Hari itu, cahaya lembut menerobos jendela besar Plaza Senayan, menimpa deretan jam tangan yang terpajang dalam etalase kaca. Di sudut ruangan, seorang pria dengan kemeja gelap berdiri mematung di depan satu karya. Tangannya sesekali menyentuh permukaan logam sebuah jam tangan dengan hati-hati, seolah sedang berbicara dengan sahabat lama. Pria itu adalah Naoya Sukeda, Design Director dari SEIKO Selection Team, dan jam tangan di hadapannya adalah Machining Marks—ciptaan yang ia bawa dalam pameran SEIKO Power Design Project 2026.
Mengubah Jejak Produksi Menjadi Narasi
Biasanya, goresan mesin pada logam hanyalah sisa proses manufaktur yang dihilangkan. Di tangan Sukeda, justru sebaliknya. Goresan itu diangkat, dimuliakan, dan dijadikan jiwa dari setiap unit jam tangan yang lahir. “Saya ingin menangkap momen ketika mesin bertemu material, sebelum semuanya disempurnakan. Di situlah ada kejujuran,” ujar Sukeda, dengan suara tenang yang bergetar kecil, seperti menyimpan kenangan panjang.
Machining Marks bukan sekadar jam tangan; ia adalah arsip berjalan dari perjalanan produksi. Di setiap lengkungan baja, terekspresi garis-garis yang lahir dari tekanan pahat dan putaran bubut. Tidak ada dua jam yang persis sama—masing-masing memiliki sidik mesin yang unik. Konsep ini bukan hanya estetis, melainkan juga filosofis: menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari keindahan.
Di Balik Pameran: Ruang Perjumpaan Masa Lalu dan Masa Depan
Pameran ini bukan yang pertama bagi SEIKO, tapi selalu ada kejutan yang disiapkan oleh para desainernya. Ruangan didesain seperti laboratorium waktu, dengan pencahayaan redup yang menyorot setiap karya. Pengunjung tidak hanya melihat jam, tapi diajak mengintip ke belakang layar: sketsa tangan, prototipe gagal, dan catatan-catatan kecil yang ditulis Sukeda di tengah malam. Semuanya bercerita tentang perjuangan menjembatani tradisi horologi dengan hasrat modern.
Di sisi lain ruang, seorang pengunjung lanjut usia berhenti lama di depan sebuah jam tangan bergaya klasik. Air matanya menetes pelan. “Ini mengingatkan saya pada jam pertama yang diberikan ayah saya. Goresannya persis seperti ini,” katanya lirih. Momen seperti ini menjadi napas pameran. Teknologi dan presisi kembali ke fungsinya yang paling mendasar: menyimpan kenangan.
Kisah Sederhana di Balik Teknologi Tinggi
Sukeda bukan tipe desainer yang senang bicara banyak teori. Ia lebih nyaman menunjukkan proses—bagaimana sketsa di atas kertas lusuh bisa menjadi logam bernyawa. “Saya hanya ingin orang merasa bahwa jam ini pernah hidup. Bahwa di dalamnya ada cerita tentang pabrik, tentang pekerja, tentang pukul dua pagi ketika mesin masih menyala,” ujarnya. Ia percaya, justru dari hal-hal sederhana itulah kemewahan sejati lahir.
Pameran SEIKO Power Design Project 2026 tidak hanya memajang produk, tetapi juga menggelar dialog terbuka antara sang desainer dan para pencinta jam. Dalam salah satu sesi, seorang anak muda bertanya, “Kenapa memilih goresan mesin yang biasanya dianggap cacat?” Sukeda tersenyum. “Karena cacat adalah bukti bahwa sesuatu pernah diperjuangkan,” jawabnya singkat, namun membekas.
Rindu yang Tertinggal di Peradaban Jam
Ketika pengunjung perlahan meninggalkan ruangan, Machining Marks masih diam di etalasenya, menyala sepi dengan jarum detik yang bergerak tak kenal lelah. Di balik kaca, goresan-goresan itu seperti bisik: bahwa segala sesuatu yang dibuat dengan cinta akan menyimpan ruh penciptanya. Pameran ini mungkin akan berakhir, tapi percakapan tentang waktu, tentang jejak, dan tentang manusia di balik mesin, akan terus bergulir.
SEIKO, melalui proyek ini, sekali lagi mengingatkan bahwa jam tangan bukan hanya alat ukur, melainkan kanvas perjalanan manusia—dari goresan mesin hingga denyut nadi yang menyertainya. Dan di Plaza Senayan, pada Juli 2026, ribuan orang telah menjadi saksi bahwa seni bisa lahir dari bisingnya bengkel dan diamnya malam-malam penuh perjuangan.
Comments (0)