Minggu pagi di Jakarta Selatan biasanya dimulai dengan suara bising kendaraan dan terik yang menyapa lebih awal. Namun di kawasan Pondok Indah, ada satu sudut yang memilih melambat. Ketika pintu kaca itu terbuka, yang menyambut bukanlah gerak cepat kota, melainkan aroma laut yang lembut, cahaya hangat yang masuk lewat jendela besar, dan tawa kecil seorang anak yang berlari menghampiri meja penuh piring-piring kecil. Di sinilah, sejak 23 Agustus 2026, InterContinental Jakarta Pondok Indah menghadirkan Sunday Brunch bernuansa pesisir yang mengubah Minggu biasa menjadi perayaan rasa yang sederhana namun berkesan.
Konsepnya terasa akrab sekaligus baru. Alih-alih prasmanan yang ramai dan serba cepat, para tamu diajak duduk tenang dan menikmati setiap hidangan yang diantar bergantian ke meja. Ada semacam irama perlahan yang sengaja dibangun, seolah mengajak setiap orang untuk benar-benar hadir di momen itu — mengunyah, mengobrol, dan tertawa tanpa tergesa. Seorang ibu yang duduk di meja sebelah tersenyum sambil menuangkan teh hangat untuk anaknya. Di balik kacamatanya, matanya berbinar. "Ini momen paling tenang yang kami punya seminggu ini," katanya pelan, dan senyum itu seperti mewakili suasana ruangan.
Sajian yang Bercerita Tentang Laut dan Ketekunan
Menu brunch ini disusun seperti buku cerita rasa yang dibuka perlahan. Pembuka hadir lewat canapés klasik — kudapan mungil yang memadukan tekstur renyah, lembut, dan gurih dalam satu gigitan. Setiap potong dirangkai dengan presisi, seperti karya kecil yang enggan dikunyah terlalu cepat. Bagi yang pernah merasakan pesta kecil ala Eropa, sajian ini membawa kembali kenangan manis; bagi yang baru pertama kali, ia menjadi pengantar yang lembut untuk petualangan rasa berikutnya.
Puncaknya tiba ketika Gueridon Mangut Cod diantar ke meja. Mangut, olahan berkuah santan khas Nusantara yang biasa disandingkan dengan ikan asap, kali ini bertemu dengan cod — ikan putih bertekstur lembut yang meleleh di lidah. Perpaduan ini seperti pertemuan dua dunia: rempah lokal yang hangat berpelukan dengan kelembutan rasa asing, menghasilkan kuah santan yang gurih, sedikit pedas, dan menghangatkan perut sekaligus hati. Bagi banyak tamu, inilah hidangan yang paling ditunggu. Seorang pria paruh baya yang datang bersama istrinya mengaku baru kali ini mencoba mangut dalam balutan gaya seperti ini. "Saya lahir di Jawa, mangut itu rasa rumah. Tapi versi ini membuat saya tersenyum sendiri," ujarnya sambil menunjuk piringnya yang hampir kosong.
Tak kalah menarik, tray smørrebrød premium hadir sebagai kejutan yang membawa tamu melintasi benua. Smørrebrød, roti lapis terbuka khas Skandinavia, disajikan di atas nampan kayu dengan tatanan yang begitu rapi hingga terasa seperti lukisan di atas piring. Roti gandum yang kenyal, topping yang disusun berlapis, dan sentuhan akhir berupa taburan rempah — semuanya berbicara tentang ketelitian yang jarang ditemui di tengah gaya hidup serba cepat.
Di Balik Layar: Tangan-Tangan yang Tak Pernah Berhenti Belajar
Di balik kehangatan ruang makan, ada dapur yang bekerja sejak subuh. Para koki menyiapkan adonan, meracik bumbu, dan menguji rasa berkali-kali sebelum satu piring pun sampai ke tangan tamu. Salah satu dari mereka mengisahkan perjalanan panjang untuk memadukan mangut dengan cod — butuh belasan kali percobaan, penyesuaian kadar santan, hingga menemukan keseimbangan yang pas. "Kami tidak ingin sekadar memadukan dua bahan. Kami ingin menciptakan momen," katanya. Kalimat itu menggambarkan semangat yang sama: bukan hanya soal menyajikan makanan, tetapi soal menghadirkan pengalaman yang meninggalkan kesan.
Pemilihan nama-nama hidangan pun bukan tanpa makna. Canapés, mangut, dan smørrebrød adalah tiga bahasa rasa yang berbeda, tetapi di meja yang sama mereka belajar berdampingan — persis seperti tamu-tamu yang datang dari latar berbeda dan duduk bersama dalam satu sore yang hangat.
Lebih dari Sekadar Makan Siang
Sunday Brunch ini tampaknya ingin mengingatkan sesuatu yang sering terlupakan: bahwa makan bersama adalah salah satu cara paling sederhana untuk saling menyayangi. Di meja-meja itu, terlihat ayah yang menyuapi anaknya, dua sahabat yang tertawa mengenang masa lalu, dan pasangan lansia yang berpegangan tangan sambil menunggu hidangan penutup. Tidak ada panggung besar, tidak ada sorotan lampu. Hanya orang-orang biasa yang memilih meluangkan waktu untuk satu sama lain.
Bagi mereka yang merindukan akhir pekan yang berbeda — yang tidak sekadar mengisi perut, tetapi juga menenangkan pikiran — Sunday Brunch di InterContinental Jakarta Pondok Indah ini seperti undangan hangat untuk berhenti sejenak. Di tengah kota yang tak pernah tidur, ada tempat di mana waktu seolah berjalan lebih lambat, dan setiap gigitan terasa seperti pelukan kecil yang menyenangkan. Tertarik mencoba? Meja-meja itu mungkin sudah menanti Anda, lengkap dengan aroma laut yang lembut dan senyum yang siap menyambut.
Comments (0)