Aug 25, 2026
entertainment

Secercah Asa di Balik Layar: Fauzan Zidni Pimpin BPI 2026-2029

Sore itu, di sebuah ruang pertemuan sederhana di Jakarta, aroma kopi bercampur dengan debar jantung puluhan insan film yang menanti dalam hening. Di layar, angka penghitungan suara bergerak pelan, sea...

Secercah Asa di Balik Layar: Fauzan Zidni Pimpin BPI 2026-2029

Sore itu, di sebuah ruang pertemuan sederhana di Jakarta, aroma kopi bercampur dengan debar jantung puluhan insan film yang menanti dalam hening. Di layar, angka penghitungan suara bergerak pelan, seakan mempermainkan napas semua orang yang hadir. Lalu, ketika nama Fauzan Zidni akhirnya diumumkan sebagai Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) periode 2026-2029 pada April 2026, ruangan itu pecah oleh tepuk tangan. Seorang sineas muda di barisan belakang tampak menyeka sudut matanya. Bukan karena sedih, melainkan karena harapan yang terlalu lama dipendam akhirnya menemukan rumahnya.

Bagi banyak pekerja film, pergantian kepengurusan BPI bukanlah sekadar seremoni rotasi jabatan. Ia adalah penanda perjalanan panjang sebuah komunitas yang terus berjuang agar mimpi-mimpi mereka di layar lebar tak pernah padam. Di balik layar gemerlap karpet merah dan kilau piala, ada ribuan kru, penulis naskah, penata rias, hingga pemilik gedung bioskop kecil di pelosok daerah yang menaruh asa pada badan ini.

Momen Mengharukan di Balik Penghitungan Suara

Sejak pagi, para anggota BPI dari berbagai asosiasi profesi perfilman berdatangan dengan wajah campur aduk: gugup, berharap, juga rindu. Banyak di antara mereka sudah belasan tahun mengabdikan diri pada dunia film, melewati masa-masa ketika bioskop sepi, ketika produksi terhenti, ketika mimpi terasa begitu mahal untuk diperjuangkan.

Ketika proses pemilihan berlangsung, suasana sempat hening total. Sebagian menggenggam erat tangan rekannya. Sebagian lain menunduk, berdoa dalam hati. Dan ketika hasil akhir dibacakan, air mata haru tak bisa lagi dibendung. Pelukan-pelukan panjang terjadi di sudut ruangan, seolah segala lelah bertahun-tahun luruh dalam satu sore.

“Ini bukan kemenangan satu orang. Ini kemenangan kita semua yang masih percaya bahwa film Indonesia punya masa depan,” ujar seorang sineas senior dengan suara bergetar, sesaat setelah hasil diumumkan.

Sosok Sederhana di Balik Amanah Besar

Nama Fauzan Zidni bukanlah wajah baru di industri perfilman Tanah Air. Ia mengisahkan perjalanannya yang panjang, dari seorang pekerja film yang merangkak dari bawah, hingga kini dipercaya memegang tampuk kepemimpinan tertinggi di BPI. Rekan-rekan seprofesinya mengenalnya sebagai sosok yang sederhana, pendengar yang baik, dan pekerja keras yang jarang mau tampil di depan kamera.

Dalam sambutan pertamanya, Fauzan tak banyak berjanji muluk. Suaranya justru terdengar menahan haru ketika berbicara tentang orang-orang kecil di industri ini. “Saya berdiri di sini karena dipercaya. Dan kepercayaan itu akan saya jaga dengan bekerja, bukan dengan kata-kata,” tuturnya lirih, disambut tepuk tangan panjang.

Ia juga menyempatkan diri menyalami satu per satu anggota yang hadir, termasuk para kru muda yang hanya berani menatap dari kejauhan. Gestur kecil itu, bagi banyak orang, sudah cukup menggambarkan kepemimpinan seperti apa yang akan ia jalankan: dekat, hangat, dan membumi.

Mimpi Besar untuk Layar Indonesia

Bersama kepengurusan baru periode 2026-2029, Fauzan membawa mimpi besar: memastikan ekosistem perfilman nasional tumbuh sehat dari hulu ke hilir. Ia berbicara tentang pentingnya perlindungan bagi pekerja film, pemerataan akses penayangan hingga ke daerah, serta penguatan pendidikan film bagi generasi muda yang ingin bangkit berkarya.

“Film Indonesia tidak boleh hanya hidup di kota-kota besar. Anak-anak di daerah juga berhak melihat kisahnya sendiri di layar. Itu perjuangan kita ke depan,” katanya dengan mata berbinar.

Di balik layar, sejumlah rencana tengah disusun: memperkuat kolaborasi antar-asosiasi profesi, membuka ruang dialog dengan para pemangku kebijakan, hingga mendorong film Indonesia semakin dikenal di panggung dunia. Semua itu, menurutnya, hanya bisa dicapai jika seluruh insan film bergerak bersama, bukan sendiri-sendiri.

Asa yang Menyala dari Akar Rumput

Harapan itu kini menular. Di berbagai kota, komunitas film independen menyambut kepengurusan baru ini dengan optimisme yang menyentuh. Bagi mereka, kehadiran pemimpin baru adalah inspirasi bahwa suara dari akar rumput didengar, bahwa mimpi anak-anak daerah untuk membuat film bukanlah hal yang mustahil.

“Kami cuma ingin didampingi, bukan ditinggalkan. Semoga kepengurusan ini benar-benar hadir sampai ke kampung-kampung,” ujar seorang pegiat komunitas film dari Indonesia timur melalui pesan daring.

Sore itu, ketika ruangan perlahan kosong dan lampu-lampu mulai diredupkan, Fauzan Zidni masih berdiri di depan pintu, menyalami orang-orang terakhir yang pulang. Di tangannya kini tersimpan amanah besar, di pundaknya tertumpang mimpi jutaan insan film. Dan di hati banyak orang, ada satu doa sederhana yang sama: semoga perjalanan empat tahun ke depan menjadi babak paling mengharukan dalam sejarah perfilman Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User