Pagi itu, di sudut Gelora Bung Karno, Jakarta, sekelompok perempuan berhijab berlari kecil di jalur joging. Mereka tertawa, saling menyemangati. Namun yang paling menarik perhatian bukanlah semangat mereka, melainkan busana yang membalut tubuh: rok panjang berbahan ringan yang melengkapi legging — tetap santun namun tak menghalangi setiap langkah. Di antara mereka, ada Hana, seorang ibu dua anak yang dulu hampir menyerah pada impiannya hidup sehat karena tidak menemukan pakaian olahraga yang cocok.
“Dulu, saya selalu ragu ikut lari. Celana panjang saja tidak cukup, harus pakai rok lagi. Tapi rok biasa bikin ribet, entah melilit atau terlalu berat. Akhirnya, saya berhenti olahraga bertahun-tahun,” kenang Hana, sembari merapikan hijabnya yang berkeringat oleh embun pagi.
Perjuangan Mencari Busana yang Tak Menghalangi Gerak
Bagi banyak muslimah, olahraga seringkali bukan sekadar soal motivasi, tetapi juga soal logistik busana. Kebutuhan untuk tetap menutup aurat — rok panjang, baju longgar, dan hijab — kerap menjadi alasan tersendiri untuk mundur. Hana merasakan hal ini sejak remaja. Ia gemar bulutangkis dan lari, namun seiring bertambahnya kesadaran untuk berbusana syar’i, ia merasa kian terbatas.
“Pernah suatu kali, saya coba pakai rok panjang biasa untuk joging. Baru sepuluh menit, rasanya sudah lelah bukan karena napas, tapi karena roknya berat dan tersangkut-sangkut di lutut. Saya pulang dengan perasaan frustrasi,” ceritanya. Pengalaman itu, kata Hana, bukan hanya miliknya. Banyak teman sesama muslimah yang akhirnya memilih olahraga di rumah saja, atau bahkan menyerah total.
Data tidak resmi dari komunitas olahraga perempuan menunjukkan bahwa lebih dari 60% muslimah aktif merasa pakaian olahraga konvensional tidak memenuhi kebutuhan syar’i mereka. Dampaknya, kesenjangan partisipasi olahraga antara perempuan berhijab dan tidak berhijab masih lebar. Padahal, olahraga adalah hak setiap orang untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.
Inovasi Sederhana yang Lahir dari Pengalaman Pribadi
Di titik inilah kisah Hana bertemu dengan Nurul, seorang desainer muda asal Bandung yang juga berhijab. Nurul, yang dulunya atlet voli, merasakan sendiri betapa tidak bersahabatnya busana olahraga yang ada di pasaran. “Saya sering ikut turnamen, dan selalu harus memodifikasi sendiri pakaian: melapis celana dengan rok, atau mencari bahan yang cepat kering tapi tidak nerawang. Capek, dan hasilnya sering tidak nyaman,” ujar Nurul sambil tersenyum.
Setelah bertahun-tahun riset dan uji coba bahan, Nurul menciptakan rok legging hijab friendly — sebuah paduan antara celana legging yang melekat pas di kaki dan rok luar berbahan poliester ringan dengan potongan A-line yang longgar di bagian bawah. Rok ini didesain sederhana: bahan yang menyerap keringat, jahitan rata tanpa mengganggu kulit, dan tali pinggang karet yang tidak menekan perut saat bergerak.
“Kuncinya ada di bahan yang sangat ringan. Kami pakai material yang biasa dipakai untuk pakaian lari profesional, tapi didesain ulang agar tetap menjuntai sopan. Saat berlari, rok ini mengikuti gerakan kaki, tidak melilit, dan tidak bikin panas,” jelas Nurul. Ia juga menambahkan detail kecil seperti saku kecil di bagian dalam untuk menyimpan kunci atau kartu, dan warna-warna netral yang mudah dipadu padankan.
Hana pertama kali mencoba rok legging buatan Nurul enam bulan lalu, atas saran seorang teman yang sudah lebih dulu jatuh hati. “Pertama kali pakai, saya langsung tes lari mengelilingi kompleks. Rasanya aneh karena begitu bebas. Saya baru sadar, selama ini beban psikologis karena pakaian ternyata benar-benar ada. Kini, saya bisa lari lima kilometer tanpa gangguan. Air mata saya keluar bukan karena capek, tapi karena terharu akhirnya ada solusi,” katanya sambil tertawa kecil.
Komunitas dan Semangat Olahraga Tanpa Kompromi
Bukan hanya Hana yang merasakan perubahan. Produk Nurul kemudian menjadi viral di kalangan komunitas hijab. Dari mulut ke mulut, rok legging ini menyebar lewat grup-grup olahraga perempuan online. Tak hanya untuk lari, busana ini juga dipakai untuk yoga, zumba, hingga panjat tebing. Sebuah komunitas di Yogyakarta bahkan rutin mengadakan “Sunday Run with Rok Legging” yang diikuti puluhan muslimah dari berbagai usia.
“Lihat saja ibu-ibu itu,” tunjuk Hana ke arah beberapa perempuan paruh baya yang ikut berlari di GBK. “Mereka tak lagi malu atau takut bergerak. Mereka datang, pakai rok legging, dan merasa percaya diri. Ini bukan hanya soal pakaian, ini soal membuka akses bagi muslimah untuk menikmati kesehatan dan kegembiraan bergerak. Itu hak semua orang.”
Nurul menambahkan, impiannya sejak awal bukan hanya menjual produk, tetapi mendorong lebih banyak perempuan berhijab untuk tak ragu pada pilihannya. “Busana syar’i tidak boleh jadi alasan untuk tidak berolahraga. Justru sebaliknya, harus ada yang memfasilitasi agar muslimah bisa aktif tanpa kehilangan identitas. Saya ingin setiap perempuan yang melihat produk kami merasa: ‘Oh, aku bisa. Aku bisa tetap menjaga auratku sambil lincah seperti atlet’. Itu yang paling membahagiakan.”
Kini, Hana tak hanya menjadi pelanggan setia, ia juga turut menyuarakan pentingnya mendukung inklusivitas dalam dunia olahraga. Melalui media sosialnya, ia kerap membagikan tips memilih busana olahraga yang tepat, sekaligus mengingatkan bahwa kesehatan adalah investasi berharga buat setiap ibu, istri, dan perempuan pada umumnya.
Saat matahari kian meninggi di langit Senayan, Hana dan kawan-kawannya mengakhiri sesi lari mereka. Di bawah rimbun pohon, mereka meregangkan otot sambil bercengkerama. Hana menatap rok legging yang membalut tubuhnya—bukan dengan pandangan biasa, tetapi dengan rasa syukur. Sebuah benda sederhana telah membantunya meraih kembali mimpi untuk hidup sehat tanpa harus berkompromi dengan nilainya. Dan bagi Hana, itu adalah kemenangan yang sejati.
Comments (0)