Di sebuah ruangan kecil di Jakarta Selatan, Nana Mirdad duduk di depan ponselnya. Layar itu tak hanya menampilkan jadwal syuting, tetapi juga unggahan tentang kabut asap yang menyelimuti langit Kalimantan. Ia mengetik perlahan, lalu mengunggahnya. Bukan sekali. Sudah berkali-kali. "Aku nggak bisa diam saja," ujarnya lirih, seolah berbicara pada dirinya sendiri. Di ujung sana, ribuan kilometer jauhnya, hutan-hutan di Sumatra dan Kalimantan terus mengepulkan asap. Di sinilah, di sela pekerjaan sebagai publik figur, sederet artis memilih bersuara.
Bukan hanya Nana Mirdad. Ada juga Densu, hingga beberapa nama lain yang aktif mengampanyekan penanganan kebakaran hutan dan lahan. Mereka menyadari, popularitas adalah panggung yang tak semua orang miliki. "Kalau bukan kami yang bicara, siapa lagi?" kata Densu dalam sebuah perbincangan hangat di sela acara amal beberapa waktu lalu. Kalimat itu sederhana, namun menyentuh. Ia mengisahkan bagaimana ia mulai membaca laporan-laporan tentang titik api, tentang warga yang sesak napas, tentang anak-anak yang tak bisa sekolah karena asap.
"Aku nggak mau sekadar jadi artis yang sibuk dengan diri sendiri. Ada hutan yang terbakar, ada warga yang menangis. Suara kecilku mungkin tak mengubah semuanya, tapi setidaknya aku mencoba." — Densu, dalam sebuah wawancara.
Mengapa Suara Mereka Penting
Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan. Ia menyentuh banyak hal: kesehatan, pendidikan, hingga perekonomian warga. Di Kalimantan dan Sumatra, kabut asap kerap membuat penerbangan tertunda, sekolah diliburkan, dan rumah sakit dipenuhi pasien ISPA. Di balik data itu, ada kisah manusia. Ada ibu-ibu yang harus menutup jendela dengan kain basah, ada petani yang kehilangan lahan karena merambatnya api. "Kami ingin cerita ini sampai ke lebih banyak orang," ujar Nana Mirdad dalam sebuah unggahan. "Bukan untuk menakut-nakuti, tapi agar kita peduli."
Perjuangan para artis ini tidak selalu berjalan mulus. Ada saja komentar miring, tuduhan pansos, atau ajakan untuk lebih fokus pada karier. Namun mereka memilih bertahan. "Awalnya ada air mata," kenang Densu. "Tapi aku sadar, ini bukan tentang aku. Ini tentang mereka yang terdampak." Ia pun mulai menjalin komunikasi dengan sejumlah komunitas lingkungan, mengikuti diskusi daring, dan menyebarkan informasi yang valid. "Aku belajar banyak. Ternyata Karhutla itu bukan cuma soal api, tapi soal tata kelola lahan, soal keserakahan, soal ketidakpedulian yang sudah lama," tambahnya.
Perjalanan Panjang Menuju Perubahan
Perjalanan ini bukanlah sprint, melainkan maraton. Nana Mirdad dan Densu menyadari, menyuarakan isu ini butuh konsistensi. Mereka tak ingin hanya ramai di awal, lalu sepi di tengah jalan. "Kami nggak mau musiman," tegas Nana. "Ini soal masa depan anak-anak kita. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?"
Di balik layar, ada momen mengharukan. Nana pernah bercerita tentang seorang ibu di Kalimantan yang harus menggendong anaknya berjalan jauh karena ambulance tak bisa menembus asap. "Cerita itu bikin aku nggak bisa tidur," kenangnya. "Dari situ aku tahu, suaraku harus lebih keras lagi." Sementara Densu, ia mengaku sering mendapat pesan dari warga yang berterima kasih karena sudah peduli. "Itu bahan bakar buatku," ujarnya.
Langkah mereka mungkin tak langsung memadamkan api. Tapi ada mimpi yang mereka rawat: hutan yang kembali hijau, langit yang biru, dan anak-anak yang bisa bermain di luar tanpa masker. "Kita semua punya peran. Artis, warga, pemerintah," kata Nana. "Jangan tunggu sempurna untuk mulai peduli." Air mata mungkin sudah jatuh, tapi harapan masih menyala. Dan dari ruangan kecil itu, suara-suara mereka terus bergema.
Comments (0)