Suara tawa anak-anak pecah di atas hamparan rumput Lapangan Sunburst BSD, Tangerang Selatan, saat mentari pagi menyapu wajah-wajah penuh antusias. Seorang bocah perempuan berlari dengan balon berbentuk hati di tangannya, sementara ibunya, Sinta, duduk bersila di tikar anyaman, menyaksikan dengan senyum yang tak pernah lepas. “Sudah lama saya ingin mengajak anak saya menonton acara TV secara langsung. Di sini, semuanya gratis. Rasanya seperti mimpi,” ujarnya, suaranya lembut namun penuh syukur.
Hari itu, Minggu yang cerah, TRANS TV kembali merayakan kebersamaan melalui TRANS TV Festival Vol. 5. Bukan sekadar pesta hiburan, acara ini menjelma menjadi ruang publik tempat cerita-cerita manusiawi saling bersinggungan. Dari sudut lapangan, aroma kopi dari kedai-kedai kecil menyeruak, berbaur dengan melodi latihan panggung yang samar-samar terdengar. Semua yang hadir seolah diajak untuk sejenak melupakan beban hidup dan tenggelam dalam canda.
Perjalanan dari Ujung Kota
Di antara lautan manusia, seorang bapak separuh baya bernama Herman duduk di kursi roda, ditemani anak laki-lakinya. Mereka datang dari Bogor, menempuh perjalanan dua jam dengan kereta dan angkutan umum. “Saya dengar ada festival gratis, langsung saya ajak Bapak. Beliau sangat suka musik dangdut dan ingin melihat penyanyi idolanya,” ujar sang anak, Deden, sambil mengelap keringat di dahi ayahnya. Herman hanya bisa tersenyum, matanya menerawang ke panggung yang mulai diisi oleh para pengisi acara. Momen sederhana ini menjadi lebih dari sekadar hiburan—ia adalah pengobat rindu, pengikat kasih antara ayah dan anak.
Tak jauh dari mereka, sekelompok remaja putri asal Tangerang Kota berbagi cerita. Salah satunya, Nisa, mengisahkan bahwa mereka sengaja menabung uang jajan selama sebulan untuk ongkos ke BSD. “Kami mau lihat band favorit kami. Ini kesempatan langka, jadi meski harus naik angkot tiga kali, kami rela,” katanya sembari tertawa ceria. Keringat yang membasahi pelipisnya tak mengurangi semangat yang terpancar dari matanya.
Panggung yang Menghidupkan Asa
Ketika lampu panggung mulai menyala, seluruh lapangan bergemuruh. Penonton bersorak, bahkan ada yang meneteskan air mata. Salah satunya adalah Alya, seorang mahasiswi asal Tangerang yang datang sendiri. “Saya baru saja kehilangan pekerjaan paruh waktu. Rasanya berat. Tapi begitu saya tiba di sini, semua beban itu lepas,” tuturnya, matanya berbinar. Di atas panggung, para artis ternama yang biasanya hanya bisa disaksikan lewat layar kaca, kini tampak begitu dekat. Interaksi langsung antara penonton dan bintang tamu menciptakan keintiman yang jarang terjadi. Beberapa kali, penyanyi utama mengundang anak-anak naik ke panggung untuk ikut menari, membuat tawa riuh penonton.
Musik mengalun, dari pop, dangdut, hingga rock, menyesuaikan detak jantung ribuan orang yang berkumpul. Seorang ibu paruh baya, Endang, yang datang bersama tetangganya, tak kuasa menahan air mata saat lagu nostalgia dikumandangkan. “Lagu ini mengingatkan saya pada almarhum suami. Dia pasti senang kalau tahu saya bisa tertawa lagi,” ungkapnya sambil menyeka pipi. Di saat seperti inilah panggung tak lagi sekadar panggung; ia menjadi ruang penyembuhan.
Cerita dari Balik Layar
Di belakang panggung, para relawan dan panitia sibuk memastikan semuanya berjalan lancar. Seorang panitia senior, Rina, mengisahkan bagaimana persiapan acara ini sudah dimulai sejak sebulan lalu, melibatkan ratusan orang. “Kami ingin memberikan panggung bagi semua orang. Bukan hanya hiburan, tapi juga harapan. Melihat ribuan orang tersenyum adalah bayaran paling mahal,” ucapnya sambil membantu seorang nenek mencari tempat duduk. Ada juga kisah para pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar area. Salah satunya, Ibu Sumiyati, penjual tahu gejrot asal Cirebon, yang mengaku omzetnya naik tiga kali lipat. “Saya bisa bayar uang sekolah anak dari hasil jualan hari ini,” katanya.
Keriuhan di depan panggung tak mengurangi semangat para petugas kebersihan yang berkeliling dengan kantong sampah besar. Pak Udin, salah seorang di antaranya, mengaku bangga bisa terlibat. “Walaupun tugas saya cuma memungut sampah, saya ikut senang melihat orang-orang gembira. Sampahnya banyak, tapi hati jadi ringan,” ujarnya sembari tertawa. Kata-katanya sederhana namun sarat makna, mencerminkan bahwa kebahagiaan bisa ditularkan lewat cara apa pun.
Di Bawah Langit Senja
Menjelang sore, senja menyapu langit BSD dengan semburat jingga. Panggung masih bergemuruh dengan alunan musik. Di sudut lapangan, sekelompok pemuda duduk melingkar sambil bernyanyi bersama. Salah satu dari mereka, Rizky, bercerita bahwa ia dan teman-temannya adalah pelajar SMK yang bercita-cita menjadi musisi. “Kami dapat inspirasi besar hari ini. Melihat langsung bagaimana musik bisa menyatukan banyak orang, membuat kami makin semangat untuk mewujudkan mimpi,” ungkapnya.
Ketika konser mencapai puncaknya, panggung berubah menjadi lautan cahaya dari layar ponsel yang diangkat tinggi. Suasana magis ini seakan meneguhkan apa yang dikatakan oleh seorang penonton setia, “Ini bukan sekadar festival. Ini adalah perayaan kehidupan, tempat semua orang setara.” Benar adanya, di Lapangan Sunburst BSD, tak ada sekat ekonomi atau status sosial. Yang ada hanyalah hasrat yang sama: ingin tertawa, ingin bernyanyi, dan ingin merasa bahwa mereka tidak sendirian.
Akhirnya, selepas azan magrib berkumandang, acara pun usai. Orang-orang beranjak perlahan dengan wajah puas meski kaki terasa pegal. Sinta, ibu muda tadi, menggendong anaknya yang sudah tertidur lelap. “Besok-besok, kalau ada lagi, pasti kami datang lagi,” bisiknya pada sang buah hati. Di balik sederhananya kata-kata itu, terselip makna mendalam: bahwa kebahagiaan sejati kadang hadir dari hal-hal yang tak perlu dibayar mahal—cukup dengan kehadiran, kebersamaan, dan sejumput mimpi yang dipupuk bersama.
Comments (0)