Aug 25, 2026
entertainment

Mimpi Fauzan Zidni Membawa Film Indonesia Menembus Panggung Oscar

Di sebuah ruangan sederhana di kawasan Jakarta Selatan, Fauzan Zidni duduk dengan mata berbinar. Pria yang baru saja terpilih sebagai Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) periode 2026-2029 ini tengah...

Mimpi Fauzan Zidni Membawa Film Indonesia Menembus Panggung Oscar

Di sebuah ruangan sederhana di kawasan Jakarta Selatan, Fauzan Zidni duduk dengan mata berbinar. Pria yang baru saja terpilih sebagai Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) periode 2026-2029 ini tengah merancang sebuah perjalanan panjang. Bukan sekadar soal regulasi atau birokrasi, melainkan tentang mimpi besar: membawa film Indonesia bersaing di panggung dunia, termasuk ajang paling prestisius, Academy Awards atau yang lebih dikenal dengan Oscar.

Perjalanan Fauzan menuju kursi ketua BPI bukanlah jalan yang mulus. Sejak lama, ia dikenal sebagai sosok yang gigih memperjuangkan ekosistem perfilman nasional. Dari diskusi-diskusi kecil dengan sineas muda hingga lobi-lobi di gedung pemerintahan, semua ia lalui dengan keyakinan bahwa film Indonesia punya tempat di mata dunia. Kini, dengan amanah baru di pundaknya, ia semakin mantap melangkah.

"Ini bukan tentang saya, tapi tentang bagaimana kita bersama-sama membangun rumah besar bagi perfilman Indonesia," ujarnya pelan, dengan nada yang menghangatkan hati. Di balik layar, ada kerja keras yang tak terlihat: rapat maraton, negosiasi alot, dan mimpi yang tak pernah padam.

Memperluas Pasar: Dari Layar Kaca ke Layar Dunia

Fauzan mengisahkan bahwa salah satu fokus utama kepemimpinannya adalah memperluas pasar film Indonesia. Selama ini, film-film Tanah Air sering kali hanya berkutat di pasar domestik. Padahal, potensi cerita dan kreativitas sineas lokal sangat besar. "Kita punya kekayaan budaya dan kisah yang tidak dimiliki negara lain. Ini aset yang harus kita garap serius," katanya.

Strategi yang ia bayangkan bukan hanya soal menembus festival internasional, tetapi juga membangun jaringan distribusi yang kuat. Kerja sama dengan platform streaming global, menjalin kemitraan dengan rumah produksi asing, hingga memanfaatkan teknologi digital untuk menjangkau penonton di berbagai belahan dunia. Semua ini, menurutnya, adalah langkah-langkah kecil yang jika dilakukan konsisten akan membawa perubahan besar.

Di balik rencana tersebut, ada semangat untuk memberdayakan sineas lokal. Fauzan percaya bahwa pasar yang luas harus dimulai dari dalam negeri yang sehat. "Kalau film kita kuat di rumah sendiri, maka dunia akan melirik. Ini seperti membangun pondasi sebelum membangun menara," tambahnya sambil tersenyum.

Target Oscar: Sebuah Mimpi yang Harus Dirawat

Bicara soal Oscar, Fauzan tidak menampik bahwa ini adalah target yang berat. Namun, ia menegaskan bahwa target tersebut bukanlah hal yang mustahil. "Oscar bukan tujuan akhir, tapi bagian dari perjalanan untuk menunjukkan bahwa kita mampu berkarya di level tertinggi," tuturnya. Ia mengingat momen-momen ketika film-film Asia seperti Parasite dari Korea Selatan berhasil menembus tembok Hollywood. Kisah itu, baginya, adalah inspirasi bahwa mimpi besar selalu dimulai dari langkah kecil.

Untuk mewujudkan hal ini, BPI berencana memperkuat kurasi film yang akan dikirim ke komite Oscar. Bukan hanya soal kualitas teknis, tetapi juga kedalaman cerita yang bisa menyentuh hati penonton internasional. "Kita harus berani bercerita tentang kemanusiaan, tentang perjuangan, tentang air mata dan harapan. Itu bahasa universal," jelasnya.

Namun, Fauzan juga mengingatkan bahwa perjalanan menuju Oscar haruslah berkelanjutan. "Jangan sampai kita hanya sibuk mengejar piala, tapi lupa merawat ekosistem. Sineas muda harus terus bermunculan, cerita-cerita baru harus terus lahir," katanya. Baginya, Oscar hanyalah puncak gunung, sementara yang lebih penting adalah bagaimana mendaki dengan tetap menjaga kaki kita berpijak di bumi.

Di Balik Layar: Perjuangan yang Tak Terlihat

Menjadi ketua BPI bukanlah pekerjaan yang mudah. Fauzan mengakui bahwa ada banyak tantangan di depan mata: anggaran yang terbatas, koordinasi antar lembaga, hingga ekspektasi publik yang tinggi. Namun, semua itu ia hadapi dengan ketenangan dan keyakinan. "Saya tidak bekerja sendiri. Ada banyak orang baik yang ingin melihat film Indonesia maju," ujarnya.

Ia pun bercerita tentang momen-momen mengharukan selama proses pemilihan kemarin. Banyak sineas muda yang datang dan memberikan dukungan, bahkan mereka yang belum pernah bekerja sama dengannya. "Itu membuat saya terharu. Mereka percaya pada mimpi yang sama," katanya, dengan suara sedikit bergetar. Dukungan itulah yang menjadi bahan bakar untuk terus berjuang.

Di akhir perbincangan, Fauzan menatap jauh ke luar jendela. "Kita punya banyak cerita indah yang belum diceritakan. Mari kita angkat bersama-sama," pesannya. Mungkin, dari ruangan kecil itulah, sebuah perjalanan besar akan dimulai. Sebuah perjalanan yang tidak hanya mengejar piala, tetapi juga mengharumkan nama bangsa melalui karya yang menyentuh.

Kisah Fauzan Zidni adalah pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari mimpi yang sederhana. Dan di balik setiap target ambisius, ada kerja keras, air mata, dan keyakinan yang tak pernah padam. Film Indonesia, dengan segala potensinya, sedang bersiap untuk bangkit dan bersinar di panggung dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User