Aug 28, 2026
entertainment

Sepinya Suvarnabhumi, Ketika Bandara Bangkok Kehilangan Tawa Para Pelancong

Pukul sembilan pagi, dan ruang keberangkatan itu terasa seperti kota yang tertidur. Lantai marmer yang biasanya memantulkan derap kaki ribuan pelancong kini hanya bergema oleh suara sapu petugas keber...

Sepinya Suvarnabhumi, Ketika Bandara Bangkok Kehilangan Tawa Para Pelancong

Pukul sembilan pagi, dan ruang keberangkatan itu terasa seperti kota yang tertidur. Lantai marmer yang biasanya memantulkan derap kaki ribuan pelancong kini hanya bergema oleh suara sapu petugas kebersihan yang berjalan sendirian dari ujung ke ujung. Di sudut ruangan yang luas itu, beberapa kursi masih tersusun rapi, kosong tanpa penumpang. Bandara Suvarnabhumi di Bangkok, yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu gerbang udara tersibuk di Asia Tenggara, mendadak berubah menjadi ruang sunyi pada Rabu (11/3/2020) pagi itu.

Pemandangan itu terekam dalam sebuah momen yang oleh banyak orang disebut sebagai potret paling jujur dari ketakutan dunia: ketika virus corona COVID-19 yang telah menggemparkan seluruh planet mulai melumpuhkan pergerakan manusia. Di Thailand sendiri, lebih dari lima puluh orang telah terinfeksi, dan angka itu tumbuh setiap harinya, perlahan tapi pasti mengubah kebiasaan, rencana, dan mimpi jutaan orang.

Denting Langkah yang Bergema di Aula Kosong

Ada ironi yang menyakitkan di balik kesunyian itu. Suvarnabhumi bukan bandara biasa. Sejak diresmikan, tempat ini menjadi saksi jutaan pertemuan: seorang ayah yang menjemput anaknya yang baru pertama kali merantau, sepasang kekasih yang berpelukan setelah berbulan-bulan berjauhan, atau sekelompok wisatawan yang tertawa riang membawa oleh-oleh khas kota Bangkok. Lorong-lorongnya dulu penuh dengan bahasa yang berbeda-beda, aroma kopi yang bercampur parfum, dan antrean panjang di konter imigrasi yang tak pernah sepi.

Kini, yang tersisa hanyalah keheningan. Pelancong yang masih terlihat di ruang keberangkatan itu berjalan dengan jarak yang dijaga, wajah mereka setengah tertutup masker, mata mereka waspada menatap sekeliling. Tidak ada lagi tawa yang riuh, tidak ada lagi foto-foto bersama, hanya langkah cepat dan harapan untuk segera sampai ke tujuan. Seorang petugas imigrasi yang ditemui di gerbang keberangkatan menghela napas panjang ketika ditanya tentang suasana hari itu.

"Biasanya saya tidak sempat menoleh ke kiri dan ke kanan karena begitu banyak orang. Hari ini, saya bahkan sempat menghitung ubin di lantai," katanya pelan, matanya berkaca-kaca di balik masker. "Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang selama ini kami anggap biasa."

Di Balik Layar: Para Penjaga Kesunyian

Namun di balik sepinya aula keberangkatan, ada perjuangan yang tak terlihat. Petugas kebersihan yang tetap datang, petugas keamanan yang tetap berjaga, dan staf maskapai yang tetap melayani segelintir penumpang yang nekat terbang — mereka semua adalah garda terdepan yang memilih untuk tidak menyerah pada ketakutan. Bagi mereka, bandara ini bukan sekadar gedung megah, melainkan tempat mereka menggantungkan hidup, tempat anak-anak mereka bersekolah dari hasil kerja keras yang tak pernah kenal lelah.

Seorang pramugari yang baru saja turun dari penerbangan terakhirnya mengisahkan perjalanannya yang penuh kecemasan. Ia bercerita bagaimana kabin yang biasanya ramai kini hanya diisi segelintir penumpang, bagaimana ia dan rekan-rekannya harus tetap tersenyum meski hati mereka bergetar. "Kami dilatih untuk selalu melayani dengan senyum, tapi hari-hari ini senyum itu lahir dari doa," ujarnya, suaranya bergetar. "Kami berjuang bukan hanya untuk gaji, tapi agar orang-orang yang pulang bisa sampai di pelukan keluarganya."

Kisah-kisah seperti ini kerap luput dari pemberitaan. Di tengah hiruk-pikuk angka statistik dan grafik penyebaran virus, sisi manusiawi dari krisis ini sering kali tenggelam. Padahal, di setiap sudut bandara yang kosong itu ada mimpi-mimpi yang tertunda, rencana-rencana yang dibatalkan, dan air mata yang tak sempat tumpah.

Harapan di Ujung Landasan

Namun, seperti kata pepatah, malam yang paling gelap biasanya menjelang fajar. Di balik kesunyian Suvarnabhumi, ada harapan yang perlahan tumbuh. Petugas medis yang berjibaku di rumah sakit, para peneliti yang bekerja tanpa lelah mencari vaksin, dan masyarakat yang mulai disiplin menjaga jarak — semuanya adalah bagian dari perjalanan panjang menuju bangkit kembali.

Bandara ini pasti akan ramai lagi. Suatu hari nanti, lorong-lorongnya akan kembali dipenuhi derap kaki, tawa, dan pelukan. Anak-anak akan kembali berlarian di ruang tunggu, dan para pelancong akan kembali memburu oleh-oleh sebelum mengejar pesawat. Namun hingga hari itu tiba, Suvarnabhumi berdiri sebagai saksi bisu sebuah momen bersejarah: ketika dunia berhenti sejenak, dan manusia baru menyadari betapa berharganya hal-hal sederhana seperti bertemu, berpelukan, dan terbang bersama orang-orang yang kita cintai.

Di ruang keberangkatan yang hampir kosong itu, seorang ibu tua duduk sendirian di kursi paling ujung. Di pangkuannya, sebuah foto keluarga yang sudah menguning. Ia menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. Mungkin, pikirnya, keterpisahan ini hanyalah sementara. Mungkin, setelah badai ini reda, semua akan kembali seperti dulu — dan ia akan kembali bertemu anak-anaknya yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Itulah harapan yang membuatnya tetap duduk di sana, menunggu pesawat yang akan membawanya pulang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User