Aug 25, 2026
entertainment

Sakit Punggung Saat Bekerja? Mungkin Itu Tanda Radang Sendi

Jam dinding di kantor akuntan tempat Rina bekerja baru menunjukkan pukul tiga sore ketika rasa pegal itu datang lagi. Perempuan 34 tahun itu diam-diam menggeser tubuhnya di kursi, mencari posisi yang ...

Sakit Punggung Saat Bekerja? Mungkin Itu Tanda Radang Sendi

Jam dinding di kantor akuntan tempat Rina bekerja baru menunjukkan pukul tiga sore ketika rasa pegal itu datang lagi. Perempuan 34 tahun itu diam-diam menggeser tubuhnya di kursi, mencari posisi yang paling tidak menyakitkan. Punggungnya terasa kaku, menjalar pelan hingga ke pangkal paha. Selama berbulan-bulan ia menganggapnya sekadar lelah karena terlalu lama duduk. Namun belakangan, keluhan itu datang semakin sering, bahkan kadang diiringi nyeri di pergelangan tangan saat jari-jarinya menari di atas papan ketik. Ia hanya menghela napas, lalu kembali menatap layar komputer seolah tidak terjadi apa-apa.

Rasa Sakit yang Datang Diam-diam

Rina bukan tipe orang yang mudah mengeluh. Setiap kali punggungnya terasa berat, ia menepuk-nepuk bahunya, meregangkan leher, lalu melanjutkan pekerjaan. "Aku pikir itu wajar. Semua orang yang bekerja di depan komputer pasti pernah merasakan pegal," kenangnya suatu sore, saat bercerita di ruang tunggu klinik. Padahal, menurut para ahli, nyeri yang muncul di punggung, kaki, atau tangan ketika bekerja tidak selalu sekadar kelelahan. Bisa jadi itu adalah sinyal awal radang sendi, peradangan yang sering datang diam-diam dan baru terasa ketika sudah mengganggu aktivitas sehari-hari.

Yang membuat Rina semakin resah, rasa sakit itu tidak lagi hilang setelah ia tidur. Kaki kanannya kadang terasa nyeri ketika menuruni tangga, dan jemarinya kaku di pagi hari. Ia mulai kesulitan menggenggam gelas. "Aku takut. Mungkin karena aku membayangkan hal-hal buruk," akunya. Ketakutan itulah yang akhirnya membawanya memutuskan untuk memeriksakan diri, meski sempat menundanya berbulan-bulan.

Perjalanan Menuju Diagnosis

Di klinik, dokter yang memeriksanya menjelaskan bahwa keluhan yang dialami Rina merupakan ciri khas peradangan sendi yang selama ini ia anggap sepele. Pemeriksaan fisik dan beberapa tes sederhana menunjukkan bahwa persendiannya mengalami peradangan ringan, diperparah oleh kebiasaan duduk dalam posisi yang sama selama berjam-jam. "Banyak pasien datang ketika nyerinya sudah parah, padahal jika ditangani lebih awal, perjalanannya jauh lebih ringan," ujar dokter itu.

Pernyataan itu seperti tamparan sekaligus pencerahan bagi Rina. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk mengejar angka di lembar kerja, hingga lupa mendengarkan tubuhnya sendiri. "Aku menangis di dalam mobil setelah pemeriksaan itu. Bukan karena sakitnya, tapi karena aku merasa bersalah pada diriku sendiri," tuturnya pelan.

Bangkit dengan Langkah Sederhana

Perjalanan Rina untuk pulih tidak dimulai dari hal-hal besar, melainkan dari langkah-langkah sederhana. Ia belajar meregangkan tubuh setiap dua jam sekali, memperbaiki posisi duduk, dan menyempatkan berjalan kaki di sela jam kerja. Dokter juga menyarankan terapi ringan serta kompres hangat untuk meredakan nyeri. Perlahan, pegal yang dulu menghantuinya mulai berkurang. Yang paling berkesan baginya adalah saat ia bisa menggenggam tangan anaknya tanpa rasa sakit untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan. "Momen kecil seperti itu yang membuatku bersyukur karena berani periksa," katanya sambil tersenyum.

Kisah Rina kemudian menginspirasi rekan-rekan sekantornya. Beberapa di antara mereka yang selama ini diam-diam merasakan keluhan serupa akhirnya berani memeriksakan diri. Di meja kerjanya kini selalu ada catatan kecil bertuliskan: "Dengarkan tubuhmu." Sebuah pengingat sederhana yang ia tanamkan untuk dirinya sendiri setiap hari.

Pesan untuk Mereka yang Masih Berjuang

Rina sadar, masih banyak orang yang berada di posisinya dulu: merasakan nyeri, tetapi memilih mengabaikannya karena takut atau sibuk. Padahal, semakin cepat radang sendi terdeteksi, semakin besar peluang untuk mengelola gejalanya dengan baik. "Jangan tunggu sampai sakitnya tak tertahankan. Tubuh kita tidak pernah berbohong," pesannya. Ia juga berharap kisahnya menjadi pengingat bahwa bekerja keras tidak harus berarti mengorbankan kesehatan.

Kini, setiap sore Rina menyempatkan diri berjalan di sekitar kantor. Punggungnya masih kadang terasa pegal, tetapi ia tidak lagi membiarkannya berlalu begitu saja. Ia belajar bahwa rasa sakit adalah cara tubuh berbisik, dan mendengarkannya sejak dini adalah bentuk cinta paling sederhana yang bisa kita berikan pada diri sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User