Oct 16, 2026
entertainment

GBK Senayan Bergemuruh: Kisah di Balik Panggung 10 Oktober

Langit Jakarta sore itu berwarna jingga keemasan ketika ribuan orang mulai berjalan menuju kawasan Senayan. Bukan hanya karena gemerlap lampu stadion, tetapi karena ada sesuatu yang lebih besar dari s...

GBK Senayan Bergemuruh: Kisah di Balik Panggung 10 Oktober

Langit Jakarta sore itu berwarna jingga keemasan ketika ribuan orang mulai berjalan menuju kawasan Senayan. Bukan hanya karena gemerlap lampu stadion, tetapi karena ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar pertunjukan: kerinduan akan kebersamaan. Di sudut halte TransJakarta, seorang perempuan berusia paruh baya tampak menggandeng putrinya, mengenakan kaus putih bertuliskan nama penyanyi favorit mereka. "Ini kali pertama saya datang ke konser sejak pandemi," ujarnya lirih, mata berkaca-kaca. "Saya ingin merasakan lagi bagaimana ribuan suara menyatu jadi satu."

Pada 10 Oktober 2026, kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Senayan menjadi rumah bagi lebih dari satu perhelatan musik besar yang digelar serentak. Ada Festival Teman yang menampilkan Tulus sebagai penampil utama, hingga panggung The Changcuters yang selalu menghadirkan euforia rock and roll. Dua dunia berbeda, satu kawasan, satu malam yang mengharukan.

Suara Tulus dan Air Mata yang Tak Terbendung

Di sisi barat GBK, panggung Festival Teman mulai dinyalakan pukul tujuh malam. Ketika lampu dimmer dan sosok Tulus melangkah ke tengah panggung, stadion yang dipenuhi puluhan ribu penonton sontak hening. Ia membuka dengan lagu-lagu melankolis yang selama bertahun-tahun menemani perjalanan banyak orang. Ada yang menangis, ada yang memeluk pasangan, dan ada yang hanya menatap kosong ke arah langit.

"Musik itu bukan tentang siapa yang paling keras suaranya, tapi tentang siapa yang paling tulus hatinya," kata Tulus di sela penampilannya, disambut tepuk tangan panjang.

Momen paling mengharukan terjadi ketika ia membawakan sebuah lagu tentang kehilangan. Seorang pria di barisan tengah tampak menutup wajah dengan kedua tangan. Temannya di samping memeluknya. Di layar besar, terlihat tangis dan senyum bercampur menjadi satu. "Saya datang sendiri, tapi di sini saya merasa ditemani," ujar Dimas, penonton asal Bekasi, saat ditemui usai pertunjukan. "Lagu-lagu Tulus itu seperti teman lama yang tahu isi kepala saya."

The Changcuters dan Euforia yang Tak Pernah Padam

Beberapa ratus meter di sisi timur, suasana berbeda menyengat. Di panggung The Changcuters, dentuman gitar dan sorakan penonton seolah membelah langit Senayan. Sepatu kanvas, jaket kulit, dan rambut yang terurai menjadi pemandangan khas. Lagu-lagu bertempo cepat membuat seluruh area bergoyang serentak.

Di balik gemerlap panggung, ada cerita sederhana. Seorang pedagang air mineral berusia 60 tahun, Pak Slamet, mengaku sudah berjualan di kawasan GBK sejak era 1990-an. "Dulu saya jualan di konser lawas, sekarang masih di sini," katanya sambil tersenyum. "Yang berubah cuma lagunya, tapi semangat orang-orang muda tetap sama."

Bagi banyak penonton, kehadiran The Changcuters bukan hanya soal nostalgia. Ini tentang merayakan masa muda yang tak pernah benar-benar pergi. "Saya sudah lima kali nonton mereka, dan selalu merasa pulang ke rumah," ungkap Rina, seorang karyawan swasta yang datang bersama tiga sahabatnya sejak SMA.

Senayan, Panggung Rakyat yang Selalu Hidup

Malam itu, kawasan GBK bukan sekadar lokasi konser. Ia menjadi ruang pertemuan bagi ribuan kisah yang tak sempat terdokumentasi. Ada yang datang untuk melupakan masalah, ada yang datang untuk merayakan cinta, dan ada pula yang sekadar ingin mendengar suara yang selama ini hanya hadir lewat pengeras suara kamar.

Petugas kebersihan, pedagang asongan, hingga pengemudi ojek daring turut menjadi saksi bagaimana Senayan kembali hidup setelah sekian lama dilanda kerinduan akan keramaian. "Ini yang saya tunggu-tunggu," ujar Ibu Yanti, seorang penjual makanan ringan. "Sepi itu menyiksa, tapi malam ini saya bisa tersenyum lagi."

Ketika pukul sebelas malam tiba, lampu stadion mulai meredup. Penonton berjalan perlahan menuju pintu keluar, sebagian masih menyanyikan penggalan lirik. Di bawah lampu jalan, seorang anak kecil menggenggam tangan ayahnya sambil berkata, "Besok kita ke sini lagi, yah?" Ayahnya tertawa sendu. "Iya, sayang. Kalau ada konser lagi."

Malam 10 Oktober itu meninggalkan lebih dari sekadar daftar penampil. Ia meninggalkan cerita tentang bagaimana musik mampu menyatukan yang berbeda, menghibur yang lelah, dan membuat Senayan kembali menjadi rumah bagi siapa pun yang ingin pulang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User