Oct 10, 2026
Nasional

Prof. Purwiyatno Ingatkan Ultra-Processed Food Tak Cukup Dinilai dari Tingkat Pengolahan

Guru Besar Ilmu Pangan IPB University, Prof. Purwiyatno Hariyanto, menyampaikan pandangan yang cukup menggugat cara kita selama ini memahami makanan olahan

Prof. Purwiyatno Ingatkan Ultra-Processed Food Tak Cukup Dinilai dari Tingkat Pengolahan

Guru Besar Ilmu Pangan IPB University, Prof. Purwiyatno Hariyanto, menyampaikan pandangan yang cukup menggugat cara kita selama ini memahami makanan olahan. Menurutnya, tingkat pengolahan suatu pangan saja tidak bisa dijadikan ukuran tunggal untuk menilai kualitas sebuah produk makanan. Pernyataan ini disampaikannya dalam sebuah forum diskusi pangan yang membahas klasifikasi ultra-processed food atau makanan ultra-proses yang belakangan jadi sorotan publik.

Isu ini mencuat setelah berbagai laporan kesehatan global menuding makanan ultra-proses sebagai biang keladi meningkatnya angka obesitas, diabetes, hingga penyakit kardiovaskular. Namun Prof. Purwiyatno melihat persoalannya jauh lebih rumit dari sekadar label "ultra-proses" pada kemasan. Ia menekankan bahwa kualitas pangan harus dilihat dari banyak dimensi, mulai dari kandungan gizi, keamanan pangan, hingga nilai manfaat bagi tubuh.

Awal Mula Istilah Ultra-Processed Food Menjadi Perdebatan

Istilah ultra-processed food pertama kali diperkenalkan dalam sistem klasifikasi NOVA yang dikembangkan oleh peneliti asal Brasil, Carlos Monteiro. Sistem ini membagi pangan menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat pengolahan, dengan kelompok keempat alias ultra-proses dianggap paling berbahaya. Sejak itu, istilah ini menyebar luas ke berbagai negara, termasuk Indonesia, dan memengaruhi cara konsumen memilih makanan.

Masalahnya, menurut Prof. Purwiyatno, klasifikasi semacam itu sering disalahartikan. Banyak orang langsung menghakimi sebuah produk hanya karena masuk kategori ultra-proses, tanpa melihat komposisi gizinya secara menyeluruh. Ia mencontohkan sejumlah produk yang diproses secara modern justru kaya nutrisi dan aman dikonsumsi.

Kronologi Perdebatan dan Argumentasi Para Ahli

  1. 1969 — Konsep awal klasifikasi pangan mulai diperkenalkan untuk memetakan pola konsumsi masyarakat.
  2. 2009 — Sistem NOVA resmi dipublikasikan dan membagi pangan ke dalam empat kelompok.
  3. 2019 — Studi besar dari Spanyol mengaitkan konsumsi ultra-proses dengan risiko kematian dini.
  4. 2023 — WHO dan FAO mulai menyoroti perlunya definisi yang lebih jelas soal ultra-proses.
  5. Kini — Prof. Purwiyatno menegaskan tingkat pengolahan bukan satu-satunya indikator kualitas pangan.

Pandangan Ahli: Kulitas Pangan Harus Dinilai Secara Holistik

"Tingkat pengolahan saja tidak cukup untuk menentukan kualitas suatu pangan. Kita harus melihat aspek gizi, keamanan, dan dampaknya bagi kesehatan secara keseluruhan," tegas Prof. Purwiyatno.

Pernyataan ini sejalan dengan sejumlah akademisi lain yang menilai sistem klasifikasi NOVA terlalu menyederhanakan persoalan. Menurut mereka, label ultra-proses bisa menyesatkan konsumen karena tidak membedakan antara produk yang benar-benar tidak sehat dan produk yang justru diformulasikan untuk kebutuhan gizi tertentu.

Aspek PenilaianPendekatan LamaPandangan Prof. Purwiyatno
Fokus utamaTingkat pengolahanGizi + keamanan + manfaat
Indikator penilaianKategori NOVAMulti-dimensi
Dampak ke konsumenLabel menyesatkanEdukasi lebih penting
Pendekatan ilmiahSederhanaHolistik

Implikasi bagi Konsumen dan Industri Pangan Indonesia

Pandangan Prof. Purwiyatno membawa implikasi penting bagi konsumen Indonesia. Alih-alih langsung menghindari semua produk ultra-proses, masyarakat diminta lebih cermat membaca label gizi dan memahami komposisi produk. Di sisi lain, industri pangan dituntut transparan dan inovatif dalam menghasilkan produk yang tidak hanya praktis, tetapi juga bergizi.

Ia juga mengingatkan bahwa edukasi pangan menjadi kunci. Tanpa pemahaman yang baik, konsumen mudah terjebak pada stigma atau justru mengabaikan risiko nyata. Menurutnya, literasi pangan harus menjadi bagian dari kebijakan publik, bukan sekadar wacana akademik.

Dengan begitu, diskusi soal ultra-processed food perlu digeser dari sekadar label menakutkan menjadi pemahaman menyeluruh tentang apa yang sebenarnya kita konsumsi setiap hari.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User