Di bawah sinar pagi Minggu, Lapangan Merdeka Medan berdenyut oleh langkah ribuan peserta jalan sehat yang mengikuti rangkaian kegiatan SPARK Go To Campus. Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, melepas langsung keberangkatan peserta sekaligus menyampaikan pesan penting: edukasi dan literasi kesehatan reproduksi harus terus diperluas, terutama bagi generasi muda.
Kegiatan yang berlangsung Minggu (4/10/2026) ini merupakan bagian dari program edukatif terintegrasi dengan Gerakan Nasional SPRIN (Selamatkan Perempuan Indonesia), yang digagas Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia atau POGI. Kehadiran orang nomor satu di Medan itu memberi nuansa politis sekaligus kesehatan masyarakat pada satu momen yang sama.
Literasi Kesehatan Reproduksi Masuk ke Kampus
Rico Waas menegaskan bahwa edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan bidang obstetri-ginekologi tidak boleh berhenti di ruang-ruang klinik. Menurutnya, pemahaman tersebut perlu menjangkau lingkungan kampus dan masyarakat luas. Pemahaman yang baik tentang kesehatan reproduksi menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi bangsa yang sehat dan berkualitas.
"Perempuan adalah bagian utama dari masa depan bangsa ini. Proses kehamilan hingga melahirkan generasi penerus membutuhkan kondisi kesehatan yang prima. Karena itu, pemahaman menyeluruh tentang kesehatan reproduksi harus sampai ke seluruh lapisan masyarakat," ujar Rico Waas di sela-sela kegiatan.
Pernyataan itu menarik perhatian karena menyandingkan dua isu yang kerap dipisahkan dalam ranah publik: agenda pembangunan kesehatan dan momentum politik menjelang Pilkada Medan 2025 yang masih menyisakan memori hangat bagi warga. Bagi sebagian pengamat, kemunculan Rico Waas di tengah ribuan peserta menegaskan bahwa isu kesehatan perempuan bisa menjadi jembatan komunikasi yang efektif dengan konstituen.
SPARK dan SPRIN: Dua Program yang Bersinggungan
SPARK Go To Campus mengusung pendekatan edukatif yang menyasar mahasiswa dan komunitas kampus. Sementara itu, Gerakan Nasional SPRIN dari POGI lebih fokus pada penyelamatan nyawa perempuan melalui peningkatan akses layanan kesehatan reproduksi. Pertemuan kedua program ini dalam satu kegiatan jalan sehat memberi gambaran bahwa isu kesehatan reproduksi kini dipandang sebagai agenda lintas sektor.
Rico Waas menjelaskan bahwa literasi kesehatan yang diberikan sejak dini akan berdampak jangka panjang. Anak muda yang paham akan pentingnya pemeriksaan rutin, nutrisi, dan kewaspadaan terhadap risiko kehamilan berisiko tinggi kelak menjadi orang tua yang lebih siap. Di sinilah edukasi berubah menjadi investasi bagi masa depan keluarga Indonesia.
- Target utama: mahasiswa dan komunitas kampus di Kota Medan.
- Mitra strategis: POGI melalui Gerakan Nasional SPRIN.
- Fokus edukasi: kesehatan reproduksi, obstetri-ginekologi, dan pencegahan risiko kehamilan.
- Jangkauan: dari kampus hingga lapisan masyarakat umum.
Kesehatan Reproduksi sebagai Agenda Kota
Pemerintah Kota Medan sendiri terus mendorong program-program yang menyentuh kebutuhan dasar warga, termasuk layanan kesehatan ibu dan anak. Dalam konteks itu, kolaborasi dengan organisasi profesi seperti POGI menjadi langkah penting. Ribuan peserta jalan sehat yang hadir pada Minggu pagi menjadi bukti bahwa antusiasme masyarakat terhadap isu ini cukup tinggi ketika disajikan dengan pendekatan yang menyenangkan.
Rico Waas berharap kegiatan serupa tidak berhenti pada satu kali pelaksanaan. Ia menilai konsistensi edukasi akan menentukan seberapa besar perubahan perilaku masyarakat dalam jangka panjang. Tanpa literasi yang berkelanjutan, program kesehatan hanya akan menjadi agenda musiman.
Secara terpisah, peserta jalan sehat mengaku senang bisa berpartisipasi sekaligus mendapat informasi kesehatan yang jarang mereka peroleh di keseharian. Momen di Lapangan Merdeka itu pun menjadi pengingat bahwa kesehatan reproduksi bukan isu tabu, melainkan kebutuhan nyata yang menyangkut masa depan setiap keluarga Indonesia.
Comments (0)