Aug 25, 2026
entertainment

Sherly Tjoanda: Bangkit dari Duka, Memimpin Maluku Utara dengan Hati

Cahaya pagi jatuh perlahan di atas Selat Ternate. Gunung Gamalama berdiri megah di kejauhan, seolah menjadi saksi bisu setiap langkah yang diambil perempuan itu. Di beranda kediaman dinas yang sederha...

Sherly Tjoanda: Bangkit dari Duka, Memimpin Maluku Utara dengan Hati

Cahaya pagi jatuh perlahan di atas Selat Ternate. Gunung Gamalama berdiri megah di kejauhan, seolah menjadi saksi bisu setiap langkah yang diambil perempuan itu. Di beranda kediaman dinas yang sederhana, Sherly Tjoanda menatap sejenak sebuah foto di mejanya — potret mendiang suami tercinta — sebelum akhirnya tersenyum tipis dan melangkah keluar, menyapa hari, menyapa rakyatnya.

Bagi warga Maluku Utara, pemandangan semacam itu kini menjadi keseharian yang menghangatkan hati. Gubernur perempuan pertama dalam sejarah provinsi kepulauan ini tidak pernah terlihat jauh dari rakyatnya. Ia berjalan di antara pedagang pasar, duduk bersama istri-istri nelayan, dan mendengarkan keluh kesah warga pulau terluar seolah mendengarkan cerita keluarganya sendiri.

Melanjutkan Mimpi yang Sempat Terhenti

Perjalanan Sherly menuju kursi gubernur bukanlah perjalanan biasa. Ada sebuah babak hidup yang berat di baliknya. Ketika musim pemilihan 2024 tengah berlangsung, takdir mengambil suaminya, Benny Laos, calon gubernur yang saat itu tengah berjuang memenangkan hati rakyat. Sebuah musibah di perairan Maluku Utara merenggut nyawa sang suami, meninggalkan duka mendalam bagi Sherly dan anak-anaknya.

Di tengah air mata yang belum kering, Sherly dihadapkan pada pilihan: berhenti, atau bangkit melanjutkan mimpi yang telah dirajut bersama. Dengan keberanian yang lahir dari cinta, ia memilih jalan kedua. Meninggalkan kursinya sebagai anggota dewan di Senayan, ia pulang ke kampung halaman dan meneruskan perjuangan sang suami sebagai calon gubernur.

"Ada masa ketika saya merasa dunia berhenti. Tetapi saya sadar, mimpi kami untuk Maluku Utara tidak boleh ikut berhenti. Saya bangkit bukan hanya untuk diri saya, tetapi untuk anak-anak saya, untuk rakyat yang telah menitipkan harapan," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Rakyat Maluku Utara menjawab ketulusan itu. Pada pemilihan November 2024, Sherly meraih kemenangan, dan pada Februari 2025 ia dilantik sebagai gubernur — sebuah momen mengharukan yang disambut haru oleh banyak warga di seluruh penjuru kepulauan.

Perempuan Pertama di Negeri Rempah

Pelantikan Sherly mencatatkan sejarah. Ia menjadi gubernur perempuan pertama Maluku Utara, bahkan satu-satunya perempuan di antara puluhan gubernur yang dilantik dalam gelombang yang sama. Di ruang-ruang kekuasaan yang selama ini didominasi laki-laki, kehadirannya membawa warna baru: kepemimpinan yang lahir dari keteguhan seorang ibu.

Bagi gadis-gadis kecil di Ternate, Tidore, Halmahera, hingga pulau-pulau terpencil di Sula dan Morotai, sosok Sherly adalah bukti hidup bahwa mimpi tidak mengenal batas. Ia kerap menitipkan pesan itu setiap kali berkunjung ke sekolah-sekolah dan kampung-kampung pesisir.

"Kepada anak-anak perempuan di kampung-kampung, saya selalu bilang: jangan takut bermimpi besar. Pulau kita boleh kecil di peta, tetapi mimpi kita harus seluas samudra," katanya.

Di Balik Layar, Kesederhanaan yang Menyentuh

Di balik layar kesibukan protokoler, Sherly dikenal dekat dengan warga melalui cara-cara yang sederhana. Di akun media sosialnya, ia kerap berbagi potongan keseharian: mencicipi dagangan ibu-ibu di pasar, berbincang dengan petani pala dan cengkeh, atau sekadar menikmati senja di tepi pantai bersama warga. Unggahan-unggahan itu bukan sekadar citra, melainkan jembatan rasa antara pemimpin dan rakyatnya.

Orang-orang di sekitarnya bercerita, sang gubernur sering meminta jadwalnya diselingi kunjungan ke kampung-kampung tanpa seremoni berlebihan. Baginya, kebenaran hidup rakyat tidak ditemukan di ruang rapat yang sejuk, melainkan di beranda rumah-rumah kayu dan di atas perahu-perahu nelayan yang berangkat sebelum fajar.

Harapan yang Tumbuh di Antara Pulau

Kini, di tengah beban sejarah dan harapan yang dipikulnya, Sherly menatap Maluku Utara dengan mimpi yang besar: pendidikan yang menjangkau pulau terjauh, layanan kesehatan yang hadir di setiap kecamatan kepulauan, dan ekonomi rakyat yang bertumpu pada kekayaan rempah serta laut yang selama berabad-abad menghidupi negeri ini.

Senja pun turun di Ternate. Di tepi pantai, Sherly berjalan perlahan, menyapa anak-anak yang bermain di pasir. Ada air mata yang pernah jatuh dalam perjalanannya, ada luka yang mungkin tak pernah benar-benar hilang. Tetapi dari semua itu, ia memilih untuk terus berjuang — dan di situlah kisahnya menjadi inspirasi: bahwa dari duka yang paling dalam sekalipun, seseorang bisa bangkit dan memimpin dengan hati.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User