebijakan jam malam dan polemik di lingkungan Koordinatorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais) Wilayah IV Jawa Timur yang ex-officio dipimpin oleh Rektor UINSA. Kebijakan pembatasan jam malam dianggap sangat memangkas ruang gerak lembaga kemahasiswaan yang membutuhkan fasilitas kampus hingga larut malam untuk riset, diskusi, dan perlombaan.
Selain itu, mahasiswa mengkritisi kinerja rektorat yang dianggap lamban dan tertutup dalam merespons sejumlah dugaan persoalan internal di lembaga terkait. Mahasiswa menegaskan bahwa kampus harus menjunjung tinggi prinsip good university governance yang transparan dan akuntabel.
Menanti Langkah Nyata Pihak Rektorat
Hingga aksi berakhir, perwakilan mahasiswa menegaskan bakal terus mengawal tuntutan ini. Jika pihak pimpinan kampus tidak segera memberikan respons resmi dan solusi konkret dalam batas waktu yang ditentukan, massa mengancam akan menggelar gelombang aksi unjuk rasa lanjutan dengan jumlah massa yang jauh lebih besar.
Comments (0)