Di sebuah rumah petak berukuran 3x4 meter di pinggiran kota, aroma kopi hitam menyeruak pelan saat jam menunjukkan pukul empat pagi. Di sanalah, di bawah cahaya lampu temaram yang mulai redup, Pak Harun yang kini berusia 72 tahun menyeduh segelas kopi tanpa gula—persis seperti yang disukai istrinya, Bu Sumiati, selama 45 tahun terakhir. Ia melakukannya setiap hari tanpa pernah bosan, seolah menyeduh kopi adalah doa kecil yang diam-diam ia panjatkan untuk wanita yang menemaninya melewati segala musim kehidupan.
Perjalanan yang Dimulai dari Sebuah Kenekatan
Kisah cinta mereka mengisahkan perjalanan panjang yang tidak pernah dimulai dengan romantika besar. Pak Harun dan Bu Sumiati bertemu pada 1978, di sebuah pasar tradisional tempat keduanya sama-sama berjuang mencari nafkah. Ia seorang kuli angkut, ia penjual sayur keliling. Dari sapaan singkat di antara tumpukan kardus dan keranjang bambu, tumbuh rasa yang perlahan mengakar tanpa disadari.
"Kami tidak pernah mengucapkan kata cinta," tutur Pak Harun dengan mata berkaca-kaca. "Yang kami punya hanya keyakinan bahwa kami harus saling menjaga, apa pun yang terjadi." Pernikahan mereka digelar sederhana—tanpa resepsi meriah, tanpa pelaminan, hanya doa dua keluarga dan sepiring nasi kuning yang dimasak sendiri oleh sang ibu.
"Cinta itu tidak selalu tentang bunga dan puisi. Terkadang ia hadir dalam bentuk menahan lapar agar anak bisa makan, atau menahan lelah agar pasangan bisa tidur lebih nyenyak."
Air Mata di Balik Layar Kehidupan
Perjalanan rumah tangga mereka tidak pernah mulus. Ada tahun-tahun ketika uang di rumah hanya cukup untuk membeli segenggam beras, dan keduanya harus bergantian meminum air agar perut tidak terlalu perih menahan lapar. Ada pula momen mengharukan ketika anak pertama mereka jatuh sakit parah, dan Pak Harun berjalan kaki puluhan kilometer demi mencari tabib yang bisa menyembuhkan sang buah hati.
Di balik layar kehidupan yang tampak tenang itu, tersimpan ratusan air mata yang tidak pernah mereka ceritakan kepada siapa pun. Bu Sumiati mengaku pernah hampir menyerah. "Saya pernah berpikir, cukup sampai di sini saja. Tapi setiap kali melihat suami saya pulang dengan tubuh penuh keringat dan tetap tersenyum, saya malu pada diri sendiri," ujarnya sambil menyeka sudut matanya.
Ujian terbesar datang lima tahun lalu, ketika Bu Sumiati divonis mengalami penyempitan pembuluh darah dan harus menjalani perawatan rutin. Sejak itu, Pak Harun yang dulu tidak pernah memegang panci, kini mahir memasak bubur, merebus sayur, dan menyiapkan obat tepat waktu. Ia belajar membaca resep dokter dengan kacamata yang mulai kabur, demi satu hal sederhana: agar istrinya bisa terus hidup bersamanya lebih lama.
Bangkit Bersama dari Keterbatasan
Hidup mereka mengajarkan bahwa cinta sejati bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang keberanian untuk bangkit setiap kali jatuh. Ketika anak-anak mereka mulai beranjak dewasa dan merantau, rumah petak itu justru terasa lebih hangat. Keduanya mengisi hari-hari tua dengan hal-hal kecil: menanam cabai di pot bekas, mendengarkan radio tua, dan duduk berdua di teras sambil menghitung bintang.
Kebahagiaan mereka terpancar dari hal-hal yang paling sederhana. Setiap sore, Pak Harun memijat kaki istrinya yang sering kesemutan. Setiap malam, Bu Sumiati menyisir rambut putih suaminya yang mulai menipis. Keduanya tidak pernah mengucapkan kata sayang, tetapi bahasa tubuh mereka berbicara lebih lantang daripada seribu kata-kata manis.
Kini, di usia senja, mereka masih berpegang pada mimpi yang sama: melihat anak-cucu tumbuh dalam keluarga yang utuh. "Saya tidak punya harta untuk diwariskan. Yang bisa saya wariskan hanya teladan tentang bagaimana mencintai dengan tulus," ucap Pak Harun pelan.
Cinta yang Menjadi Inspirasi
Kisah pasangan ini menjadi inspirasi bagi banyak tetangga yang menyaksikan kesetiaan mereka dari dekat. Banyak anak muda di lingkungan itu yang mengaku belajar banyak dari cara Pak Harun memperlakukan istrinya. Ketika ditanya rahasia pernikahan yang bertahan 45 tahun, Pak Harun hanya tertawa kecil. "Tidak ada rahasia. Saya hanya selalu mengingat bahwa ia adalah orang yang pernah memilih saya saat saya tidak punya apa-apa," jawabnya.
Di penghujung wawancara, Bu Sumiati meminta suaminya menyanyikan tembang lawas kesukaannya, seperti yang biasa ia lakukan di malam-malam hujan. Suara parau itu menggema di ruangan sempit, dan di sana, di antara dinding yang mulai retak dan genteng yang bocor, terlihat dua insan yang membuktikan bahwa cinta tidak pernah memerlukan kemewahan—ia hanya butuh dua hati yang memilih untuk tetap bertahan, dalam suka maupun duka, hingga ajal memisahkan.
Comments (0)