BITUNG — PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) menggelar program Coastal Education 2026 di Pantai Tangkoko, Kota Bitung, Sulawesi Utara, sebagai wujud komitmen perusahaan dalam pelestarian lingkungan pesisir. Kegiatan yang diikuti oleh 50 siswa dari berbagai jenjang sekolah dasar dan menengah ini bertujuan menanamkan kesadaran sejak usia dini akan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem laut yang kian terancam akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim.
Acara berlangsung di kawasan pantai yang dikenal memiliki keanekaragaman hayati tinggi tersebut. Para peserta diajak untuk mengenal ekosistem mangrove, mempelajari rantai makanan di zona litoral, serta melakukan simulasi pembersihan sampah pantai. Melalui pendekatan pembelajaran tatap muka di alam terbuka, anak-anak tidak hanya mendengarkan penjelasan teoretis, tetapi juga secara langsung berinteraksi dengan habitat alami yang menjadi penyangga kehidupan biota laut. Metode ini diharapkan mampu menciptakan koneksi emosional antara generasi muda dengan lingkungan bahari sekitar mereka.
Dalam sambutannya, perwakilan PTK menegaskan bahwa program ini bukan sekadar aktivitas sosial semata, melainkan investasi jangka panjang terhadap masa depan sumber daya kelautan Indonesia. Sebagai negara maritim dengan lebih dari 17.000 pulau, kelangsungan ekosistem pesisir menjadi tulang punggung ekonomi dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Namun, data dari berbagai laporan lingkungan menunjukkan bahwa kerusakan mangrove dan terumbu karang akibat sampah plastik serta praktik penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan terus meningkat. Oleh karena itu, intervensi melalui edukasi dinilai sebagai langkah preventif yang lebih efektif dibandingkan upaya rehabilitasi semata.
Kegiatan serupa sebenarnya telah banyak dilakukan oleh korporasi lain di berbagai wilayah Indonesia. Namun, yang membedakan program PTK kali ini adalah integrasi antara materi konservasi dengan pengenalan potensi ekonomi biru berbasis masyarakat lokal. Siswa diajarkan bahwa menjaga kelestarian laut bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga berkaitan erat dengan kelangsungan mata pencaharian nelayan dan industri perikanan di Kota Bitung yang menjadi salah satu sentra perikanan nasional. Pendekatan ini mencoba meruntuhkan anggapan bahwa konservasi selalu bertentangan dengan pembangunan ekonomi.
Analisis: Mengapa Edukasi Pesisir Menjadi Kunci Konservasi
Program Coastal Education 2026 yang digelar PTK mencerminkan pergeseran paradigma dalam pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (TJSLP) dari sekadar donasi atau rehabilitasi fisik menuju pembentukan perilaku melalui literasi lingkungan. Berbeda dengan program konvensional yang cenderung bersifat insidental, edukasi berbasis lokasi (place-based education) memungkinkan peserta untuk membangun pemahaman kontekstual tentang ekosistem tempat mereka tinggal.
| Aspek | Program Coastal Education PTK | Program Konvensional pada Umumnya |
|---|---|---|
| Target Partisipan | Siswa usia dini di wilayah pesisir | Umumnya masyarakat luas atau pemangku kepentingan |
| Metode Pembelajaran | Eksperimen lapangan dan interaksi langsung dengan ekosistem | Seminar, penyuluhan indoor, atau distribusi pamflet |
| Durasi Dampak | Jangka panjang melalui perubahan perilaku generasi muda | Jangka pendek, terbatas pada momen kegiatan |
| Cakupan Isu | Konservasi sekaligus pemberdayaan ekonomi lokal | Fokus pada satu isu spesifik tanpa kaitan ekonomi |
Dari tabel di atas terlihat jelas bahwa pendekatan yang diambil PTK memiliki karakteristik lebih komprehensif. Penggabungan antara sentuhan emosional melalui aktivitas di alam dengan pemahaman rasional tentang manfaat ekonomi menjadikan peserta tidak hanya “tahu” tetapi juga “peduli”. Dalam jangka panjang, model semacam ini diyakini mampu mencetak generasi yang memiliki environmental stewardship, yaitu rasa tanggung jawab lingkungan yang melekat pada kepribadian.
Dr. Lina Marlina, ahli konservasi pesisir dari Institut Pertanian Bogor (IPB), menilai bahwa intervensi pada kelompok usia sekolah dasar hingga menengah pertama memiliki tingkat efektivitas tinggi dalam membentuk kebiasaan pro-lingkungan. "Jendela golden age untuk pembentukan karakter anak berada pada rentang usia 7 hingga 14 tahun. Jika pada periode tersebut mereka sudah terbiasa melihat sampah sebagai ancaman nyata bagi laut dan sudah terlatih memilah limbah sejak di pantai, besar kemungkinan perilaku itu akan terbawa hingga dewasa nanti," ujarnya dalam kesempatan terpisah.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh aktivis lingkungan lokal di Sulawesi Utara yang menyebut bahwa Kota Bitung memiliki potensi besar untuk menjadi model kota kelautan berkelanjutan. Namun, potensi tersebut tidak akan tercapai tanpa partisipasi aktif generasi muda yang memahami kondisi geografis dan ekologis wilayahnya. Pantai Tangkoko sendiri berada di kawasan yang strategis, tidak jauh dari Cagar Alam Tangkoko-Batuangus, sehingga kegiatan edukasi di sana memberikan nilai tambah pengalaman belajar tentang keterkaitan ekosistem darat dan laut.
Di sisi lain, keberhasilan program ini juga bergantung pada keberlanjutan dan replikasinya. Mengadakan acara tahunan saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan kurikulum pendukung di sekolah-sekolah serta kebijakan tata kelola sampah di tingkat kelurahan. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara korporasi, dinas pendidikan, dan pemerintah daerah untuk memastikan bahwa benih-benih kesadaran yang ditabur melalui Coastal Education benar-benar tumbuh menjadi aksi nyata pengurangan polusi laut dan rehabilitasi mangrove secara berkelanjutan.
Dengan mengusung visi pelestarian berbasis partisipasi generasi muda, langkah PTK di Bitung ini dapat dijadikan rujukan bagi pelaku industri maritim lainnya. Bukan tidak mungkin, jika model edukasi pesisir seperti ini direplikasi di 34 provinsi lainnya, Indonesia akan memiliki armada pelindung laut yang terdiri dari masyarakat lokal itu sendiri. Masa depan kekayaan bahari nasional yang sering diklaim sebagai 70% wilayahnya adalah lautan, akan lebih terjamin jika para penjaganya adalah anak-anak yang sejak kecil sudah mencintai dan memahami laut.