Langit Jakarta sudah gelap ketika pintu ruang pemeriksaan itu akhirnya terbuka. Betrand Peto melangkah keluar dengan langkah yang tampak berat, ditemani kuasa hukumnya. Sembilan jam ia berada di dalam sana, di sebuah ruangan yang menurutnya terasa jauh lebih dingin daripada suhu udara di luar. Sejak pukul sebelas siang hingga sekitar pukul delapan malam, ia menjawab pertanyaan demi pertanyaan penyidik.
Pemuda yang dikenal sebagai penyanyi itu datang memenuhi panggilan penyidik terkait laporan dugaan tindak pidana kekerasan seksual yang disebut terjadi di sebuah tempat hiburan di kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Ia datang bukan dengan wajah tertunduk, melainkan dengan tekad untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sembilan jam itu menjadi perjalanan panjang yang menguras tenaga sekaligus batin.
Lima Puluh Lima Pertanyaan dan Satu Keyakinan
Di dalam ruang pemeriksaan, penyidik mengajukan 55 pertanyaan. Satu per satu ditanyakan, satu per satu ia jawab. Tidak ada yang dilewati. Menurut penuturan kuasa hukumnya, Betrand menjawab semua pertanyaan dengan tenang, meski di beberapa momen suaranya sempat bergetar. Ia mengisahkan kronologi kejadian sesuai dengan apa yang ia ingat dan alami.
"Dia menjawab dengan sangat kooperatif, semua pertanyaan dijawab," ujar kuasa hukumnya di hadapan awak media usai pemeriksaan. "Total pertanyaan ada 55. Dan dia menegaskan bahwa tuduhan itu tidak benar. Dia tidak melakukan apa yang dituduhkan."
"Saya tidak melakukan itu. Saya datang ke sini justru untuk membuktikan bahwa saya tidak bersalah. Saya percaya kebenaran akan terungkap."
Kalimat itu disampaikan dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Bagi seorang pemuda yang tumbuh besar di bawah sorotan kamera, berada di ruang pemeriksaan bukanlah pengalaman yang mudah. Namun ia memilih untuk menghadapinya dengan kepala tegak. Tidak ada niat untuk melarikan diri. Tidak ada upaya untuk mengelak.
Di Balik Layar: Malam yang Panjang dan Doa yang Tak Putus
Di luar ruangan, orang-orang terdekatnya menunggu dengan cemas. Ada yang duduk di kursi lobi, ada yang mondar-mandir di koridor. Beberapa kali mereka hanya bisa saling menatap, tanpa kata, karena tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi di dalam. Waktu berjalan lambat. Jam demi jam terasa seperti tarikan napas yang panjang.
Pemeriksaan yang berlangsung hampir sembilan jam itu bukanlah hal yang biasa. Penyidik tampak serius menggali setiap detail. Mulai dari siapa saja yang hadir, jam berapa kejadian berlangsung, hingga detail percakapan yang terjadi. Semua dicatat dengan teliti. Betrand, menurut kuasa hukumnya, menjawab semuanya tanpa berusaha mengaburkan fakta.
Di sela-sela pemeriksaan, ada jeda untuk beristirahat dan makan. Namun lebih dari itu, ada momen diam yang panjang, ketika ia hanya bisa menunduk dan berdoa dalam hati. "Dia meminta kami untuk terus mendoakan dia. Dia bilang, yang paling berat itu bukan pertanyaannya, tapi perasaan harus menjelaskan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan," kenang seseorang dari timnya.
Momen ketika pintu ruang pemeriksaan akhirnya terbuka menjadi momen yang mengharukan. Betrand keluar dengan wajah lelah, tetapi tidak menunduk. Ia menyempatkan tersenyum tipis kepada orang-orang yang menunggunya. Senyum yang mungkin tidak sepenuhnya tulus, karena di baliknya tersimpan beban yang belum selesai.
Langkah Selanjutnya: Mimpi yang Masih Ingin Diperjuangkan
Usai pemeriksaan, kuasa hukum menegaskan bahwa kliennya akan terus mengikuti proses hukum yang berjalan. Mereka memastikan tidak ada upaya untuk menghindar. Justru sebaliknya, mereka berharap proses ini bisa berjalan transparan dan adil bagi semua pihak, baik bagi pelapor maupun bagi Betrand Peto.
Bagi Betrand, ini bukan akhir dari perjalanan. Ada mimpi-mimpi yang masih ingin ia perjuangkan. Ada panggung yang masih menunggu. Ada orang tua dan keluarga yang masih ingin ia bahagiakan. Ia tahu bahwa sorotan publik kali ini bukan sorotan yang ingin ia dapat, tetapi ia memilih untuk berjuang membersihkan namanya dengan cara yang benar, bukan dengan cara yang cepat.
"Dia bilang ke saya, dia ingin semua ini selesai, dia ingin bisa menyanyi lagi dengan tenang," ujar kuasa hukumnya. Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan beban yang dalam. Seorang pemuda yang tumbuh di depan mata publik kini harus berjuang menghadapi badai yang tidak pernah ia duga.
Hingga kini, proses penyelidikan masih berlanjut. Belum ada kesimpulan resmi dari penyidik. Namun bagi Betrand, sembilan jam yang ia lewati pada hari itu adalah salah satu bab terberat dalam hidupnya. Bab yang ia lewati bukan dengan air mata, melainkan dengan keberanian untuk mengatakan bahwa ia tidak bersalah.
Kisah ini bukan sekadar tentang tuduhan dan bantahan, melainkan tentang seorang pemuda yang berjuang mempertahankan nama baiknya di tengah tekanan yang tidak ringan. Ia mungkin belum tahu bagaimana endingnya. Namun ia sudah memilih untuk menghadapinya dengan kepala tegak, satu-satunya cara yang ia tahu untuk bersikap sebagai manusia yang percaya pada kebenaran.
Comments (0)