Krisis iklim global kian nyata mengubah pola hidup dan cara kerja masyarakat di Eropa. Di Portugal, para petani kini harus memutar otak demi menyiasati sengatan suhu udara yang kian membakar. Solusinya terbilang unik sekaligus penuh tantangan: memindahkan seluruh jadwal panen buah anggur ke tengah malam buta di bawah terpaan sinar bulan dan lampu penerang.
Pemandangan tak biasa ini terlihat jelas di perkebunan Herdade das Servas, sebuah lahan seluas 350 hektare yang berjarak sekitar 150 kilometer di sebelah timur Lisbon. Wilayah Alentejo, yang terkenal sebagai jantung produksi minuman anggur Portugal, menjadi salah satu kawasan paling terdampak oleh gelombang panas ekstrem musim panas ini.
"Saat malam hari, suhunya jauh lebih sejuk. Dengan bantuan lampu ini, kami justru bisa melihat tandan anggur dengan lebih jelas," tutur Maria Jeronima Mendes (70), pekerja perkebunan paling senior yang telah memetik anggur sejak usia 12 tahun.
Kronologi Adaptasi: Menghadapi Cuaca Ekstrem Eropa
Langkah pergeseran jam kerja ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui serangkaian proses penyesuaian yang didorong oleh data iklim yang kian mengkhawatirkan:
- Gelombang Panas Memuncak: Pemantau iklim Uni Eropa mencatat bahwa Eropa bagian barat mengalami musim panas terhangat sepanjang sejarah, di mana suhu global pada bulan Agustus memecahkan rekor terpanas.
- Uji Coba Panen Malam (2024): Pengelola perkebunan menguji panen di malam hari untuk mengukur ketahanan fisik pekerja serta efisiensi pemetikan buah.
- Penerapan Penuh (Tahun Ini): Setelah sukses dalam tahap pengujian, sistem panen malam diadopsi secara menyeluruh demi menyelamatkan sekitar 20 pekerja dari risiko sengatan panas ekstrem.
- Jadwal Panen Dimajukan: Akibat panas yang datang lebih cepat, masa panen di Alentejo terpaksa dimulai pada awal Agustus, yakni dua minggu lebih awal dari jadwal normal.
Menghindari Suhu Ekstrem 40 Derajat Celsius
Direktur Produksi Herdade das Servas, Renato Neves, menegaskan bahwa perubahan waktu kerja ini bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan keharusan mutlak. Pada siang hari, suhu di kawasan Alentejo kerap melonjak drastis hingga melampaui 40 derajat Celsius, kondisi yang sangat berbahaya bagi kesehatan para buruh tani dari Portugal, Rumania, hingga Asia Tenggara.
Sebaliknya, pada tengah malam, termometer menunjukkan angka sekitar 28 derajat Celsius. Kendati masih tergolong hangat, penurunan suhu lebih dari 12 derajat tersebut memberikan ruang bernapas yang jauh lebih manusiawi bagi para pemetik anggur.
"Panen malam hari telah menjadi kebutuhan mendesak untuk melindungi pekerja kami dari paparan suhu di atas 40 derajat," ujar Renato Neves.
Dampak Positif bagi Kualitas Minuman Anggur
Selain melindungi kesehatan para pekerja, metode panen malam ini ternyata memberikan keuntungan ganda bagi industri wine. Suhu buah yang lebih dingin saat dipetik mencegah terjadinya fermentasi dini dan menjaga kesegaran aroma alami anggur sebelum masuk ke ruang pemrosesan.
Transformasi serupa kini mulai marak diikuti oleh perkebunan lain di kawasan Mediterania selatan, termasuk Spanyol, Italia, dan Yunani, sebagai bukti nyata bagaimana sektor pertanian tradisional harus terus beradaptasi di tengah ancaman krisis iklim global.
Comments (0)