Matahari siang mulai meninggi di atas Lapangan Sunburst BSD, namun semangat yang membara di sana tak sedikit pun surut. Di salah satu sudut area festival, seorang perempuan berusia 72 tahun menggenggam erat tangan cucunya yang baru berusia lima tahun. Keduanya tertawa lepas menyaksikan pertunjukan di panggung utama. Momen sederhana itu menjadi potret paling jujur dari apa yang sebenarnya terjadi di TRANS TV Festival Volume 5: sebuah perayaan yang menyatukan banyak generasi dalam satu ruang penuh tawa.
Lebih dari Sekadar Hiburan
TRANS TV Festival Vol 5 yang digelar pada Minggu (26/7) di Lapangan Sunburst BSD, Tangerang Selatan, bukanlah festival biasa. Sejak pagi, area hijau yang biasanya sunyi itu berubah menjadi lautan manusia dengan wajah-wajah penuh antusiasme. Yang membuat pemandangan kali ini berbeda adalah komposisi pengunjungnya. Di antara kerumunan, terlihat jelas bagaimana anak-anak berlarian dengan riang berdampingan dengan para lansia yang berjalan perlahan namun tetap bersemangat. Ini bukan sekadar acara hiburan; ini adalah pertemuan lintas generasi yang jarang terjadi dalam keseharian masyarakat urban.
Seorang ibu muda, Rina (34), datang bersama kedua orang tuanya yang berusia 60-an serta dua anaknya yang masih balita. "Jarang-jarang ada acara yang bisa dinikmati semua umur seperti ini," katanya sambil tersenyum. "Biasanya kalau akhir pekan, kami bingung mau ke mana yang cocok untuk anak kecil dan orang tua sekaligus." Wajah-wajah para pengunjung lanjut usia memancarkan kebahagiaan yang tulus. Bagi sebagian dari mereka, ini adalah kali pertama dalam waktu lama mereka bisa menikmati hiburan di ruang terbuka bersama keluarga besar. Bukan sekadar menonton, mereka benar-benar menjadi bagian dari kemeriahan itu.
Kisah di Balik Senyuman
Di area panggung musik, tampak seorang kakek berusia 78 tahun bernama Sutrisno duduk di kursi yang disediakan panitia. Matanya berbinar menyaksikan penampilan band yang membawakan lagu-lagu era 70-an—masa mudanya. "Saya merasa muda lagi," ujarnya dengan suara bergetar. Sutrisno datang sendiri menggunakan transportasi umum, sebuah perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam dari rumahnya di Jakarta Timur. "Anak-anak saya sibuk semua. Tapi saya tidak mau ketinggalan. Ini hiburan langka buat saya," tambahnya.
Tidak jauh dari tempat Sutrisno duduk, sekelompok anak dari komunitas tari tradisional sedang bersiap tampil. Mereka mengenakan kostum berwarna cerah yang kontras dengan kesederhanaan latar lapangan. Salah satu penari cilik, Alya (9), mengaku sudah berlatih selama dua minggu untuk penampilan hari ini. "Aku deg-degan, tapi senang banget bisa tampil di sini," katanya sambil memegang erat selendang merah mudanya. Sorak sorai penonton menyambut mereka, dan di barisan depan, beberapa nenek ikut bertepuk tangan mengikuti irama musik yang dimainkan.
Ruang yang Merangkul Semua
Yang paling menyentuh dari festival ini adalah bagaimana ruang publik dirancang untuk benar-benar merangkul semua kalangan. Area festival dilengkapi jalur landai yang memudahkan pengunjung lanjut usia dan pengguna kursi roda. Petugas keamanan dan relawan tampak sigap membantu mereka yang memerlukan bantuan. Di sudut lain, tersedia area bermain anak yang aman dan diawasi, sehingga orang tua dapat sedikit beristirahat sambil tetap mengawasi buah hati mereka.
Seorang relawan, Dian (24), menceritakan pengalamannya membantu seorang nenek yang hampir terjatuh saat berjalan di area yang sedikit tidak rata. "Nenek itu langsung memegang lengan saya dan bilang, 'Terima kasih, Nak. Kamu seperti cucu saya sendiri.' Jujur, saya hampir menangis," kenang Dian. Momen-momen kecil seperti inilah yang membuat festival ini lebih dari sekadar panggung hiburan—ia menjadi ruang yang menghidupkan kembali nilai-nilai kekeluargaan dan kepedulian yang kadang terlupakan dalam hiruk-pikuk kehidupan modern.
Pelajaran dari Sebuah Festival
Di penghujung sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan bayangan pepohonan memanjang di atas rerumputan, suasananya berubah menjadi lebih syahdu. Musik yang dimainkan berganti menjadi lebih lembut. Banyak pengunjung yang memilih duduk di atas tikar yang mereka bawa sendiri, berbagi makanan ringan sambil menikmati sisa-sisa acara. Sebuah pemandangan yang mengingatkan pada suasana piknik keluarga di masa lalu—sesuatu yang semakin sulit ditemukan di tengah gempuran hiburan digital dan mal-mal megah.
Festival ini mungkin akan berakhir dan kembali menjadi kenangan. Namun, apa yang ditinggalkannya jauh lebih dalam dari sekadar tawa dan hiburan. Ia membuktikan bahwa ruang publik yang inklusif masih sangat dibutuhkan—tempat di mana seorang kakek bisa bernyanyi bersama lagu masa mudanya, seorang anak bisa menari dengan bangga, dan sebuah keluarga bisa duduk bersama tanpa gangguan notifikasi ponsel. Di Lapangan Sunburst BSD sore itu, perbedaan usia tidak lagi menjadi sekat. Semua orang, dari yang paling belia hingga yang paling berumur, menjadi bagian dari cerita yang sama: cerita tentang kebersamaan yang sederhana namun begitu bermakna.
TRANS TV Festival Vol 5 mungkin hanyalah satu dari sekian banyak acara serupa yang digelar sepanjang tahun. Tetapi bagi mereka yang hadir—terutama anak-anak yang menyaksikan langsung bagaimana kakek-nenek mereka ikut bergembira, dan para lansia yang merasa dihargai dan dilibatkan—festival ini menorehkan makna yang tidak akan lekang oleh waktu. Hari itu, di bawah langit Tangerang Selatan, semua orang pulang dengan membawa cerita yang sama: bahwa kebahagiaan sejati tidak mengenal usia.
Comments (0)