Sep 19, 2026
Bangka Belitung

Sugiat Santoso Apresiasi Ponpes Al-Hidayah Sukses Kembangkan Bawang Merah

Langkah inovatif ditunjukkan oleh kalangan pesantren dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI

Sugiat Santoso Apresiasi Ponpes Al-Hidayah Sukses Kembangkan Bawang Merah

Langkah inovatif ditunjukkan oleh kalangan pesantren dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Sugiat Santoso, secara terbuka mengapresiasi terobosan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hidayah yang dinilai sukses mengembangkan budidaya komoditas bawang merah secara mandiri.

Inisiatif agribisnis berbasis pesantren ini membuktikan bahwa lembaga pendidikan keagamaan tidak hanya berfokus pada pembinaan moral dan spiritual santri, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak ekonomi riil di tingkat akar rumput. Pengembangan bawang merah ini dinilai menjadi role model kemandirian pesantren di era modern.

Kronologi Pengembangan Agribisnis di Pesantren

Proses budidaya dan pembinaan agribisnis yang dilakukan oleh Ponpes Al-Hidayah melewati sejumlah tahapan penting hingga berhasil membuahkan hasil panen yang optimal:

  1. Tahap Inisiasi Lahan: Pengurus pesantren bersama para santri mengidentifikasi potensi lahan produktif yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal di area sekitar pondok pesantren.
  2. Pelatihan dan Pendampingan Teknis: Melibatkan praktisi dan penyuluh pertanian guna memberikan pemahaman mendalam tentang teknik pembibitan, pola tanam, hingga penanganan hama bawang merah secara berkelanjutan.
  3. Implementasi Penanaman Massal: Para santri dilibatkan langsung dalam perawatan harian, penyiraman, hingga manajemen pemupukan organik untuk menjaga kualitas tanah.
  4. Peninjauan dan Apresiasi Parlemen: Keberhasilan panen komoditas ini menarik perhatian wakil rakyat untuk meninjau langsung efektivitas program kemandirian ekonomi pesantren tersebut.
"Langkah Ponpes Al-Hidayah dalam membudidayakan bawang merah adalah bukti nyata kemandirian ekonomi umat. Pesantren mampu mengambil peran strategis dalam menjaga pasokan pangan daerah sekaligus melatih keterampilan kewirausahaan santri," ujar Sugiat Santoso saat meninjau program tersebut.

Mendorong Kemandirian Ekonomi dan Ketahanan Pangan

Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura strategis yang kerap mengalami fluktuasi harga di pasar domestik. Keberhasilan panen di lingkungan pesantren ini diharapkan dapat menopang kebutuhan logistik internal pondok serta memasok kebutuhan pasar lokal sekitar.

Sugiat Santoso menekankan bahwa sinergi antara pemerintah pusat, parlemen, dan institusi pesantren perlu terus diperluas. Keterlibatan generasi muda santri dalam sektor pertanian modern dinilai sangat krusial untuk regenerasi petani nasional yang kian menyusut.

Faktor Kunci Keberhasilan Program Agribisnis Santri

  • Pemanfaatan Lahan Produktif: Optimalisasi aset tanah pesantren menjadi area tanam hortikultura bernilai ekonomi tinggi.
  • Edukasi Berkelanjutan: Pembekalan ilmu agroteknologi modern bagi para santri agar siap menjadi wirausahawan agribisnis selepas lulus.
  • Efisiensi Rantai Pasok: Hasil panen dialokasikan langsung untuk ketahanan konsumsi santri serta didistribusikan ke pasar lokal tanpa perantara yang panjang.
  • Dukungan Kebijakan: Komitmen parlemen untuk mendorong bantuan sarana dan prasarana pertanian bagi lembaga pendidikan keagamaan.

Melalui keberhasilan budidaya bawang merah ini, DPR RI berharap program serupa dapat direplikasi oleh berbagai pondok pesantren lain di seluruh Indonesia guna mempercepat terwujudnya kedaulatan pangan nasional dari lingkup komunitas terkecil.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User