Aug 26, 2026
entertainment

Riuh Tawa Anak dan Lansia Warnai TRANS TV Festival BSD

Mentari Minggu (26/7) baru saja melewati ubun-ubun ketika Alif (7) menggandeng tangan kakeknya, Suryanto (68), menyusuri koridor tenda di Lapangan Sunburst BSD. Bocah itu melompat-lompat kecil, matany...

Riuh Tawa Anak dan Lansia Warnai TRANS TV Festival BSD

Mentari Minggu (26/7) baru saja melewati ubun-ubun ketika Alif (7) menggandeng tangan kakeknya, Suryanto (68), menyusuri koridor tenda di Lapangan Sunburst BSD. Bocah itu melompat-lompat kecil, matanya berbinar menatap panggung utama yang berdenting suara musik. Suryanto, dengan topi anyaman dan senyum tipis, merasakan getar riuh yang jarang ia temui dari kesehariannya di rumah.

Itulah potongan mozaik TRANS TV Festival Vol 5, sebuah gelaran yang akhir pekan lalu berhasil mempertemukan denyut nadi berbagai generasi. Dari balita yang baru belajar berjalan hingga para sepuh yang rambutnya telah diputihkan waktu, semua hadir, berbaur, dan menciptakan pagelaran kebersamaan yang sulit dilupakan.

Ruang yang Melelehkan Sekat Usia

Di sudut panggung komedi, tawa pecah. Suryanto dan Alif duduk berdampingan di bangku panjang, sesekali sang kakek mengusap kepala cucunya sambil menahan perut karena geli. “Lucu sekali, Nak. Kakek jadi ingat pasar malam dulu,” bisiknya. Bukan hanya mereka; tampak barisan kursi roda diparkir di samping kereta bayi, dan pemiliknya saling bertukar senyum. Seorang nenek bernama Ratna (72) dengan antusias mengabadikan aksi panggung menggunakan ponsel lipatnya. “Saya biasanya cuma di rumah, nonton TV. Tapi acara ini beda, suasananya bikin saya muda lagi,” tuturnya, ditemani anaknya yang membantu memilihkan jajanan pasar.

Anak-anak berlarian tanpa kenal lelah, sesekali tersandung, tetapi segera dibantu oleh orang dewasa, tak peduli apakah itu keluarga atau bukan. Keakraban itu mengalir begitu saja, seperti oksigen pagi. Peserta lansia pun tak kalah bersemangat: ada yang mengikuti kuis, ada yang berjoget ringan diiringi band lokal, membuktikan bahwa semangat tak selalu diukur dari hitungan detak jantung yang cepat.

Kisah di Balik Langkah Kecil

Setiap orang membawa alasan sendiri menapaki lapangan festival itu. Alif, yang sehari-hari murid kelas dua SD, adalah alasan Suryanto keluar dari zona nyamannya. “Saya udah lama enggak jalan-jalan begini. Cucu saya yang ajak, katanya ada panggung musik dan badut. Daripada di rumah terus, ya sudah,” kata Suryanto, suaranya hampir tenggelam oleh sorak-sorai. Ia menambahkan bahwa semenjak pandemi, interaksinya dengan dunia luar hanya lewat layar televisi. Kini, ia bisa menyaksikan cucunya tertawa lepas tanpa sekat digital.

Sementara itu, Ratna, pensiunan guru, sengaja datang bersama dua anaknya yang sudah berkeluarga. Ia ingin merasakan denyut keramaian yang mengingatkannya pada masa mudanya mengajar di panggung kecil sekolah. “Saya suka lihat anak-anak main. Mereka energinya tidak habis-habis. Saya jadi ikut semangat,” ucapnya, matanya menerawang pada sekelompok bocah yang tengah mewarnai di salah satu stan.

Lebih dari Sekadar Panggung Hiburan

Di balik gemerlap panggung dan dentuman musik, festival ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan tidak mengenal batasan umur. Seorang panitia mengungkapkan, sejak pagi antusiasme pengunjung dari berbagai kalangan sudah terlihat. Mereka menyediakan area ramah lansia, tempat duduk prioritas, dan jalur aksesibel. Bukan hanya euforia, melainkan pelukan hangat komunitas yang sengaja dirancang.

Menjelang senja, saat langit mulai merona jingga, Alif dan Suryanto masih betah. Sang kakek membelikan balon warna-warni, dan sang cucu mengecup pipinya—momen kecil yang mungkin tak akan diliput kamera mana pun, tetapi begitu berarti. Ratna pun masih duduk di bangku yang sama, kali ini dikelilingi kenalan baru yang usianya puluhan tahun lebih muda. Mereka bertukar cerita tentang resep kue tradisional dan aplikasi ponsel. “Di sini, rasanya usia cuma angka. Semua sama-sama senang, sama-sama ingin bahagia,” katanya, menutup hari sambil tersenyum pada langit yang perlahan gelap.

Ketika panggung terakhir memudarkan suaranya, dan lampu-lampu tenda satu per satu dipadamkan, yang tertinggal bukan hanya jejak kaki di rerumputan, melainkan kehangatan yang meresap ke relung hati. Festival itu selesai, tetapi cerita tentang Alif dan Suryanto, Ratna dan ribuan pengunjung lainnya, akan terusan hidup dalam ingatan: bahwa di tengah hiruk-pikuk zaman, selalu ada ruang untuk saling menggenggam, dari generasi paling belia hingga yang paling sepuh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User