Riak tawa membuncah dari berbagai penjuru. Di antara kerumunan, seorang anak kecil bertubuh mungil berlari ke arah panggung utama, menggenggam erat balon berbentuk karakter kartun. Tak jauh darinya, seorang pria berambut putih duduk tenang di kursi yang disediakan, senyumnya merekah menyaksikan cucunya yang asyik mewarnai. Dua potret yang berbeda, namun menyatu dalam satu ruang yang sama: TRANS TV Festival Vol 5. Inilah wajah Lapangan Sunburst BSD, Tangerang Selatan, pada Minggu (26/7) – sebuah pertemuan lintas generasi yang jarang terjadi dalam satu gelaran hiburan.
Ruang Temu yang Melampaui Usia
Begitu gerbang dibuka pukul sembilan pagi, arus pengunjung langsung memadati area festival. Yang menarik, tidak ada satu kelompok usia pun yang mendominasi. Balita yang baru belajar berjalan, remaja yang sibuk berswafoto, orang tua yang mendorong kereta bayi, hingga lansia yang datang bersama komunitasnya – semua berbaur. Seorang petugas keamanan di pintu masuk, yang enggan disebut namanya, mengaku takjub melihat antusiasme para kakek-nenek yang datang lebih awal. "Biasanya festival musik identik dengan anak muda, tapi hari ini saya lihat banyak oma dan opa yang justru paling semangat," ujarnya sambil tersenyum.
Salah satu lansia yang hadir adalah Mbah Sumarni (72), warga Pondok Cabe. Dengan didampingi anaknya, ia sengaja datang untuk menyaksikan pertunjukan musik keroncong yang dijadwalkan siang hari. "Saya sudah dengar dari radio kalau ada festival besar. Kata anak saya, nanti ada penyanyi kesukaan saya. Jadi saya mau ikut, biar hati senang," tutur Mbah Sumarni. Matanya berbinar saat menceritakan betapa ia sudah lama tidak menonton hiburan langsung di luar rumah. Kehadirannya menjadi bukti bahwa kegembiraan tidak mengenal batas usia.
Di sisi lain, Diandra (6), bocah perempuan asal Serpong, tak henti melompat kegirangan. Dengan gaun merah jambu yang dikenakannya, ia asyik mengikuti gerakan tarian di area khusus anak. Ibunya, Rani, mengaku baru pertama kali mengajak putrinya ke acara sebesar ini. "Senang lihat dia bisa main sambil belajar sosialisasi. Jarang ada acara yang benar-benar ramah anak seperti ini," kata Rani. Area bermain yang dilengkapi dengan trampolin mini, kolam bola, dan workshop melukis tampak tidak pernah sepi sepanjang hari.
Panggung yang Memeluk Semua Selera
Keberagaman usia pengunjung diimbangi oleh sajian panggung yang tak kalah berwarna. TRANS TV Festival Vol 5 tampaknya serius meramu formula hiburan yang inklusif. Di satu sisi, deretan band indie dan penyanyi pop mengisi sesi siang hingga sore, memompa adrenalin penonton muda. Di sisi lain, panggung juga menyediakan ruang bagi musik tradisional dan nostalgia yang menjadi magnet bagi pengunjung dewasa dan lansia.
Suasana semakin hangat ketika sejumlah artis senior naik ke atas panggung. Sorak sorai penonton paruh baya dan lansia terdengar lantang, ikut menyanyikan lagu-lagu yang mungkin sudah puluhan tahun mereka simpan dalam ingatan. Seorang bapak yang duduk di bangku penonton tampak ikut bergoyang perlahan, tangannya sesekali menepuk paha mengikuti irama. Sementara itu, di bagian depan yang lebih dekat ke panggung, anak-anak muda membentuk lingkaran kecil, berjoget dengan penuh tenaga. Dua dunia yang berbeda tempo, namun bergerak dalam harmoni.
Tak hanya musik. Panggung juga diisi dengan sesi bincang-bincang ringan bersama figur publik, demo memasak dari chef ternama, hingga pertunjukan stand-up comedy. Momen yang paling mengharukan terjadi ketika seorang komika mengajak seorang nenek dari penonton untuk naik ke panggung. Dengan polosnya, sang nenek menjawab setiap pertanyaan dengan celetukan lucu yang mengundang tawa seluruh hadirin. "Hidup itu harus dinikmati, Nak. Jangan banyak mengeluh," pesannya yang langsung disambut tepuk tangan meriah.
Lebih dari Sekadar Hiburan
Bagi sebagian pengunjung, festival ini bukan hanya soal menonton panggung. Deretan stan kuliner yang menjajakan aneka hidangan dari tradisional hingga modern menjadi tujuan utama. Seorang ibu rumah tangga, Isti (48), terlihat sibuk memilih jajanan pasar bersama ibunya yang sudah berusia 80 tahun. "Ibu saya suka banget kue tradisional. Jadi acara ini sekalian ajak beliau nostalgia rasa," ujar Isti. Sembari duduk di bangku panjang yang disediakan, sang ibu dengan perlahan menikmati kue cucur kesukaannya.
Di area lain, komunitas lansia sehat yang rutin berkumpul di Senayan terlihat menggelar tikar dan menikmati bekal bersama. Salah satu anggotanya, Pak Harjo (68), mengatakan bahwa acara seperti ini penting untuk menjaga semangat hidup para manula. "Kami ini sudah tua, tapi semangat masih muda. Dengan ikut acara ramai begini, kami merasa tetap menjadi bagian dari masyarakat, tidak terpinggirkan," tegasnya.
Festival ini juga menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi keluarga. Beberapa stan edukasi menampilkan permainan interaktif tentang sains dan lingkungan. Anak-anak dengan antusias mencoba berbagai alat peraga, sementara orang tua mereka dengan sabar mendampingi. Interaksi antar keluarga yang tidak saling kenal pun terjalin alami, menciptakan gelombang keakraban di tengah keramaian.
Menjelang sore, saat matahari mulai condong ke barat, panggung utama semakin meriah. Ribuan pengunjung dari berbagai generasi berkumpul, menyaksikan bintang tamu utama yang tampil memukau. Nyanyian bersama menutup hari dengan sempurna. Di bawah langit jingga, tampak jelas bahwa TRANS TV Festival Vol 5 telah berhasil menjadi lebih dari sekadar ajang hiburan. Ia menjadi catatan manis tentang bagaimana tawa anak-anak, semangat remaja, dan ketenangan para lansia bisa saling mengisi dalam satu harmoni kota.
Comments (0)