Oct 11, 2026
entertainment

Pulang ke Rumah, Menemukan Diri yang Sempat Hilang

Di sudut sebuah kamar kos sempit di Yogyakarta, seorang perempuan duduk termenung menatap layar laptopnya. Di hadapannya, ribuan kata yang ia tulis sendiri, sebuah naskah yang lahir dari luka yang ia ...

Pulang ke Rumah, Menemukan Diri yang Sempat Hilang

Di sudut sebuah kamar kos sempit di Yogyakarta, seorang perempuan duduk termenung menatap layar laptopnya. Di hadapannya, ribuan kata yang ia tulis sendiri, sebuah naskah yang lahir dari luka yang ia sembunyikan bertahun-tahun. Di luar jendela, hujan turun pelan, seperti ikut merasakan beban yang ia pikul. Perempuan itu bukan siapa-siapa. Ia hanya seorang anak rantau yang pernah kehilangan suaranya sendiri.

Namun dari ruang kecil itulah, sebuah karya berjudul Empat Musim Pertiwi atau yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Four Seasons in Java, perlahan menemukan bentuknya. Novel ini mengisahkan pergulatan hidup dan batin seorang perempuan penyintas kekerasan seksual yang memutuskan pulang ke kampung halamannya. Sebuah perjalanan yang bukan hanya tentang kembali ke rumah, tetapi juga tentang kembali kepada diri sendiri.

Ketika Rumah Bukan Lagi Tempat yang Aman

Bagi banyak orang, pulang kampung adalah momen yang mengharukan. Pelukan ibu, aroma masakan rumah, dan tawa sederhana bersama keluarga menjadi obat dari lelahnya kehidupan kota. Tetapi bagi tokoh utama dalam novel ini, pulang justru menjadi ujian terberat. Di kampung halaman, ia harus berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Luka lama yang ia coba kubur di kota besar justru menunggu di depan pintu rumah.

"Pulang bukan berarti semua baik-baik saja. Kadang, pulang berarti kita harus menghadapi hal yang paling kita hindari."

Kalimat itu menjadi salah satu kutipan paling menyentuh dalam novel ini. Ia mengingatkan bahwa perjalanan penyembuhan tidak selalu berjalan lurus. Ada kalanya seseorang harus mundur ke titik nol untuk benar-benar bisa melangkah maju.

Empat Musim Pertiwi tidak hanya bercerita tentang trauma, tetapi juga tentang bagaimana seorang perempuan berjuang bangkit. Ia belajar menerima dirinya secara perlahan, menemukan dukungan dari orang-orang sederhana di sekitarnya, dan perlahan menyusun kembali kepingan mimpi yang sempat hancur.

Empat Musim sebagai Cermin Perjalanan Batin

Judul Empat Musim Pertiwi bukan sekadar nama. Ia adalah metafora dari fase-fase kehidupan yang dilalui tokoh utama. Musim semi melambangkan awal yang penuh harapan, musim panas menggambarkan gejolak dan keberanian, musim gugur menjadi momen merenung dan melepaskan, sementara musim dingin adalah waktu untuk bertahan dan menunggu datangnya cahaya.

Dalam setiap musim, pembaca diajak menyelami perasaan perempuan itu. Ada tangis yang ia tahan, ada amarah yang ia pelajari untuk ia salurkan, dan ada air mata yang akhirnya ia izinkan jatuh. Semua dihadirkan dengan bahasa yang tidak menghakimi, jauh dari sensasionalisme, tetapi tetap menyentuh.

"Kekerasan seksual bukan hanya menghancurkan tubuh, tetapi juga membuat seseorang merasa kehilangan hak atas dirinya sendiri. Novel ini mencoba mengembalikan hak itu, satu halaman demi satu halaman."

Yang membuat karya ini istimewa adalah caranya mengangkat cerita dari sudut pandang penyintas tanpa menjadikannya objek belas kasihan. Tokohnya bukan pahlawan super, tapi juga bukan korban yang pasrah. Ia manusia biasa yang berjuang, jatuh, lalu bangkit lagi, persis seperti kebanyakan dari kita.

Inspirasi dari Kisah yang Sederhana

Di balik layar, proses penulisan novel ini bukan hal yang mudah. Ada hari-hari ketika penulisnya harus berhenti sejenak karena teringat pengalaman yang mirip, entah itu pengalaman pribadi atau kisah orang-orang di sekitarnya. Menulis tentang luka berarti membuka kembali luka itu, membiarkannya berdarah sebentar, lalu menjahitnya dengan kata-kata.

Namun justru dari proses itu, Empat Musim Pertiwi lahir sebagai karya yang jujur. Ia tidak menawarkan solusi instan atau akhir yang terlalu manis. Sebaliknya, ia menyajikan realitas bahwa penyembuhan adalah perjalanan panjang yang penuh liku. Ada kemajuan, ada kemunduran, dan itu semua wajar.

Bagi para pembaca, khususnya perempuan yang pernah mengalami hal serupa, novel ini bisa menjadi cermin sekaligus teman. Ia mengisahkan bahwa tidak apa-apa untuk merasa rapuh, tetapi juga tidak ada salahnya untuk bermimpi kembali. Bahwa setelah musim dingin yang panjang, selalu ada musim semi yang menunggu.

Di ruang kosnya yang sederhana itu, perempuan penulis tadi akhirnya menutup laptopnya. Ia tersenyum tipis. Bukan karena naskahnya sempurna, tetapi karena ia tahu, setiap kata yang ia tulis adalah langkah kecil menuju pemulihan. Dan mungkin, itu cukup untuk hari ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User