Di sebuah ruang sidang pers yang lampunya temaram, suasana Busan International Film Festival ke-31 mendadak berubah hening. Para jurnalis yang semula sibuk mengetik di laptop masing-masing mengangkat wajah. Di depan mereka, deretan kursi dewan juri perlahan terisi. Ada yang menyandarkan punggung, ada yang menunduk, seolah menimbang setiap kata yang akan keluar dari mulut mereka. Malam itu bukan sekadar konferensi pers biasa. Malam itu, sembilan orang yang dipercaya menilai karya terbaik festival film paling bergengsi di Asia itu harus menjawab satu pertanyaan yang menggantung: mengapa mereka tetap meloloskan The Assassin(s)?
Film itu telah memicu gelombang perdebatan sejak pemutaran perdananya. Sebagian penonton meninggalkan kursi dengan rahang mengeras. Sebagian lain justru terdiam, terpaku oleh adegan-adegan yang mereka sebut terlalu jauh menggali luka. Di media sosial, tagar tentang film tersebut bergulir cepat, bercampur kemarahan, kebingungan, dan rasa ingin tahu. Namun di tengah riak yang tak kunjung reda, dewan juri memilih berdiri di garda depan. Mereka tidak menghindar. Mereka justru turun gunung.
Membela Karya yang Dihujat
“Kami tidak sedang membela kekerasan. Kami membela keberanian,” ujar salah satu juri dengan suara berat, matanya menatap lurus ke arah kerumunan. Kalimat itu meluncur tenang, tetapi menggema di seluruh ruangan. Ia mengisahkan bagaimana tim penilai menghabiskan berjam-jam berdebat, bahkan hingga dini hari, untuk memastikan keputusan mereka bukan sekadar gebrakan sensasional. Ada air mata di ruang rapat itu, ada perbedaan pendapat yang tajam, dan ada keyakinan yang akhirnya bulat: film ini menyimpan sesuatu yang jarang ditemukan.
Bagi dewan juri, The Assassin(s) bukanlah provokasi tanpa arah. Mereka melihatnya sebagai potret perjalanan manusia yang berjuang menghadapi bayang-bayangnya sendiri. Adegan-adegan yang dianggap kontroversial, kata mereka, adalah bahasa sinematik untuk menyentuh sisi gelap yang sering disembunyikan masyarakat. “Seorang pembunuh dalam film ini bukan sekadar pembunuh. Ia adalah cermin,” ujar juri lain, yang sempat terdiam panjang sebelum berbicara. “Kita semua punya sisi yang tidak ingin kita akui. Film ini memaksa kita menatapnya.”
Ketika Kritik Menjadi Cermin
Di sudut ruangan, seorang kritikus film yang sejak awal menentang keputusan itu menggeleng pelan. Ia menilai festival seharusnya lebih hati-hati dalam memberi panggung pada karya yang berpotensi melukai penonton. Namun dewan juri tidak bergeming. Mereka justru mengajak publik untuk melihat lebih dalam, melampaui permukaan. “Kritik itu sehat. Kami mendengarkannya,” ujar seorang juri perempuan dengan suara lembut namun tegas. “Tetapi kami juga tidak bisa menutup mata pada keberanian seorang sineas yang mau mengambil risiko.”
Keputusan dewan juri ini bukan tanpa harga. Sejumlah pihak menyerukan boikot, sementara yang lain mempertanyakan integritas festival. Di balik layar, suasana di ruang panitia sempat memanas. Ada yang khawatir nama besar BIFF akan tercoreng. Namun ada pula yang justru bangga, karena festival ini kembali membuktikan diri sebagai ruang di mana perdebatan tidak disembunyikan, melainkan dihadapi.
Mimpi yang Tetap Berjalan
Menjelang akhir konferensi pers, seorang juri menutup dengan cerita sederhana. Ia bercerita tentang seorang penonton muda yang datang ke Busan dari kota kecil, menabung berbulan-bulan hanya untuk menonton film-film yang jarang diputar di bioskop daerahnya. “Anak itu bilang, film ini membuatnya marah, tapi juga membuatnya berpikir. Itulah yang kami inginkan,” ujarnya. “Bukan kenyamanan, tapi kesadaran.”
Malam semakin larut. Lampu ruangan mulai diredam. Satu per satu dewan juri meninggalkan kursi mereka, disambut bisik-bisik dan sorotan kamera. Di luar gedung, angin laut Busan berembus dingin, membawa aroma garam dan cerita yang belum selesai. Kontroversi The Assassin(s) mungkin akan terus bergulir. Namun bagi mereka yang duduk di barisan juri, malam itu adalah momen mengharukan tentang keberanian, tentang mimpi yang tetap berjalan meski diterpa badai kritik. Dan bagi festival yang telah berjalan lebih dari tiga dekade, mungkin itulah warisan sesungguhnya: ruang bagi kisah-kisah yang berani menyentuh, bahkan ketika tangan kita gemetar untuk menerimanya.
Comments (0)