Asap masih menyisakan bau hangus di udara ketika para tetua Desa Adat Sade, Lombok Tengah, berkumpul di bawah sebuah pohon rindang. Di sudut halaman yang hanya berukuran puluhan meter persegi itu, tumpukan bambu, ijuk, dan jerami berserakan — sisa-sisa rumah adat yang beberapa hari lalu dilalap si jago merah. Seorang nenek duduk bersimpuh di atas tikar anyaman, matanya menerawang ke arah puing-puing yang dulu menjadi dapur tempat ia memasak untuk keluarganya.
Kebakaran yang melanda kampung adat di kaki Gunung Rinjani itu memang menyisakan duka yang dalam. Namun di balik kepulan asap dan air mata, tumbuh semangat yang tidak pernah padam. Warga Sade, yang dikenal teguh memegang adat dan tradisi, kini bahu-membahu menyusun rencana pemulihan. Bukan sekadar membangun kembali bangunan, melainkan menghidupkan kembali denyut kehidupan sebuah peradaban yang diwariskan turun-temurun.
Perjalanan Menyusuri Rasa Kehilangan
Kampung Sade bukan sekadar deretan rumah beratap alang-alang. Ia adalah museum hidup suku Sasak yang masih menjaga cara hidup leluhur. Setiap anyaman bambu pada dinding rumah, setiap butir beras yang ditumbuk dengan lesung, hingga ritual-ritual adat yang masih dijalankan, semuanya adalah warisan yang tidak ternilai.
Bagi warga, kebakaran kali ini adalah ujian terberat dalam perjalanan panjang mereka menjaga tradisi. "Saya melihat rumah itu terbakar seperti melihat bagian dari diri saya ikut hilang," tutur seorang warga dengan suara bergetar. Air mata memang jatuh, tetapi di desa ini, orang-orang terbiasa bangkit. Sejak pagi, para pemuda sudah mulai mengumpulkan kayu dan bambu. Perempuan-perempuan sibuk menyiapkan makanan untuk para pekerja, sementara para tetua berdoa memohon kekuatan.
"Api boleh menghanguskan rumah, tetapi tidak akan pernah menghanguskan adat kami."
Rencana Pemulihan yang Menyatukan Banyak Pihak
Kabar duka dari Sade pun sampai ke telinga pemerintah. Kementerian Pariwisata, melalui biro komunikasinya, menyatakan komitmen untuk mendampingi proses pemulihan desa adat ini. Rencana pemulihan yang disusun tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga aspek sosial dan budaya masyarakat setempat. Pendekatan yang dipilih adalah kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tokoh adat, dan masyarakat.
Di balik layar, sejumlah pihak menyiapkan langkah-langkah nyata. Mulai dari pendataan rumah yang rusak, penyediaan material bangunan tradisional, hingga pendampingan psikologis bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Yang menarik, pemulihan ini dilakukan dengan tetap mempertahankan keaslian arsitektur rumah adat Sade — atap alang-alang, dinding anyaman bambu, dan lantai tanah yang dipadatkan. Sebab, keaslian itulah yang menjadi daya tarik utama desa yang setiap harinya dikunjungi ribuan wisatawan ini.
Namun, bagi warga Sade, pemulihan bukan soal bangunan semata. Mereka bermimpi rumah-rumah itu kembali berdiri kokoh, dihuni oleh senyum anak-anak yang berlarian di halaman, dan diramaikan oleh suara gemerincing alat tenun tradisional yang dulu menjadi denyut ekonomi keluarga. Mimpi itulah yang kini mereka peluk erat.
Semangat yang Tak Pernah Padam
Menjelang senja, langit Lombok berubah jingga. Anak-anak kecil kembali bermain di antara tumpukan bambu, tertawa riang seolah lupa bahwa rumah mereka sempat terbakar. Seorang perempuan tua kembali menenun di teras rumah saudaranya, perlahan, dengan sabar, seperti biasa. Pemandangan sederhana itu menjadi simbol bahwa kehidupan di Sade tidak berhenti pada musibah.
Warga percaya, dengan gotong royong dan dukungan banyak pihak, Desa Adat Sade akan kembali hidup. Mereka berjanji menjaga api — bukan api yang menghanguskan, melainkan api semangat yang menyala di dalam dada. Dari puing-puing yang hangus, akan tumbuh kembali rumah-rumah adat yang berdiri tegap, menyimpan kisah tentang bagaimana sebuah komunitas kecil di pulau Lombok berjuang, menangis, lalu bangkit dengan kepala tegak.
Perjalanan pemulihan memang panjang dan tidak mudah. Namun bagi warga Sade, selama adat masih dijaga dan semangat masih menyala, tidak ada api yang mampu memadamkan masa depan mereka. Di sanalah letak inspirasi sesungguhnya: kekuatan sebuah desa kecil yang memilih untuk bangkit, berpelukan dalam kebersamaan, dan melangkah maju menatap hari esok.
Comments (0)