Sep 19, 2026
Nasional

SULAWESI SELATAN — Jejak Pengunyah Pinang Tertua Ditemukan Berusia 16.000 Tahun

Bayangkan sebuah kebiasaan sederhana yang biasa kita lihat di desa-desa—kakek dan nenek yang asyik mengunyah biji pinang hingga mulut mereka memerah—ternya

SULAWESI SELATAN — Jejak Pengunyah Pinang Tertua Ditemukan Berusia 16.000 Tahun

Bayangkan sebuah kebiasaan sederhana yang biasa kita lihat di desa-desa—kakek dan nenek yang asyik mengunyah biji pinang hingga mulut mereka memerah—ternyata sudah berlangsung sejak zaman purba. Ya, Sobat Beritaseputar! Indonesia kembali menorehkan catatan sejarah dunia yang luar biasa. Sebuah penelitian arkeologi berhasil mengungkapkan bahwa Sulawesi Selatan menjadi lokasi ditemukannya jejak "pecandu" biji pinang pertama di dunia. Tak main-main, kebiasaan menyirih ini diperkirakan sudah ada sejak 16.000 tahun lalu.

Temuan ini tak hanya sekadar membongkar gaya hidup manusia purba di Nusantara, tetapi juga menempatkan Indonesia di posisi nomor satu dalam sejarah penggunaan bahan psikoaktif alami ini oleh spesies manusia.

Jejak Merah di Sulawesi Selatan: Bukti Otentik Manusia Purba

Penemuan bersejarah ini berawal dari ekskavasi mendalam di sejumlah gua prasejarah kawasan karst Sulawesi Selatan. Tim peneliti internasional bersama arkeolog lokal menemukan sisa-sisa gigi manusia purba yang menunjukkan noda merah khas—sebuah tanda yang tidak terbantahkan dari aktivitas mengunyah biji pinang (Areca catechu) yang dicampur dengan kapur dan daun sirih.

Analisis penanggalan radiokarbon memastikan bahwa fosil gigi tersebut berasal dari era transisi Pleistosin ke Holosin, tepatnya 16.000 tahun silam. Angka ini jauh lebih tua dibandingkan temuan serupa di kawasan Asia Tenggara lainnya maupun wilayah Pasifik, yang sebelumnya diperkirakan baru berkembang sekitar 4.000 hingga 5.000 tahun lalu.

"Penemuan di Sulawesi Selatan ini mengubah peta sejarah budaya manusia. Kebiasaan mengunyah pinang bukan sekadar tradisi lokal, melainkan salah satu bentuk stimulasi tubuh paling kuno yang pernah dicatat dalam sejarah peradaban manusia," ungkap peneliti arkeologi yang mengkaji temuan tersebut.

Mengapa Biji Pinang Begitu Istimewa Sejak Zaman Prasejarah?

Biji pinang mengandung senyawa alkaloid seperti arecoline yang memberikan efek stimulasi ringan, mirip dengan kafein pada kopi atau nikotin pada tembakau. Bagi manusia prasejarah yang hidup di lingkungan ekstrem Sulawesi pada 16 milenium lalu, mengunyah pinang diperkirakan memiliki berbagai fungsi vital:

  • Menjaga Kehangatan Tubuh: Efek merangsang dari pinang membantu meningkatkan detak jantung dan memberikan sensasi hangat saat cuaca dingin.
  • Menekan Rasa Lapar: Senyawa aktifnya efektif memberikan rasa kenyang sementara saat perburuan makanan menjadi sulit.
  • Kesehatan Mulut Tradisional: Sifat antiseptik alami pada campuran sirih dan pinang membantu memperkuat gigi dan mencegah infeksi gusi di era purba.

Untuk memberikan gambaran jelas mengenai perjalanan tradisi ini, berikut adalah perbandingan pergeseran fungsi mengunyah pinang dari era ke era:

Era Fungsi Utama Menyirih Makna Sosial
Prasejarah (16.000 Tahun Lalu) Stimulan fisik, penahan lapar, ketahanan tubuh Kebutuhan bertahan hidup kelompok purba
Kerajaan Nusantara Simbol kehormatan, penyambutan tamu agung Ritual diplomatik dan kebudayaan istana
Era Modern Warisan kebudayaan lokal & pengobatan herbal Identitas tradisi yang mulai langka

Antara Warisan Leluhur dan Sudut Pandang Kesehatan Modern

Meskipun kebiasaan nyirih atau mengunyah pinang dipandang sebagai warisan budaya yang sangat berharga dan kaya nilai historis, para ahli kesehatan modern memberikan catatan tersendiri. Penggunaan pinang secara berlebihan yang dicampur dengan kapur dan tembakau pada era modern kini diketahui dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mulut.

Namun dari sudut pandang sejarah peradaban, temuan 16.000 tahun lalu di Sulawesi Selatan ini membuktikan betapa adaptif dan cerdasnya leluhur bangsa Indonesia dalam memanfaatkan kekayaan flora sekitar sejak puluhan ribu tahun silam.

Sobat Beritaseputar, tradisi yang sering kita anggap sekadar kebiasaan orang tua di desa ini ternyata menyimpan jejak kebudayaan tertua di muka bumi. Sungguh sebuah kebanggaan sejarah yang luar biasa untuk Nusantara!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User