Sep 01, 2026
entertainment

Possible Love Besutan Lee Chang-dong Wakili Korea Selatan di Oscars 2027

Di sebuah gedung tua di Seoul, sebuah layar putih terbentang tanpa suara. Lee Chang-dong duduk sendirian, menatap layar kosong itu seolah sedang membaca sebuah surat yang tak pernah dikirim. Beberapa ...

Possible Love Besutan Lee Chang-dong Wakili Korea Selatan di Oscars 2027

Di sebuah gedung tua di Seoul, sebuah layar putih terbentang tanpa suara. Lee Chang-dong duduk sendirian, menatap layar kosong itu seolah sedang membaca sebuah surat yang tak pernah dikirim. Beberapa jam kemudian, dunia akan tahu bahwa filmnya, Possible Love, akan mewakili Korea Selatan di Academy Awards 2027. Namun saat itu, yang ia rasakan bukan gemuruh tepuk tangan, melainkan keheningan yang familier — keheningan yang selalu hadir sebelum sebuah cerita benar-benar dimulai.

Dari Layar Kecil ke Panggung Dunia

Possible Love bukan film pertama Lee Chang-dong yang mengarahkan langkahnya menuju panggung internasional. Namun setiap kali namanya disebut dalam satu ruangan yang sama dengan Oscar, ada sesuatu yang berbeda dalam caranya menatap kamera. Mungkin karena usia, mungkin karena pengalaman, atau mungkin karena Possible Love lahir dari sebuah luka yang belum pernah ia ceritakan sepenuhnya.

Film ini mengisahkan tentang dua orang yang bertemu di usia yang seharusnya sudah tak lagi percaya pada keajaiban. Seorang perempuan paruh baya yang hidup dalam rutinitas yang monoton, dan seorang laki-laki tua yang baru saja kehilangan istri tercintanya. Mereka berdua tak mencari cinta — mereka hanya sedang mencoba memahami mengapa hidup masih terasa layak dijalani.

Menurut salah satu anggota tim produksi yang berbicara dengan suara bergetar saat dikonfirmasi oleh media lokal Seoul, Lee Chang-dong menulis naskah ini dalam waktu enam bulan di sebuah rumah kecil dekat pantai Busan. Setiap malam, ia berjalan kaki ke tepi laut, duduk di atas batu karang, dan menulis di buku catatannya yang sudah lusuh. "Kadang saya melihatnya dari kejauhan," kenang orang itu. "Ia tidak menulis. Hanya menatap ombak. Lalu kembali ke rumah dan menulis lagi."

Lee Chang-dong dan Seni Menunggu dengan Sabar

Sutradara berusia 71 tahun ini memang bukan类型 yang tergesa-gesa. Dalam kariernya yang membentang selama dua dekade lebih, ia hanya menyutradarai delapan film. Delapan. Angka yang terasa sangat kecil jika dibandingkan dengan rekan-rekannya yang memproduksi dua hingga tiga film dalam satu tahun. Namun setiap filmnya membawa beban emosional yang begitu dalam, seolah setiap frame adalah napas terakhir dari sebuah kehidupan.

Possible Love dibangun dengan tempo yang lambat, sebuah keberanian besar di era konten yang serba cepat. Lee tidak takut membuat penontonnya menunggu. Ia percaya bahwa cinta, pada dasarnya, adalah tentang menunggu. Menunggu pesan yang tak kunjung datang. Menunggu seseorang memahami tanpa harus diberi tahu. Menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan hal yang paling sederhana namun paling sulit diucapkan.

"Saya tidak membuat film untuk membuat orang menangis," kata Lee dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu. "Saya membuat film agar orang mengingat bahwa mereka masih memiliki perasaan. Bahwa mereka belum mati."

Kalimat itu, yang terdengar sederhana namun menghantam dengan kekuatan yang tak terduga, menjadi fondasi dari Possible Love. Film ini tidak menawarkan jawaban. Ia menawarkan kehadiran.

Harapan di Balik Selubung Keraguan

Pengumuman bahwa Possible Love akan mewakili Korea Selatan di kategori Best International Feature Film di Academy Awards 2027 datang di tengah malam waktu Seoul. Namun kabar ini sudah menyebar ke seluruh dunia dalam hitungan jam. Media-media internasional menyebutnya sebagai "pilihan yang berani" — sebuah film tanpa aksi, tanpa特效 besar, hanya tentang dua manusia yang sedang belajar menerima kenyataan.

Komite seleksi Korea Selatan menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari sinematografi, kedalaman narasi, hingga kemampuan film ini berbicara kepada penonton lintas budaya. Possible Love, menurut mereka, memiliki bahasa universal yang tidak memerlukan terjemahan. Cukup ditonton, cukup dirasakan.

Bagi Lee Chang-dong sendiri, momen ini mungkin tidak terasa seperti kemenangan. Ia lebih terlihat seperti seseorang yang sedang menarik napas panjang sebelum melanjutkan perjalanan. Karena bagi seorang sutradara sejati, Oscar bukanlah tujuan akhir. Ia hanya sebuah penanda di jalan — sebuah pengakuan bahwa apa yang ia ceritakan selama ini, memang layak didengar.

Di sudut sebuah studio kecil di Seoul, sebuah poster Possible Love tergantung di dinding. Tanpa gambar besar, tanpa warna mencolok. Hanya dua bayangan yang saling berhadapan, seolah sedang berbicara dalam diam. Mungkin itulah yang ingin disampaikan Lee Chang-dong sepanjang kariernya: bahwa cerita terbaik tidak selalu harus terdengar keras. Kadang, ia hanya perlu kehadiran yang cukup untuk didengar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User