Aug 25, 2026
entertainment

Revisi UU Perfilman, Melindungi Mimpi di Balik Layar

Di sebuah ruang kerja sederhana di kawasan Jakarta Selatan, seorang kru produksi film muda menunduk dalam diam. Ia baru saja menyelesaikan syuting selama 18 jam nonstop tanpa jeda. Di usianya yang bar...

Revisi UU Perfilman, Melindungi Mimpi di Balik Layar

Di sebuah ruang kerja sederhana di kawasan Jakarta Selatan, seorang kru produksi film muda menunduk dalam diam. Ia baru saja menyelesaikan syuting selama 18 jam nonstop tanpa jeda. Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, ia sudah merasakan betapa kerasnya dunia perfilman. Namun di balik kelelahan itu, ada secercah harapan yang mulai tumbuh. Harapan bahwa suatu hari, kerja kerasnya akan dihargai layaknya manusia, bukan sekadar mesin produksi.

Harapan itu kini semakin nyata. Badan Perfilman Indonesia (BPI) tengah menggodok revisi Undang-Undang Perfilman yang di dalamnya memuat kerangka perlindungan bagi sumber daya manusia (SDM) perfilman, termasuk pekerja anak. Sebuah langkah yang dianggap banyak pihak sebagai angin segar bagi industri kreatif yang selama ini kerap kali mengabaikan kesejahteraan para pekerjanya.

Mengisahkan Perjuangan di Balik Layar

Dunia perfilman memang selalu tampak gemerlap dari luar. Layar lebar menampilkan kisah-kisah heroik, cinta, dan petualangan yang memukau. Namun di balik layar, ada ribuan orang yang berjuang tanpa lelah. Mereka adalah kru lighting, penata rias, asisten sutradara, hingga para pekerja harian yang seringkali bekerja dalam tekanan waktu dan anggaran yang ketat.

Ketua BPI, dalam sebuah diskusi terbatas yang digelar pekan lalu, menjelaskan bahwa revisi UU Perfilman ini tidak hanya bicara soal regulasi industri, tetapi juga tentang kemanusiaan. “Kami ingin memastikan bahwa setiap orang yang terlibat dalam produksi film, dari yang paling depan hingga yang paling belakang, mendapatkan hak-haknya,” ujarnya dengan nada penuh harap.

Perjalanan menuju revisi ini bukanlah hal yang mudah. BPI harus berhadapan dengan berbagai kepentingan, mulai dari rumah produksi besar hingga asosiasi pekerja. Namun semangat untuk menciptakan ekosistem perfilman yang lebih adil menjadi pendorong utama. Momen mengharukan terjadi ketika beberapa pekerja senior menceritakan pengalaman mereka selama puluhan tahun bekerja tanpa jaminan sosial yang layak.

Perlindungan untuk Mimpi Anak-Anak

Salah satu poin yang paling menyentuh dalam revisi ini adalah pengaturan tentang pekerja anak. Industri perfilman Indonesia memang kerap melibatkan anak-anak dalam produksi, baik sebagai aktor maupun figuran. Namun seringkali, perlindungan terhadap mereka masih jauh dari kata layak.

Bayangkan seorang anak berusia 9 tahun yang harus berakting di bawah terik matahari selama berjam-jam. Ia mungkin tersenyum di depan kamera, namun di balik itu, ada hak-haknya yang terabaikan. Hak untuk bermain, belajar, dan beristirahat. Revisi UU ini berupaya mengubah semua itu. Akan ada aturan yang jelas tentang jam kerja, pendampingan orang tua, dan akses pendidikan bagi anak-anak yang terlibat dalam produksi film.

“Setiap anak yang berakting adalah bintang di layar, tetapi mereka juga tetap anak-anak yang butuh pelukan dan perlindungan. Kami tidak ingin mimpi mereka berubah menjadi mimpi buruk,” tutur seorang anggota tim perumus dengan mata berkaca-kaca.

Semangat ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap sejumlah kasus eksploitasi anak di industri hiburan yang pernah terungkap. Ada kisah tentang seorang anak yang harus bolos sekolah berbulan-bulan demi menyelesaikan syuting, atau yang harus bekerja dalam kondisi tidak manusiawi. Kisah-kisah inilah yang menjadi bahan bakar perjuangan BPI untuk mengubah wajah industri perfilman Indonesia.

Bangkit Menuju Masa Depan yang Lebih Baik

Revisi UU Perfilman ini juga membahas kerangka kerja yang lebih komprehensif untuk seluruh SDM perfilman. Mulai dari kontrak kerja yang transparan, jaminan sosial, hingga mekanisme penyelesaian sengketa. Semua ini dirancang untuk menciptakan rasa aman bagi para pekerja, sehingga mereka bisa berkarya dengan tenang dan maksimal.

Bagi para pekerja muda, ini adalah angin segar. Mereka tidak lagi harus hidup dalam ketidakpastian. Seorang penata suara yang baru tiga tahun terjun di industri ini mengaku sangat menantikan pengesahan revisi tersebut. “Selama ini kami bekerja seperti tidak ada hari esok. Semoga dengan aturan baru ini, kami bisa berjuang dengan lebih bermartabat,” katanya.

Perjalanan untuk mewujudkan mimpi ini memang masih panjang. Masih ada banyak tahapan yang harus dilalui sebelum revisi UU ini disahkan. Namun di balik semua itu, ada optimisme yang tumbuh di hati setiap pekerja film. Mereka percaya bahwa suatu hari nanti, industri perfilman Indonesia tidak hanya akan dikenal karena karya-karyanya yang hebat, tetapi juga karena cara mereka memperlakukan manusianya.

Di sudut ruangan yang sama, kru muda itu akhirnya tersenyum. Ia tahu, perjuangannya dan ribuan pekerja lainnya tidak akan sia-sia. Ada tangan-tangan yang sedang bekerja keras untuk melindungi mimpi mereka. Dan itu adalah inspirasi yang tak ternilai harganya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User