Aug 25, 2026
entertainment

Perjalanan Emosional Film Empat Musim Pertiwi Menuju Panggung Dunia

Di sebuah ruangan kecil di kawasan Jakarta Selatan, di antara tumpukan skenario dan storyboard yang menempel di dinding, sutradara muda itu menatap layar laptopnya dengan mata berkaca-kaca. Di hadapan...

Perjalanan Emosional Film Empat Musim Pertiwi Menuju Panggung Dunia

Di sebuah ruangan kecil di kawasan Jakarta Selatan, di antara tumpukan skenario dan storyboard yang menempel di dinding, sutradara muda itu menatap layar laptopnya dengan mata berkaca-kaca. Di hadapannya, sebuah email konfirmasi dari panitia Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 terpampang jelas. Momen yang telah ia impikan sejak pertama kali menulis naskah tiga tahun lalu akhirnya tiba. Film berjudul Empat Musim Pertiwi resmi terpilih untuk tayang di salah satu festival film paling bergengsi di dunia.

Perjalanan film ini bukanlah jalan yang mulus. Di balik layar, ada ribuan jam kerja, air mata, dan perjuangan tanpa henti dari seluruh kru. Kisah yang diangkat dalam film ini pun lahir dari pengalaman pribadi sang sutradara, yang tumbuh di sebuah desa kecil di kaki Gunung Bromo. Ia ingin menghadirkan potret sederhana tentang empat perempuan dari empat generasi yang berjuang menjaga kehangatan keluarga di tengah perubahan zaman.

Dari Dapur Kecil ke Layar Lebar

Ide awal film ini muncul saat sang sutradara duduk di dapur neneknya, mendengarkan cerita tentang masa lalu yang penuh liku. "Nenek saya selalu berkata, hidup ini seperti empat musim. Ada saatnya panas, ada saatnya hujan, tapi kita harus tetap berdiri," ujarnya mengenang. Dari situlah benih cerita Empat Musim Pertiwi mulai tumbuh. Ia menghabiskan waktu dua tahun untuk riset, mewawancarai puluhan perempuan dari berbagai latar belakang, dan menulis ulang naskahnya sebanyak tujuh kali.

Proses syuting sendiri berlangsung selama empat bulan di lokasi yang menantang, mulai dari perkampungan nelayan di pesisir utara Jawa hingga perkebunan teh di dataran tinggi Bandung. Kru film harus berjuang melawan cuaca ekstrem dan medan yang sulit. Namun, semangat para pemain dan kru tidak pernah padam. "Ada satu adegan yang mengharuskan kami syuting di tengah hujan deras selama tiga hari berturut-turut. Semua orang demam, tapi tidak ada satu pun yang mengeluh. Kami semua percaya pada kekuatan cerita ini," tutur sang produser, yang juga merupakan sahabat lama sutradara.

"Setiap tetes air mata di lokasi syuting adalah bagian dari doa kami agar film ini bisa menyentuh hati banyak orang." — Sang Sutradara

Mimpi yang Mengakar di Hati

Keberhasilan film ini menembus seleksi TIFF bukanlah kebetulan. Tim kurator festival yang terkenal ketat itu melihat keunikan dalam cara film ini bercerita. Mereka menilai Empat Musim Pertiwi berhasil menangkap esensi kehidupan yang universal: tentang cinta, pengorbanan, dan keberanian untuk bangkit kembali. "Kami tidak pernah membayangkan film dengan anggaran terbatas ini bisa sampai ke panggung internasional. Ini adalah bukti bahwa kerja keras dan kejujuran dalam berkarya tidak pernah mengkhianati hasil," ujar sang sutradara dengan suara bergetar.

Bagi para pemain, kebanyakan aktor teater yang belum pernah tampil di film layar lebar, momen ini adalah sebuah keajaiban. Salah satu pemeran utama, seorang perempuan paruh baya yang sebelumnya bekerja sebagai guru SD, mengaku tidak bisa menahan air matanya saat mendengar kabar tersebut. "Saya hanya ingin bercerita tentang ibu saya yang dulu berjuang sendirian membesarkan saya. Sekarang, cerita itu akan dilihat oleh orang-orang dari seluruh dunia. Ini lebih dari mimpi," katanya.

Harapan yang Membawa Berkah

Kabar ini pun membawa harapan baru bagi perfilman Indonesia. Banyak sineas muda yang terinspirasi oleh perjalanan Empat Musim Pertiwi. Mereka melihat bahwa dengan keterbatasan, masih ada ruang untuk berkarya dan diakui dunia. Sang sutradara berharap film ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga pengingat akan pentingnya menghargai momen-momen sederhana bersama keluarga. "Di tengah dunia yang semakin cepat, kita sering lupa bahwa kebahagiaan sejati ada di hal-hal kecil. Melalui film ini, saya ingin mengajak penonton untuk berhenti sejenak dan merasakan kehangatan yang mungkin sudah lama mereka rindukan," tuturnya.

Kini, tim produksi sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk pemutaran perdana di Toronto pada September 2026. Mereka akan membawa serta beberapa properti asli dari lokasi syuting, termasuk sebuah selendang batik tua yang menjadi simbol dalam film. Bagi mereka, kehadiran di TIFF bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan yang lebih panjang. Seperti kata sang sutradara, "Ini adalah persembahan kami untuk Indonesia, untuk semua orang yang pernah merasa kecil, tetapi punya mimpi yang besar."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User