Di sudut ruang tamu rumahnya yang sederhana, Daus Mini duduk termenung sambil menatap layar ponsel. Jari-jarinya yang mungil menggulir lini masa media sosial, membaca satu per satu komentar pedas yang menghampiri nama besarnya. Perasaan campur aduk berkecamuk—antara sedih, kesal, dan bingung. Ia tak pernah menulis hal-hal yang dituduhkan kepadanya, tetapi mengapa ribuan orang begitu yakin ia bersalah?
"Saya benar-benar nggak tahu apa-apa, tapi kok saya yang dihujat," ujarnya lirih, mengisahkan momen pahit yang tengah ia alami. Mata pria bertubuh mungil yang dikenal lewat tawa ceria di layar kaca itu tampak berkaca-kaca. Ia menuturkan, semua ini bermula ketika seseorang membuat akun media sosial yang meniru namanya, lengkap dengan foto profil dirinya, lalu menyebarkan konten-konten provokatif penuh ujaran kebencian.
Ketika Nama Baik Dikoyak dari Layar Kaca
Daus mengisahkan, awalnya ia tak menyadari bahwa namanya telah dicatut. Ia baru mengetahui setelah beberapa teman sesama artis menghubunginya satu per satu, bertanya apakah benar ia yang menulis status-status bernada menyerang kelompok tertentu. "Awalnya saya ketawa, saya pikir cuma bercandaan netizen. Tapi lama-lama saya sadar ini serius. Akun itu pakai nama saya, pakai foto saya, dan orang-orang percaya itu saya," tuturnya dengan nada getir.
Perjalanan hidupnya yang selama ini penuh tawa mendadak berubah menjadi mimpi buruk. Setiap kali membuka ponsel, ia menemukan pesan-pesan berisi makian, ancaman, bahkan penghinaan yang menyangkut fisiknya. "Yang paling menyakitkan bukan hinaan ke saya, tapi mereka bilang saya munafik, saya jahat. Padahal saya cuma diam di rumah, nggak ngapa-ngapain," katanya sambil menahan air mata.
"Kalau mau benci saya, benci saja. Tapi jangan fitnah dan jangan pakai nama saya untuk hal-hal yang bukan saya. Itu bukan saya, itu bukan jati diri saya."
Ia mengaku, perasaan paling perih datang bukan saat ia menjadi sasaran kemarahan warganet, melainkan saat orang-orang terdekat mulai meragukannya. Istrinya sempat menangis karena mendapat cercaan dari orang yang tak dikenal. "Istri saya ikut kena imbas. Dia baca komentar-komentar itu. Saya cuma bisa bilang, sabar, ini bukan kita," kisahnya. Di balik layar, tangis dan perdebatan kecil kerap mewarnai hari-harinya. Sang istri menjadi tempatnya bersandar, menguatkan ketika dunia maya seakan menghakimi tanpa ampun.
Berjuang Membersihkan Noda yang Tak Pernah Ia Ciptakan
Daus pun mulai berjuang membersihkan nama baiknya. Ia melaporkan akun-akun palsu tersebut ke pihak berwenang, bekerja sama dengan platform media sosial, dan sesekali membuat klarifikasi terbuka. Namun ia menyadari, upaya itu tak semudah membalikkan telapak tangan. "Butuh waktu, butuh kesabaran. Kadang saya capek harus jelasin lagi, lagi, dan lagi," ujarnya. Meski begitu, ia menolak menyerah. Baginya, keluarganya adalah alasan untuk terus bangkit.
Dari peristiwa ini, Daus belajar banyak tentang sisi gelap dunia digital. Ia merasa prihatin melihat betapa mudahnya seseorang menyebar kebencian, bahkan hanya dengan menumpang nama orang terkenal. "Saya berharap netizen lebih cerdas. Cek dulu, jangan langsung percaya. Jangan sampai kita jadi korban provokasi yang nggak jelas siapa dalangnya," pesannya.
Ia juga mengajak sesama figur publik agar lebih waspada dan tidak tinggal diam bila mengalami hal serupa. Menurutnya, membiarkan akun palsu berkeliaran hanya akan memperburuk keadaan. "Kalau kita diam, mereka makin berani. Kita harus lawan, tapi dengan cara yang benar," tutupnya, dengan sorot mata yang mulai kembali bersinar. Kisah sederhana dari seorang Daus Mini ini menjadi cermin bahwa di balik tawa, selalu ada air mata yang mungkin tak banyak orang ketahui.
Comments (0)