Senja baru saja turun di kawasan Ancol ketika ribuan pasang kaki mulai memadati area Ecovention & Ecopark, Jakarta, Jumat (7/8/2026). Angin laut berhembus pelan, membawa aroma garam dan rumput basah, bercampur dengan dengung penantian yang terasa di udara. Di antara kerumunan itu, ada yang datang berpasangan, ada yang menggandeng sahabat lama, ada pula yang datang sendirian sambil menghafal lirik dalam hati. Mereka semua menanti satu nama: Rizky Febian, yang tampil di hari pertama The Sounds Project Vol. 9 bertajuk "Beyond Memories".
Ketika lampu panggung meredup dan sorot cahaya pertama menembus kegelapan, riuh penonton pecah. Sosok yang akrab disapa Iky itu melangkah keluar dengan senyum khasnya — sederhana, hangat, tanpa jarak. Nada pertama mengalun, dan ribuan suara serempak bernyanyi bersama. Seketika, seisi area Ancol seolah berubah menjadi satu paduan suara raksasa di bawah langit malam Jakarta.
Nada Pertama yang Membuka Pintu Kenangan
Tema "Beyond Memories" yang diusung festival ini rasanya menemukan panggung yang tepat lewat penampilan Iky. Lagu demi lagu yang ia bawakan bukan sekadar deretan nada, melainkan lembaran memori bagi banyak orang yang hadir. Ada pasangan muda yang saling berpandangan saat lagu cinta dinyanyikan. Ada sekelompok sahabat yang berpelukan sambil bernyanyi dengan mata berkaca-kaca, seakan kembali ke masa-masa ketika lagu itu pertama kali menemani hari-hari mereka.
Di tengah penampilannya, cahaya dari ribuan ponsel menyala serentak, bergoyang pelan mengikuti irama. Dari atas panggung, pemandangan itu tampak seperti hamparan bintang yang jatuh ke bumi. Iky berhenti sejenak, menatap lautan cahaya itu, lalu tersenyum.
"Terima kasih sudah menyimpan lagu-lagu ini di kepala dan di hati kalian bertahun-tahun," ucapnya dengan suara bergetar. "Malam ini, kita nyanyi bareng-bareng, karena kenangan itu milik kita semua."
Perjalanan Panjang di Balik Layar
Apa yang tampak mudah di atas panggung malam itu sebenarnya dibangun dari perjalanan yang tidak singkat. Iky mengawali langkahnya di industri musik dengan bayang-bayang besar: nama ayahnya yang telah lebih dulu dikenal publik. Namun alih-alih berlindung di baliknya, ia memilih jalan yang lebih sunyi — menulis lagu sendiri, merekam demo di kamar, dan membuktikan bahwa suaranya punya cerita yang berdiri sendiri.
Kerja keras itu perlahan berbuah. Singel demi singel yang ia lahirkan menemukan rumahnya di hati pendengar. Dari panggung-panggung kecil, kini ia berdiri di hadapan ribuan orang di salah satu festival musik yang digelar THESOUNDPROJECT&CO, dinyanyikan balik oleh mereka yang tumbuh bersama lagu-lagunya. Momen mengharukan itu terasa jelas malam ini: seorang anak muda yang dulu bermimpi di kamar sempit, kini mimpinya bergema di tepi laut Jakarta.
"Dulu aku cuma berharap ada satu orang yang suka laguku," kenangnya di sela penampilan. "Sekarang lihat kalian semua di sini... ini lebih dari yang pernah aku bayangkan."
Kenangan yang Menyatukan Ribuan Hati
Bagi para penonton, malam itu bukan sekadar konser. Seorang perempuan muda di barisan depan tampak menyeka air mata sambil tetap bernyanyi. Ia mengisahkan bahwa lagu-lagu Iky menemaninya melewati masa-masa sulit bertahun-tahun lalu. "Lagunya kayak teman yang nggak pernah pergi," katanya lirih. "Dengerin langsung malam ini, rasanya kayak ketemu teman lama."
Di sudut lain, sepasang kekasih berdansa pelan di atas rumput, tak peduli pada keramaian di sekeliling mereka. Bagi mereka, dan bagi ribuan orang lainnya, musik malam itu adalah jembatan — menghubungkan siapa mereka dulu dengan siapa mereka sekarang.
Malam yang Akan Selalu Diingat
Menjelang penghujung set, Iky membawakan lagu penutup dengan seluruh tenaga dan perasaannya. Penonton menyambut dengan nyanyian yang tak kalah lantang, seolah enggan membiarkan malam berakhir. Ketika nada terakhir menggantung di udara dan lampu panggung perlahan padam, tepuk tangan membahana — panjang, tulus, penuh terima kasih.
Hari pertama The Sounds Project Vol. 9 malam itu memang telah usai. Namun bagi mereka yang hadir, kenangannya baru saja dimulai. Karena pada akhirnya, musik yang jujur selalu menemukan jalannya pulang — ke hati orang-orang yang pernah merasa ditemani olehnya. Dan malam itu, di tepi laut Ancol, Rizky Febian membuktikannya sekali lagi.
Comments (0)