Di sudut panggung yang kini terasa lebih lengang, sebuah gitar bas terbaring diam dalam sarung usangnya. Senar-senarnya tak lagi bergetar, seolah ikut larut dalam kesedihan. Di balik dentuman rendah yang selama puluhan tahun menjadi denyut bagi skena musik tanah air, sang pemilik jemari itu telah pergi untuk selamanya. Trisno, bassist Pas Band, menghembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan penyakit gagal ginjal yang sempat memaksanya menjalani perawatan.
Kabar duka itu merambat cepat, menyusuri ruang-ruang digital hingga ke telinga para penggemar lintas generasi. Banyak yang terdiam, sebagian tak kuasa menahan air mata. Sosok yang selama ini dikenal pendiam di atas panggung itu ternyata meninggalkan jejak yang begitu dalam di hati banyak orang.
Perjuangan Sunyi Melawan Sakit
Jauh dari hingar-bingar lampu sorot, Trisno menjalani pertarungan paling berat dalam hidupnya. Penyakit gagal ginjal yang ia derita menuntutnya berkali-kali menjalani perawatan yang menguras tenaga sekaligus batin. Tubuh yang dulu kokoh berdiri di atas panggung perlahan melemah, namun semangatnya, menurut orang-orang terdekat, tak pernah benar-benar padam.
"Dia tidak pernah banyak mengeluh. Bahkan di saat tubuhnya sudah lemah, dia masih bertanya soal band, soal musik. Seolah panggung adalah napasnya yang lain," kenang seorang sahabat dekat dengan suara bergetar.
Bagi keluarga dan rekan-rekannya, momen-momen terakhir itu menjadi babak yang mengharukan. Ada keteguhan yang tak tergantikan: seorang musisi yang tetap memegang harga dirinya bahkan ketika penyakit merenggut kekuatannya sedikit demi sedikit. Di balik layar kehidupannya yang sederhana, Trisno menunjukkan bahwa berjuang tidak selalu berarti berteriak — kadang ia hadir dalam diam yang teguh.
Perjalanan Panjang Bersama Pas Band
Nama Trisno tak bisa dilepaskan dari perjalanan Pas Band, grup musik asal Bandung yang tumbuh besar dari komunitas dan semangat kemandirian. Sejak era 1990-an, band ini menjadi salah satu penjaga gairah musik cadas alternatif di Indonesia, menelurkan karya-karya yang menemani masa muda jutaan pendengarnya.
Di atas panggung, Trisno bukan sosok yang mencari perhatian. Ia berdiri di sisi, membiarkan dentuman basnya yang berbicara. Namun justru di sanalah kekuatannya: menjaga fondasi ritme agar setiap lagu berdiri tegak, mengalirkan energi yang membuat ribuan penonton ikut melompat dan bernyanyi.
"Bas itu jantungnya lagu. Dan Trisno adalah jantung yang tidak pernah berhenti berdetak, bahkan ketika badai datang," ujar seorang musisi yang pernah berbagi panggung dengannya.
Bersama Pas Band, ia mengarungi panggung demi panggung, dari festival kecil hingga konser akbar. Perjalanan itu bukan tanpa liku — ada masa jaya, ada pula masa sepi — tetapi Trisno tetap setia pada pilihan hidupnya sebagai musisi. Kesetiaan itulah yang kelak menjadi bagian paling dikenang dari kisah hidupnya.
Warisan yang Tak Akan Lekang
Kepergian Trisno menyisakan ruang kosong yang sulit diisi. Bagi para penggemar, ia adalah bagian dari memori kolektif: suara bas yang mengiringi hari-hari penuh gejolak, lagu-lagu yang diputar berulang kali di kamar kos, di perjalanan malam, di momen patah hati maupun kebangkitan.
Di media sosial, ucapan belasungkawa mengalir deras. Banyak yang mengunggah kembali foto-foto lawas, potongan video penampilan Pas Band, serta lirik-lirik lagu yang kini terasa lebih menusuk dari biasanya. Duka itu menjadi bukti bahwa musik yang lahir dari ketulusan akan selalu menemukan rumahnya di hati manusia.
Kini, panggung itu memang lebih sunyi. Namun setiap kali intro lagu-lagu Pas Band mengalun, setiap kali dentuman bas menyusul di belakangnya, di sanalah Trisno tetap hidup. Selamat jalan, sang penjaga ritme. Perjalananmu telah selesai, tetapi gaungnya tak akan pernah berhenti.
Comments (0)