Di sebuah ruangan berukuran 3x4 meter yang dipenuhi tumpukan skenario dan catatan kecil, Sintya Marisca duduk bersila di lantai. Matanya menerawang, mencoba menangkap denyut nadi seorang detektif yang akan ia hidupkan di layar lebar. Bukan sekadar peran, melainkan sebuah perjalanan batin yang menuntutnya menyelami dunia yang jauh dari kesehariannya sebagai aktris.
Perempuan berdarah Manado ini mengisahkan bahwa untuk memerankan detektif di serial My Chef in Crime, ia tidak cukup hanya menghafal dialog. Ia memilih untuk menyelami gerak-gerik, cara bicara, hingga cara berpikir seorang penyidik sungguhan. "Saya ingin penonton merasakan bahwa karakter ini hidup, bukan sekadar tempelan," ujarnya pelan, dengan sorot mata yang serius.
Riset Langsung ke Dunia Polisi
Perjalanan Sintya membangun karakter dimulai dari langkah yang tidak biasa. Ia tidak hanya membaca buku atau menonton film detektif. Ia memilih untuk turun langsung ke lapangan, berinteraksi dengan polisi asli, dan mengamati bagaimana mereka berbicara, bersikap, dan mengambil keputusan di tengah tekanan. "Momen mengharukan itu terjadi ketika saya diizinkan mengikuti mereka selama beberapa hari. Saya melihat bagaimana mereka menahan lelah, menyembunyikan emosi, tapi tetap tegas," kenangnya.
Dari pengamatan itu, Sintya menemukan bahwa seorang detektif tidak selalu berbicara lantang. Justru sering kali, nada suara yang rendah dan tatapan mata yang tajam lebih menusuk. Ia pun mulai melatih diri untuk mengubah ritme bicaranya, dari yang cenderung cepat menjadi lebih terukur dan penuh arti. "Riset gaya bicara polisi asli itu membuka mata saya. Ternyata di balik layar, mereka adalah manusia biasa yang berjuang melawan rasa takut," tambahnya dengan nada mengharukan.
Totalitas di Balik Layar
Totalitas Sintya tidak berhenti pada riset. Di lokasi syuting, ia dikenal sebagai aktris yang datang paling awal dan pulang paling akhir. Ia sering terlihat berlatih adegan sendiri di sudut ruangan, mencoba berbagai intonasi dan gestur. Sutradara dan kru pun mengaku kagum dengan dedikasinya. "Saya ingin setiap hela napas saya di layar adalah napas seorang detektif. Ini bukan tentang menjadi populer, tapi tentang menghormati profesi yang saya perankan," tegasnya.
Di balik layar, ada momen-momen yang membuatnya nyaris menyerah. Adegan kejar-kejaran yang menuntut fisik prima, dialog panjang yang harus diucapkan dengan emosi tertahan, hingga jadwal syuting yang padat. Namun, Sintya memilih untuk bangkit setiap kali rasa lelah itu datang. "Air mata pernah jatuh di sela-sela syuting, tapi saya selalu ingat mimpi saya sejak kecil: menjadi aktris yang bisa menyentuh hati penonton. Itu yang membuat saya bertahan," ujarnya, dengan suara bergetar.
Inspirasi dari Kesederhanaan
Menurut Sintya, kunci dari totalitasnya adalah kesederhanaan. Ia tidak pernah menganggap dirinya bintang. Ia justru merasa sebagai wakil dari banyak orang yang berjuang di balik layar, yang namanya tidak pernah disebut, tetapi karyanya selalu dinikmati. "Kisah saya ini sederhana. Saya hanya ingin melakukan yang terbaik untuk setiap peran yang dipercayakan. Kalau itu bisa menginspirasi orang lain untuk tidak menyerah pada mimpi mereka, saya sudah sangat bersyukur," tuturnya.
Di akhir perbincangan, Sintya tersenyum. Senyum yang tulus, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan perjalanan panjang dan menemukan makna di setiap langkahnya. Ia berharap penonton tidak hanya melihat aksi detektif yang ia perankan, tetapi juga merasakan denyut kemanusiaan di balik seragam dan lencana. "Saya ingin mereka tahu bahwa di balik setiap penyelidikan, ada hati yang berdetak, ada mimpi yang dijaga, dan ada perjuangan yang tak pernah terlihat," pungkasnya, meninggalkan ruangan dengan langkah mantap, seperti seorang detektif yang baru saja memecahkan kasus terbesar dalam hidupnya.
Kisah Sintya Marisca adalah pengingat bahwa profesi apa pun, jika digeluti dengan totalitas dan hati, akan melahirkan karya yang tidak lekang oleh waktu. Ia tidak hanya berakting, ia menghidupkan. Dan itu, pada akhirnya, adalah inspirasi paling sederhana namun paling menyentuh.
Comments (0)