Ketegangan antara Ruben Onsu dan Sarwendah kembali mencuat seiring menyeruaknya polemik seputar renovasi rumah mewah yang dibiayai utang senilai lebih dari Rp10 miliar. Di tengah sengketa yang tak kunjung usai itu, muncul sebuah tudingan yang sangat personal: kubu Ruben disebut sengaja menyeret nama almarhum ayah Sarwendah ke dalam pusaran konflik. Namun, kini untuk pertama kalinya pihak Ruben angkat bicara, membantah keras spekulasi yang dinilai menyudutkan dan tidak berdasar itu.
Tudingan yang Menusuk Ingatan Duka
Selama beberapa pekan terakhir, isu ini bergulir liar di kalangan penggemar dan media. Disebut-sebut bahwa dalam diskusi penyelesaian utang, Ruben atau perwakilannya mengeluarkan pernyataan yang dianggap tidak menghormati kenangan mendiang ayah Sarwendah. Ketidakjelasan akan detail ucapan justru membuat asumsi publik kian tajam—banyak yang menilai langkah tersebut sebagai upaya menjatuhkan mental lawan bicara di tengah negosiasi yang alot. Bagi Sarwendah, yang masih menyimpan duka kehilangan sosok ayah, tudingan ini bukan sekadar persoalan harta, tetapi juga luka emosional yang kembali terbuka.
Bantahan Tegas: “Tidak Ada Niat Menyinggung”
Menjawab semua dugaan itu, kuasa hukum sekaligus juru bicara Ruben Onsu akhirnya memberikan klarifikasi. Mereka menegaskan bahwa tidak pernah ada rencana atau kesengajaan untuk membawa-bawa nama orang tua Sarwendah yang telah meninggal. “Kami sangat menyayangkan munculnya narasi seperti itu. Sama sekali tidak benar kalau kami sengaja menyinggung almarhum. Ini hanyalah kesalahpahaman yang dipelintir dan dibesar-besarkan oleh pihak-pihak yang ingin memperkeruh suasana,” ujar sang juru bicara dalam sebuah konferensi pers singkat.
Lebih lanjut, mereka menyatakan keheranannya mengapa isu personal itu tiba-tiba menjadi sorotan, padahal substansi pokok persengketaan adalah soal pelunasan utang dan status kepemilikan rumah pascaperpisahan. Pihak Ruben pun mengajak semua pihak untuk kembali fokus pada data dan fakta hukum, bukan pada rumor yang hanya menambah luka.
Utang Rp10 Miliar dan Renovasi Rumah Impian yang Buyar
Sengketa ini bermula dari proyek renovasi sebuah rumah mewah di kawasan elite Jakarta yang semula ditujukan sebagai hunian bersama. Renovasi besar-besaran tersebut—mencakup penambahan lantai, interior berstandar internasional, serta kolam renang pribadi—didanai oleh pinjaman pribadi yang dikucurkan oleh Sarwendah kepada Ruben Onsu. Total nilai pinjaman menembus lebih dari Rp10 miliar. Sayangnya, sebelum proses pembayaran lunas, hubungan mereka berakhir, meninggalkan setumpuk tagihan dan satu pertanyaan krusial: siapa yang bertanggung jawab melunasi sisa utang itu?
Sejak saat itu, negosiasi alot tak terhindarkan. Kedua kubu saling melontarkan argumen tentang besaran kewajiban dan hak atas aset. Dalam situasi penuh tekanan itulah, isu nama mendiang ayah Sarwendah diduga muncul, menambah bara emosi di tengah perundingan yang sudah panas.
Sisi Lain dan Harapan Penyelesaian Dingin
Sementara itu, sumber dari pihak Sarwendah sebelumnya sempat mengungkapkan kekecewaan mendalam. “Ini bukan lagi soal uang, melainkan soal rasa hormat. Membawa nama orang tua yang sudah tiada adalah batas yang tidak sepatutnya dilewati,” tutur sumber tersebut. Meski begitu, kubu Ruben tetap pada pendiriannya bahwa mereka tidak pernah berniat menyentuh ranah pribadi itu dan justru menuding ada pihak luar yang sengaja mengadu domba.
Di saat konflik ini terus bergulir, publik diharapkan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu sensitif yang belum jelas kebenarannya. Proses hukum dan mediasi kini tengah berjalan, dan kedua pihak sama-sama berharap ada titik temu yang menjaga martabat masing-masing. Terlepas dari benar atau tidaknya tudingan, yang pasti setiap kata yang dilontarkan di tengah sengketa meninggalkan bekas—terutama ketika berkaitan dengan kenangan akan sosok yang telah tiada.
Comments (0)