Sep 01, 2026
entertainment

Momen Mengharukan Penggemar Mengenang Dolly Parton di Tempat Terakhir

Di depan panggung kecil yang dihiasi lilin-lilin menyala, seorang perempuan paruh baya terdiam memandangi foto Dolly Parton yang terpajang di tengah karangan bunga. Matanya berkaca-kaca. Ia tak menyan...

Momen Mengharukan Penggemar Mengenang Dolly Parton di Tempat Terakhir

Di depan panggung kecil yang dihiasi lilin-lilin menyala, seorang perempuan paruh baya terdiam memandangi foto Dolly Parton yang terpajang di tengah karangan bunga. Matanya berkaca-kaca. Ia tak menyangka bahwa wanita berjubah merah muda yang selama puluhan tahun menjadi pengiring hidupnya harus pergi untuk selamanya.

Dolly Parton tutup usia di usia 80 tahun, pada hari Selasa lalu. Kabar duka itu menyebar bagai angin kencang ke seluruh penjuru negeri, menyentuh hati jutaan penggemarnya yang tersebar di berbagai belahan dunia. Bagi mereka yang hadir dalam penghormatan terakhir di Nashville, Tennessee, malam itu bukan sekadar datang untuk mengucapkan selamat jalan. Mereka datang untuk menyampaikan terima kasih.

Perjalanan Panjang Sang Legenda

Dolly Rebecca Parton lahir di sebuah gubuk sederhana di kaki Pegunungan Great Smoky, Tennessee, pada 19 Januari 1946. Ia tumbuh dari kemiskinan yang membekas di ingatannya — pengalaman yang kemudian membentuk banyak lagu-lagunya tentang kehidupan rural Amerika. Namun siapa sangka, gadis kecil dari desanya itu akan tumbuh menjadi salah satu penyanyi, penulis lagu, dan aktris paling berpengaruh dalam sejarah musik country.

Sepanjang kariernya yang membentang lebih dari enam dekade, Dolly menghasilkan lebih dari 3.000 lagu, menjual lebih dari 100 juta piringan hitam di seluruh dunia, dan meraih puluhan penghargaan termasuk Grammy Award. Namun di balik semua kemasyhuran itu, Dolly selalu mempertahankan kerendahan hatinya. Ia berulang kali menyatakan bahwa ia tak pernah melupakan akar budayanya.

"Saya berasal dari gunung kecil di Tennessee," tulisnya dalam otobiografinya yang pernah menggemparkan dunia. "Dan saya tidak pernah ingin menjadi orang lain selain diri saya sendiri."

Rindu yang Tak Terucapkan

Kembali ke lokasi penghormatan, seorang pria tua bernama Robert (72) berdiri di antara kerumunan dengan topi koboi yang sama persis dengan yang biasa dikenakan Dolly di atas panggung. Ia mengenang bagaimana lagu "I Will Always Love You" menjadi pengantar dalam momen-momen penting dalam hidupnya — dari pernikahan hingga pemakaman ayahnya.

"Lagu-lagunya selalu hadir di saat-saat yang paling sulit dan paling bahagia," kata Robert dengan suara bergetar. "Dolly bukan sekadar penyanyi. Ia seperti anggota keluarga yang tidak pernah bertemu langsung tapi selalu terasa kehadirannya."

Di sudut lain, sekelompok gadis muda yang seharusnya belum lahir di era keemasan Dolly justru hadir dengan gaun country dan gitar mainan di tangan mereka. Mereka adalah generasi baru yang mencintai musik Dolly setelah mendengar lagu-lagunya dari playlist orang tua mereka atau melalui film animasi yang menampilkan suaranya.

"Saya tumbuh mendengar '9 to 5' dari ibu saya setiap pagi," kata Maya (16) sambil tersenyum tipis. "Ia bilang lagu itu mengingatkan tentang kekuatan perempuan. Saya datang ke sini karena Dolly layak dihormati."

Warisan yang Tak akan Pudar

Di balik layar persiapan penghormatan, para sukarelawan bekerja tanpa henti selama berjam-jam. Mereka menyusun karangan bunga, mencetak foto-foto kenangan, dan menyiapkan layar besar untuk memproyeksikan video-video konser lawas Dolly yang kini menjadi kenangan tak ternilai.

Salah satu sukarelawan, Susan (58), tak bisa menahan air matanya saat menceritakan pengalaman pribadinya.

"Dolly pernah memberikan donasi besar untuk图书馆 di daerah kami yang miskin," kisahnya. "Ia tidak pernah mengumumkannya ke media. Ia hanya melakukannya karena memang ingin membantu. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan hatinya."

Dolly Parton memang dikenal luas sebagai sosok filantropis yang gemar menyumbangkan kekayaannya untuk kebaikan. Ia mendonasikan jutaan dolar untuk program literasi, kesehatan, dan pendidikan, terutama di wilayah asalnya di Tennessee. Tanpa sorotan publik, ia telah mengubah hidup ribuan orang dengan caranya yang sederhana namun mendalam.

Malam itu, saat lagu "Coat of Many Colors" mengalun lembut dari pengeras suara, seluruh hadirin berdiri dan menyanyikan lagu itu bersama-sama. Beberapa di antara mereka menangis. Beberapa tersenyum. Semua memahami bahwa mereka sedang mengucapkan selamat jalan kepada sebuah era — era di mana musik country bukan sekadar hiburan, melainkan pelukan hangat untuk jiwa yang lelah.

Dolly Parton pergi, tapi melodi yang ia wariskan akan terus hidup di setiap langkah orang yang pernah tersentuh oleh karyanya. Dan di depan panggung kecil itu, para penggemar berjanji untuk menjaga warisan itu tetap hidup — untuk generasi demi generasi yang belum sempat mengenalnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User