Aug 26, 2026
entertainment

Di Bawah Lampu Jakarta, Kim Soo-hyun Mulai Bangkit Lagi

Ruangan studio di Jakarta malam itu terasa sunyi, hanya dipecahkan oleh derit kursi dan desis kamera yang berputar pelan. Seorang pria bertubuh tinggi duduk di sofa sederhana, tangannya sesekali menge...

Di Bawah Lampu Jakarta, Kim Soo-hyun Mulai Bangkit Lagi

Ruangan studio di Jakarta malam itu terasa sunyi, hanya dipecahkan oleh derit kursi dan desis kamera yang berputar pelan. Seorang pria bertubuh tinggi duduk di sofa sederhana, tangannya sesekali mengepal lalu dilepaskan lagi. Kim Soo-hyun—aktor yang dulu disambut sorak-sorai di mana pun ia melangkah—sedang bersiap menghadapi pertanyaan pertama dalam sebuah wawancara di televisi Indonesia. Baginya, ini bukan sekadar acara bicara. Ini adalah pintu kecil yang ia buka setelah berbulan-bulan memilih diam.

Kontroversi yang menimpanya telah menenggelamkan hampir segalanya: kontrak iklan yang dicabut satu per satu, proyek drama yang ditunda tanpa kepastian, serta nama yang dulu menjadi magnet rating kini justru menjadi topik yang dihindari stasiun-stasiun di tanah kelahirannya. Di titik terendah itu, justru sebuah undangan dari negeri seberang yang memberinya ruang untuk bicara.

Suara yang Lama Tak Terdengar

Dalam tayangan tersebut, Kim Soo-hyun tampil dengan kesederhanaan yang menyentuh. Tanpa gemuruh panggung besar, tanpa lampu sorot megah, ia hanya duduk dan mengisahkan perjalanan hidupnya—dari puncak karier hingga hari-hari ketika ia takut membuka gawai karena banjir kritik yang menghampiri tanpa henti.

“Ada waktu ketika aku merasa tidak pantas berdiri di mana pun. Malam-malamaku terasa sangat panjang, dan aku belajar bahwa bangkit bukanlah sesuatu yang instan,” ujarnya dengan suara yang sesekali bergetar.

Air mata sempat menggenang di sudut matanya ketika berbicara tentang para penggemar yang tetap bertahan. Ia mengaku, pesan-pesan singkat dan sederhana dari mereka menjadi alasan ia tidak menyerah sepenuhnya pada rasa putus asa. Bagi banyak penonton, momen mengharukan itu terasa jujur, tanpa rekayasa, seperti seseorang yang akhirnya berani menundukkan benteng yang selama ini ia bangun sendiri.

Sorotan dari Seoul

Tidak butuh waktu lama bagi media Korea Selatan untuk mengangkat kemunculan tersebut. Laporan pun bermunculan, mengulas bagaimana aktor top itu memilih Indonesia sebagai tempat pertama ia kembali tampil di depan kamera. Sebagian media menyoroti ekspresi dan gesturnya yang dinilai jauh lebih tenang; sebagian lain membaca momen itu sebagai sinyal awal upaya comeback yang telah lama digodok di balik layar.

Sejumlah pengamat industri hiburan di Seoul menilai langkah ini cerdas namun berisiko. Memulai lagi dari panggung internasional memberi jarak dari tekanan opini domestik, sekaligus menguji apakah publik global masih menyambut sosok yang di negaranya sendiri tengah dipertanyakan. Hasilnya, setidaknya dari sambutan penonton Indonesia, tampak menjanjikan.

Di kalangan netizen lokal, reaksi yang hadir justru hangat. Ribuan komentar membanjiri potongan wawancara yang beredar di media sosial, mayoritas berisi dorongan semangat.

“Kami tidak datang untuk menghakimi masa lalunya. Kami datang karena percaya setiap orang berhak atas kesempatan kedua,” tulis seorang penggemar yang mengaku mengikuti perjalanan sang idola sejak sepuluh tahun silam.

Di Balik Layar Kehancuran

Perjalanan menuju malam itu ternyata tidak mudah. Pihak-pihak terdekat sang aktor mengisahkan betapa sulitnya meyakinkan berbagai pihak bahwa penampilan ini layak dilakukan. Ada kekhawatiran, ada keraguan, ada pula suara yang menyarankan ia terus bersembunyi sampai badai benar-benar reda.

Namun Kim Soo-hyun tampaknya memilih jalan yang berbeda: menghadapi kamera, menjawab sejujur-jujurnya, lalu membiarkan publik menilai dengan kepala dingin. Keberanian kecil itu justru menjadi inspirasi bagi banyak orang yang sedang berjuang melewati masa gelap mereka sendiri—bukti bahwa mengakui luka kadang lebih berharga daripada menyembunyikannya.

Mimpi yang Belum Selesai

Menjelang akhir wawancara, sang pembawa acara bertanya apakah ia masih mencintai dunia akting. Kim Soo-hyun tertegun beberapa detik, menatap kejauhan, lalu tersenyum tipis.

“Akting adalah hidupku. Aku belum selesai menceritakan kisah lewat karakter-karakter yang ku jalani. Mimpi itu tidak mati—ia hanya tertidur,” katanya pelan.

Ketika tayangan usai dan lampu studio padam, pria itu berdiri, membungkuk panjang kepada para kru, lalu melangkah keluar dengan langkah yang—meski perlahan—terasa lebih ringan daripada ketika ia datang. Di luar gedung, langit Jakarta bermandikan bintang tipis. Dan entah bagaimana, malam itu terasa seperti babak pembuka sebuah kisah yang belum usai: kisah tentang manusia yang jatuh, belajar, dan perlahan mencoba bangkit kembali.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User