Oct 16, 2026
entertainment

Petra dan Suara yang Kini Sunyi: Kisah di Balik Seruan Boikot Konser Bocelli

Di bawah langit gurun yang mulai keemasan, tebing batu merah Petra pernah menjadi saksi bisu ribuan kisah peradaban. Namun malam ini, sebuah panggung yang direncanakan berdiri di antara kuil-kuil paha...

Petra dan Suara yang Kini Sunyi: Kisah di Balik Seruan Boikot Konser Bocelli

Di bawah langit gurun yang mulai keemasan, tebing batu merah Petra pernah menjadi saksi bisu ribuan kisah peradaban. Namun malam ini, sebuah panggung yang direncanakan berdiri di antara kuil-kuil pahatan kuno itu menyimpan cerita yang jauh lebih rumit daripada sekadar alunan tenor megah. Di balik kemegahan konser Andrea Bocelli yang sedianya digelar di salah satu keajaiban dunia itu, ada luka yang belum mengering dan suara-suara yang memilih untuk tidak hadir.

Ketika Panggung Bertemu Luka yang Belum Selesai

Kabar rencana konser sang penyanyi opera Italia di Petra bukan hanya soal musik. Bagi sebagian warga Yordania, kehadiran Bocelli di tanah mereka terasa seperti tamparan. Pasalnya, rekam jejak sang maestro yang pernah tampil di Israel dan menyuarakan dukungan bagi negara itu membuat banyak orang merasa tidak nyaman. Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) Yordania pun melayangkan seruan boikot, mengisahkan bahwa panggung di Petra tidak berdiri di ruang hampa—ia berdiri di atas duka yang masih hidup.

"Petra adalah wajah kami, wajah bangsa Arab. Kami tidak bisa membiarkan orang yang mendukung penindasan tampil di atas warisan leluhur kami," ujar seorang aktivis BDS Yordania dengan suara yang bergetar, seperti dikutip dari pernyataan resmi mereka. Kalimat itu bukan sekadar protes. Ia adalah jeritan pelan dari mereka yang setiap hari menonton berita dari Gaza dan Tepi Barat, lalu bertanya-tanya: mengapa dunia seolah lupa?

Bocelli sendiri dikenal luas sebagai penyanyi yang suaranya mampu membuat ruangan paling sunyi menangis. Lagu-lagu seperti Con te partirò dan Time to Say Goodbye telah menjadi latar bagi ribuan momen perpisahan dan pertemuan. Tapi kali ini, suaranya justru menjadi latar bagi perpecahan. Di satu sisi, ada penggemar yang menantikan malam ajaib di bawah bintang-bintang Petra. Di sisi lain, ada komunitas yang merasa malam itu seharusnya tidak pernah ada.

Di Balik Layar: Pilihan yang Tidak Pernah Mudah

Mengisahkan perjalanan Bocelli, ia bukan sosok yang lahir dari kemewahan. Ia buta sejak kecil, tumbuh dari keluarga sederhana di Tuscany, dan berjuang keras menembus dunia opera yang penuh persaingan. Kisah hidupnya telah menjadi inspirasi bagi jutaan orang. Namun dalam politik identitas dan solidaritas Timur Tengah, kisah personal itu tidak selalu cukup.

"Kami tidak membenci musiknya. Kami hanya tidak bisa menutup mata. Setiap tiket yang terjual adalah pesan bahwa dukungan pada penindasan masih bisa dibeli dengan keindahan," kata seorang mahasiswa di Amman yang enggan disebut namanya.

Seruan boikot ini bukan yang pertama. Beberapa tahun terakhir, sejumlah artis internasional menghadapi tekanan serupa ketika hendak tampil di kawasan Arab. Ada yang memilih membatalkan, ada yang bertahan dengan alasan seni tidak boleh dicampur politik. Namun bagi warga Yordania, isu ini bukan soal politik dingin. Ini soal air mata seorang ibu di Gaza yang tidak bisa lagi menidurkan anaknya dengan nyanyian, sementara di Petra, seseorang bersiap menyanyikan lagu cinta.

Mimpi yang Terbelah Dua

Di sudut sebuah kafe kecil di Amman, seorang pemuda bernama Rami masih menyimpan tiket konser itu di dompetnya. Ia mengaku bimbang. "Saya tumbuh besar dengan suara Bocelli. Ayah saya selalu memutarnya setiap malam Jumat. Tapi sekarang, setiap kali mendengarnya, saya merasa ada yang salah," katanya pelan, matanya menatap cangkir kopi yang mulai dingin.

Kisah Rami adalah cermin dari banyak orang: pecinta musik yang tiba-tiba harus memilih antara kenangan indah dan kesadaran politik. Boikot ini tidak hanya menyasar satu penyanyi. Ia menyentuh cara orang memaknai seni, loyalitas, dan solidaritas. Bagi sebagian orang, musik adalah pelarian. Tapi bagi yang lain, diam adalah pengkhianatan.

Hingga kini, belum ada kepastian apakah konser di Petra akan tetap berjalan atau batal. Namun apa pun keputusannya, satu hal yang jelas: kisah ini telah menjadi pengingat bahwa panggung paling megah sekalipun tidak bisa menutupi realitas yang pahit. Di balik setiap tepuk tangan, selalu ada suara yang memilih untuk tidak bertepuk tangan. Dan di Petra, di antara batu-batu berusia ribuan tahun, suara itu kini bergema lebih keras dari apa pun.

Malam mungkin tetap gelap, dan bintang-bintang tetap bersinar. Tapi kali ini, tidak semua orang ingin menatapnya dengan senyum. Ada yang memilih menunduk, berdoa, dan berharap dunia mendengar bisikan mereka—sebelum musik mulai diputar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User